Pertemuan AS-Iran di Swiss Tertunda, Israel Lakukan Serangan Udara ke Lebanon Tewaskan 47 Orang

Infografik rencana AS-Iran tertunda. (Foto: AI)

MAKLUMAT — Pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran yang sedianya digelar di Swiss, Jumat (19/6/2026), sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik Timur Tengah ditunda. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kedua pihak kemungkinan baru akan bertemu dalam beberapa hari mendatang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan penundaan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon akibat serangan militer Israel yang terus berlanjut.

Pada hari yang sama, Israel melancarkan serangan udara dan bombardir di berbagai wilayah Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya 47 orang dan melukai 97 lainnya sejak Jumat tengah malam, menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon seperti dikutip Al Jazeera. Di antara korban tewas terdapat sedikitnya tujuh perempuan dan dua anak-anak.

Baghaei mengecam keras serangan terbaru Israel dan memperingatkan bahwa “peperangan berkelanjutan” yang dilakukan Tel Aviv akan menimbulkan konsekuensi serius dan langsung bagi kawasan.

Di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mediasi, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir memicu kontroversi setelah menyerukan tindakan lebih keras terhadap Lebanon menyusul tewasnya empat tentara Israel dalam pertempuran dengan Hizbullah.

Baca Juga  Soroti Kehancuran di Gaza Akibat Agresi dan Ketidakberdayaan PBB, SBY Tuangkan Lewat Lukisan

“Dengan segala hormat kepada Amerika, Israel harus memperjelas kepada seluruh dunia bahwa darah putra-putra kami dan keamanan warga negara kami tidak dapat ditawar. Seluruh Lebanon harus terbakar,” kata Ben Gvir seperti dikutip Arab News.

Pernyataan tersebut mendapat kecaman dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia menilai pernyataan Ben Gvir menunjukkan bahwa kepentingan utama Israel adalah mempertahankan konflik berkepanjangan di kawasan.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan memberikan “harga yang sangat mahal” kepada Hizbullah atas serangan yang menewaskan empat tentaranya.

Gencatan Senjata Diumumkan

Di tengah meningkatnya kekerasan, Israel dan Hizbullah dilaporkan sepakat memperbarui gencatan senjata yang mulai berlaku pukul 16.00 waktu setempat pada Jumat. Kesepakatan tersebut dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior Amerika Serikat, pejabat Israel, dan dua sumber Hizbullah kepada Reuters.

“Jika Hizbullah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukan masa perang,” ujar seorang pejabat Israel.

Meski demikian, pasukan Israel disebut tetap bertahan di wilayah Lebanon selatan. Tidak lama setelah gencatan senjata diumumkan, sejumlah serangan masih dilaporkan terjadi di wilayah perbatasan.

Seorang pejabat senior AS mengatakan gencatan senjata tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat dan Qatar dengan dukungan Iran. Kesepakatan AS-Iran sebelumnya mengharuskan penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh kawasan konflik, termasuk Lebanon.

Baca Juga  Prancis Sebut Bakal Akui Negara Palestina di Sidang Majelis Umum PBB September Mendatang

Namun eskalasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dinilai mengancam implementasi kesepakatan tersebut. Anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah mengatakan Iran telah memberi tahu kelompok itu bahwa pembicaraan dengan Washington tidak dapat dilanjutkan tanpa adanya gencatan senjata yang menyeluruh.

Lebanon Kecam Eskalasi

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk perluasan serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa. Menurutnya, serangan tersebut menewaskan banyak warga sipil dan menghambat upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian.

“Apa yang kita saksikan hari ini merupakan eskalasi yang berbahaya dan terkutuk. Namun hal ini tidak akan menghalangi upaya untuk mencapai gencatan senjata komprehensif secepat mungkin,” kata Aoun.

Sementara itu, Hizbullah mengklaim berhasil menghancurkan tiga tank Merkava Israel dalam pertempuran di kawasan strategis Ali Al-Taher di Lebanon selatan. Kelompok tersebut juga menyebut bentrokan masih berlangsung meski gencatan senjata telah diumumkan.

Sejak konflik terbaru pecah pada 2 Maret, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 3.912 orang tewas akibat serangan Israel, termasuk perempuan, anak-anak, dan tenaga medis. Di pihak Israel, sedikitnya 32 tentara dan empat warga sipil dilaporkan tewas dalam konflik dengan Hizbullah.

Baca Juga  Ketua BKSAP Minta Israel Diusir dari PBB dan Dikucilkan dari Dunia Internasional

Penundaan pertemuan AS-Iran di Swiss menunjukkan rapuhnya proses perdamaian yang baru saja dibangun kedua negara. Meningkatnya kekerasan di Lebanon dikhawatirkan dapat menghambat implementasi kesepakatan yang sebelumnya diharapkan menjadi langkah penting menuju stabilitas kawasan Timur Tengah.***