Angka Zero-Dose di Indonesia Masih Tinggi, Penguatan Imunisasi Jadi Kunci

Menekan angka Zero-Dose dan mendorong penguatan imunisasi untuk mencegah penyakit-penyakit berbahaya. (Ilustrasi diolah menggunakan Gemini)

MAKLUMAT — Dosen Kedokteran Anak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr dr HM Bambang Edi Susyanto SpA MKes, menyoroti data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menunjukkan masih cukup banyaknya jumlah anak yang belum memperoleh imunisasi dasar.

Berdasarkan data Kemenkes tahun 2025, sekitar 2,3 juta anak tercatat belum memperoleh imunisasi, sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah anak zero-dose tertinggi di dunia—peringkat keenam.

Istilah zero-dose sendiri mengacu pada anak-anak yang belum pernah menerima satu pun dosis vaksin dasar rutin sejak lahir. Umumnya, indikator utama anak disebut zero-dose adalah jika mereka belum mendapatkan vaksinasi DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe B) dosis pertama.

dr Bambang menjelaskan bahwa peringkat zero-dose tersebut merupakan data proyeksi yang dihitung berdasarkan tren dari tahun ke tahun, bukan hasil pendataan riil secara langsung. Meski demikian, tingginya jumlah anak yang belum memperoleh imunisasi tetap menjadi perhatian karena menunjukkan masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan perlindungan kesehatan secara optimal.

Menurut dia, kondisi tersebut bakal berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit infeksi yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.

Baca Juga  Berbuka Jangan Berlebihan: Picu Maag hingga Diabetes

“Indonesia berada pada peringkat keenam dunia dalam jumlah anak zero-dose. Yang dimaksud anak zero-dose adalah anak yang hingga usia sekitar satu tahun belum memperoleh imunisasi sesuai dengan usianya. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan karena dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang anak,” ujarnya, dikutip laman resmi UMY pada Ahad (7/6/2026).

Dosen Kedokteran Anak UMY, Dr dr HM Bambang Edi Susyanto SpA MKes. (Foto: UMY)
Dosen Kedokteran Anak UMY, Dr dr HM Bambang Edi Susyanto SpA MKes. (Foto: UMY)

Imunisasi, kata dr Bambang, merupakan salah satu intervensi kesehatan yang efektif dalam mencegah berbagai penyakit menular berbahaya. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi memiliki risiko lebih tinggi terpapar penyakit infeksi yang dapat menimbulkan komplikasi serius.

“Banyak penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun, ketika banyak anak yang terlewat imunisasinya, risikonya menjadi sangat besar,” tegasnya.

“Misalnya imunisasi BCG yang bertujuan mencegah tuberkulosis berat, serta imunisasi DPT untuk mencegah difteri, pertusis, dan tetanus. Penyakit-penyakit tersebut bukan penyakit ringan karena dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa,” sambung dr Bambang.

Ia menambahkan, selain memberikan perlindungan kesehatan, imunisasi juga dinilai efisien dari sisi pembiayaan. Dengan biaya yang relatif rendah, manfaat yang diperoleh masyarakat dinilai sangat besar.

Baca Juga  Kasus Covid-19 Meningkat di Sejumlah Negara, Ini Kata Pakar Kesehatan

“Imunisasi dikenal sebagai upaya kesehatan yang sangat cost-effective. Artinya, biaya yang dikeluarkan relatif kecil, tetapi manfaat yang diperoleh sangat besar. Karena itu, imunisasi tetap menjadi salah satu investasi kesehatan terbaik untuk menjaga kualitas hidup anak-anak Indonesia,” tandasnya.

Sebab itu, dr Bambang berharap para orang tua tidak menunda pemberian imunisasi kepada anak. Menurutnya, peningkatan cakupan imunisasi menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya kembali penyakit yang selama ini telah berhasil dikendalikan.

“Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin kuat perlindungan yang terbentuk di masyarakat. Karena itu, kesadaran orang tua untuk melengkapi imunisasi anak menjadi sangat penting dalam menjaga kesehatan generasi mendatang,” pungkas dr Bambang.