Kasus Influenza A Meningkat, DPR Minta Pemerintah Perkuat Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Influenza A

MAKLUMAT — Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kenaikan kasus Influenza A di Indonesia yang mulai terlihat pada awal September 2026, meski Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut situasinya masih berada pada level rendah dan terkendali. Dalam keterangan persnya, dikutip Jumat (18/9/2026), Puan meminta pemerintah memberikan penjelasan yang komprehensif kepada publik, terlebih setelah muncul laporan soal padatnya instalasi gawat darurat (IGD) di sejumlah rumah sakit akibat lonjakan kasus tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membenarkan adanya kenaikan kasus dalam beberapa waktu terakhir, namun menegaskan kondisi ini bersifat musiman dan masih dapat dikendalikan. Fenomena ini turut memicu keluhan di media sosial, di mana banyak orang tua melaporkan anaknya mengalami demam tinggi sehingga membuat IGD di beberapa daerah — termasuk Bandung dan Surabaya — dipenuhi pasien anak yang kesulitan mendapat layanan.

Data surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) milik Kemenkes menunjukkan bahwa secara nasional, aktivitas influenza pada pekan ke-34 (hingga 5 September 2026) masih berada di level rendah.

Desakan Sosialisasi dan Penguatan Fasilitas Kesehatan

Puan mendorong pemerintah meningkatkan edukasi publik agar tidak menimbulkan keresahan, sekaligus memastikan masyarakat mendapat informasi yang dapat dipercaya mengenai tingkat penyebaran virus, kelompok berisiko, dan langkah yang perlu diambil bila ada anggota keluarga yang bergejala. Ia juga meminta penguatan infrastruktur kesehatan, terutama di wilayah dengan tingkat penyebaran tinggi, serta memastikan ketersediaan layanan IGD dan obat-obatan.

Baca Juga  Lemahnya Sistem Kegawatdaruratan, Pemerintah hingga BPJS Diminta Perbaiki Tata Kelola

Anak usia dini disebut sebagai kelompok yang paling rentan terdampak pada kenaikan kasus kali ini, sehingga menurut Puan layanan perawatan kesehatan anak di rumah sakit perlu mendapat perhatian ekstra. Ia turut menekankan pentingnya akses kesehatan yang merata, tanpa dibedakan oleh kemampuan ekonomi keluarga, serta meminta Kemenkes memimpin penyampaian informasi resmi yang konsisten dari pusat maupun daerah agar masyarakat tidak bergantung pada kabar yang belum terverifikasi.

Sebagai catatan, Influenza A dikenal mudah menular dengan gejala yang cenderung lebih berat dibanding flu biasa, seperti demam tinggi yang sulit turun, batuk kering, lemas, hingga nyeri badan. Meski demikian, Menkes memastikan strain yang beredar saat ini bukan jenis yang berbahaya. Puan mengimbau masyarakat kembali disiplin menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker di luar rumah, rajin mencuci tangan, dan menjaga asupan gizi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila kondisi memburuk — terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Waspada Gejala pada Bayi dan Balita

Laman Kemenkes mengingatkan bahwa gejala influenza pada bayi dan balita perlu dikenali sejak dini, meliputi demam tinggi yang muncul tiba-tiba, batuk kering, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, badan lemas, nyeri otot dan sendi, hingga (meski lebih jarang) muntah dan diare.

Baca Juga  Puan Nilai Anies Menarik untuk Diusung di Pilkada Jakarta

Untuk menegakkan diagnosis, dokter umumnya akan menelusuri riwayat gejala, melakukan pemeriksaan fisik seperti memeriksa suara napas, dan bila diperlukan mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan untuk diperiksa di laboratorium.

Penanganan pada bayi dan balita biasanya mencakup istirahat yang cukup, pemantauan suhu tubuh dengan obat penurun demam sesuai dosis anak, pemberian obat antiviral seperti oseltamivir (Tamiflu) — yang efektif menekan keparahan dan durasi gejala bila diberikan dalam 48 jam pertama — serta memastikan anak tetap terhidrasi lewat ASI, susu formula, atau air.

Sebagai langkah pencegahan, orang tua diimbau memberikan vaksin flu tahunan, menghindarkan anak dari area dengan wabah flu, membiasakan cuci tangan dengan sabun, serta mencegah anak menyentuh wajah untuk mengurangi risiko virus masuk lewat mata, hidung, atau mulut.

Bila tidak ditangani dengan baik, influenza pada bayi dan balita berpotensi memicu komplikasi serius seperti pneumonia, bronkiolitis, radang otot (miositis), radang otak (ensefalitis), hingga komplikasi jantung — sehingga kewaspadaan orang tua dan kesiapan fasilitas kesehatan sama-sama menjadi kunci menghadapi musim flu yang akan datang.***