MAKLUMAT — Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Zuly Qodir MAg, menyebut adanya korupsi material dalam proyek-proyek konstruksi di tanah air sebagai penyebab utama buruknya kualitas infrastruktur di Indonesia.
Sorotan tersebut ia sampaikan dalam acara Sumpah Profesi Insinyur UMY, yang dilaksanakan secara hybrid di Kampus Terpadu UMY pada Sabtu (16/3/2026).
Zuly lantas mencontohkan pada landmark ikonik peninggalan Romawi seperti Colosseum di Roma ataupun Amphitheater serupa di Tunisia dan Turki, yang menurutnya bisa menjadi tolok ukur kualitas kontruksi.
Menurutnya, bangunan-bangunan bersejarah tersebut berdiri kokoh dan mampu bertahan melintas zaman selama ratusan tahun, tanpa tanda-tanda keruntuhan yang berarti.
Hal itu, kata dia, kontras dengan bagaimana kondisi infrastruktur di Indonesia, yang menurutnya cukup mudah mengalami kerusakan meskipun terbilang baru selesai dibangun.
“Kita sekarang melihat beberapa bangunan yang ada di Indonesia dibangun hari ini, dua minggu kemudian sudah bermasalah. Itu bangunan yang perlu dibangun dengan artistik dan tentu saja dibangun tanpa korupsi bahan-bahannya,” sorot Zuly, dikutip dari laman resmi UMY pada Ahad (17/5/2026).
Pemotongan Material: Infrastruktur Cepat Rusak
Lebih jauh, Zuly mencontohkan pada kasus jembatan layang di Ambon, yang belum rampung dibangun namun sudah tidak bisa menyambung.
Ia menduga persoalan tersebut bukan berasal dari kesalahan teknis sang insinyur, melainkan akibat pemotongan anggaran dan pengurangan kualitas material di lapangan.
Menurut dia, praktik tersebut sudah menjadi persoalan sistemik dalam dunia konstruksi di Indonesia.
Kasus semacam itulah yang menurut dia, mencerminan absennya integritas dalam rantai pengerjaan proyek, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.
Puluhan Insinyur Baru UMY Dikukuhkan
Lebih lanjut, dalam kesempatan itu Zuly juga mengingatkan para insinyur maupun pekerja konstruksi agar memiliki pengingat simbolis agar seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan senantiasa berhati-hati dan sadar akan risiko keselamatan kerja.
Baginya, kecelakaan di lokasi konstruksi bukan semata soal nasib, melainkan konsekuensi dari kelengahan yang seharusnya bisa dicegah.
Sekadar informasi, sebanyak 64 insinyur baru resmi menyandang gelar Insinyur (Ir.) setelah mengucapkan sumpah profesi di UMY. Sebanyak 55 peserta hadir secara langsung dan 9 peserta lainnya mengikuti secara daring.
Prosesi sumpah dipimpin langsung oleh Zuly Qodir yang merupakan Wakil Rektor UMY, didampingi rohaniawan sesuai kepercayaan masing-masing peserta. Sementara itu, penyerahan dokumen kelulusan secara simbolis dilakukan dari pihak UMY kepada Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Daerah Istimewa Yogyakarta, menandai pengakuan resmi atas status profesional para insinyur baru tersebut.
Para insinyur di angkatan ini sekaligus menjadi batch pertama Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) UMY yang dikukuhkan sejak program tersebut meraih akreditasi Unggul.
Zuly menegaskan bahwa status akreditasi Unggul tersebut memperbesar tanggung jawab para lulusan. Bukan sekadar menambah nilai institusional bagi kampus.











