MAKLUMAT — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil mengenang sosok Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh pemikir yang jejak intelektualnya tetap relevan di tengah dominasi figur politik pada era pascareformasi.
Hal itu ia sampaikan dalam puncak rangkaian Malam Budaya Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM) yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada Kamis (18/6/2026). Agenda ini digelar oleh Maarif Institute yang berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Menurut Gus Ulil, keberadaan tokoh dengan latar belakang pemikiran semakin jarang mendapat perhatian publik. Ia menilai ruang publik saat ini lebih banyak diisi oleh politisi maupun figur populer, sementara pemikir yang menawarkan gagasan untuk kehidupan berbangsa justru semakin tenggelam.
“Saya sungguh gembira sekali Maarif Institute mengingatkan publik bahwa yang layak menjadi tokoh dalam masyarakat bukan sekadar influencer, YouTuber, atau politisi,” ujarnya.
Ulil menjelaskan, pada masa Orde Baru terdapat dua kelompok tokoh yang menonjol, yakni kalangan militer yang berada di lingkar pemerintahan dan kelompok intelektual serta aktivis yang berada di luar pemerintahan.
Namun, setelah reformasi, tokoh yang dikenal karena pemikiran dan gagasannya semakin jarang muncul ke permukaan. “Saya secara genuine (tulus) menyatakan kegembiraan saya bahwa Maarif Institute merawat memori tokoh itu,” imbuhnya.
Gus Ulil pertamak kali mengenal nama Buya Syafii ketika ia masih menjadi santri Madrasah Aliyah di sebuah pesantren tradisional NU di Pati, Jawa Tengah.
Saat berusia sekitar 16 hingga 17 tahun, Gus Ulil membaca disertasi Buya Syafii berjudul Islam dan Masalah Kenegaraan yang membahas perdebatan negara Islam dalam Konstituante 1955.
“Disertasi itu saya baca sampai khatam ketika itu. Saya belum sepenuhnya paham, tetapi saya mengerti gagasan pokoknya bahwa konsep negara Islam sudah tidak lagi relevan dalam Indonesia modern. Itu pesan yang saya tangkap dari buku itu,” katanya.
Setelah mengenal pemikiran Buya Syafii melalui karya tulisnya, Gus Ulil kemudian beberapa kali bertemu langsung dengan tokoh Muhammadiyah tersebut di Yogyakarta. Ia mendatangi Masjid Nogotirto, tempat Buya Syafii biasa menerima tamu selepas salat magrib hingga menjelang isya.
Dalam salah satu kesempatan, Ulil mengantar Mustofa Bisri atau Gus Mus untuk bertemu Buya Syafii. Pertemuan itu menjadi simbol kedekatan dua tokoh dari latar organisasi yang berbeda. Foto kebersamaan mereka sempat menjadi perhatian publik dan menunjukkan hubungan hangat antara tokoh NU dan Muhammadiyah.
“Orang NU yang sudah tetap di ilmunya maka akan menjadi Muhammadiyah. Sebaliknya, orang Muhammadiyah yang makin tinggi ilmunya akan menjadi NU,” ujar Gus Ulil mengulang perkataan Gus Mus ketika mengenang Buya Syafii.
Bagi Gus Ulil, pernyataan itu menggambarkan bahwa perbedaan organisasi akan menemukan titik temu ketika seseorang mencapai kedewasaan dalam ilmu dan cara pandang. Ia menilai Buya Syafii merupakan contoh tokoh yang mampu melampaui batas-batas identitas kelompok sehingga diterima oleh banyak kalangan.
Hal itu, menurut dia, terlihat saat Buya Syafii wafat. Gus Ulil menceritakan bahwa banyak anggota Fatayat dan Muslimat NU datang ke makam Buya Syafii untuk mendoakan dan menggelar tahlil. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Buya Syafii tidak hanya dipandang sebagai tokoh Muhammadiyah, tetapi juga dihormati oleh beragam elemen bangsa.
“Ketika beliau wafat, rombongan Fatayat, Muslimat bertruk-truk, datang ke makamnya Buya Syafii Maarif dan tahlil di sana. Itu baru sekali itu ada tokoh Muhammadiyah ditahlili oleh aktivis-aktivis NU,” jelasnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













