MAKLUMAT – Pemerintah diminta tidak lagi bersembunyi di balik narasi konflik Timur Tengah maupun ketidakpastian global untuk menutupi tekanan berat yang sedang menghantam ekonomi nasional akibat anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo melontarkan kritik keras kepada pemerintah. Ia menekankan pelemahan Rupiah yang kini bergerak menembus angka Rp18.134 hingga Rp18.200 per Dolar AS bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan sektor industri.
“Janganlah kita mengambil alasan konflik sana, enggak usah. Kita lihat realitas sekarang, dolar kita sudah Rp18.000 sekian. Kalau dolar sudah naik, sudah pasti sektor industri kena,” tegas politikus Partai NasDem tersebut.
Yoyok memaparkan kenaikan kurs ini telah memicu lonjakan biaya impor bahan baku serta meningkatnya harga pokok produksi di saat daya beli masyarakat terus merosot. Ia mencatat, dampak sistemik ini bahkan telah memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 23.000 buruh sejak Januari 2026.
Menghadapi krisis ini, Yoyok menuntut langkah konkret dari pemerintah. Ia mendorong diversifikasi mata uang dalam transaksi perdagangan internasional, misalnya dengan memanfaatkan Yuan (RMB).
“Kalau memang dolar menghajar kita, tinggalkan. Kita masih bisa pakai RMB, masih bisa pakai Yuan. Kita negara besar, kenapa harus takut?” tandasnya.
Selain itu, ia mendesak Kementerian Perindustrian untuk mewajibkan penggunaan bahan baku lokal bagi seluruh sektor industri guna mengurangi ketergantungan pada impor. Pemerintah juga diminta mengawasi ketat importir agar tidak ada pihak yang memanfaatkan momentum krisis untuk meraup keuntungan pribadi.
Kritik Yoyok Riyo menyoroti kegagalan pemerintah dalam melakukan mitigasi ekonomi domestik yang terlalu bergantung pada mata uang tunggal. Sikap “bawaan” pemerintah yang cenderung menyalahkan faktor eksternal menunjukkan minimnya inovasi kebijakan dalam memperkuat basis produksi dalam negeri.
Tanpa keberanian untuk melakukan substitusi impor secara masif dan diversifikasi mitra dagang, tekanan terhadap rupiah akan terus memicu efek domino berupa PHK massal yang mengancam stabilitas sosial di tengah tahun 2026.














