MAKLUMAT — Dusun Tasin di Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, yang dahulu dihuni sekitar 70 kepala keluarga (KK), kini telah hilang dari administrasi desa setelah diterjang bencana tanah longsor secara bertahap pada periode 2005 hingga puncaknya pada akhir 2007. Hampir dua dekade berselang, kawasan tersebut berubah menjadi lahan pertanian, menyisakan sebuah rangka rumah dan Masjid Al Ikhlas sebagai penanda bahwa wilayah itu pernah menjadi permukiman.
Berdasarkan keterangan Pemerintah Desa Beruk, gejala awal bencana mulai terlihat pada 2005 ketika terjadi pergerakan tanah di sebagian kawasan dusun. Kondisi tersebut mendorong sejumlah warga yang tinggal di area paling rawan untuk mengungsi lebih awal, meskipun sebagian lainnya masih memilih bertahan di rumah masing-masing.
Bukan Satu Peristiwa Tunggal
Kepala Desa Beruk, Suparto, mengatakan hilangnya Dusun Tasin bukan disebabkan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan rangkaian bencana yang berlangsung selama beberapa tahun. Menurutnya, perubahan struktur tanah terus terjadi hingga mencapai titik kritis pada 2007.
“Dusun Tasin tidak hilang dalam satu malam. Prosesnya berlangsung bertahap sejak muncul gejala pergerakan tanah pada 2005. Sebagian warga mulai mengungsi, sementara yang lain masih bertahan karena berharap kondisi dapat kembali normal,” ujar Suparto saat memberikan keterangan pada Kamis (16/7/2026).
Selama dua tahun setelah munculnya retakan tanah, kawasan yang berada di lereng curam Gunung Lawu itu terus mengalami perubahan kontur. Curah hujan tinggi yang terjadi berulang kali memperburuk kondisi tanah sehingga meningkatkan risiko longsor bagi permukiman warga.
Puncak bencana terjadi pada malam hari di penghujung 2007 saat hujan deras mengguyur kawasan Jatiyoso sejak sore hingga malam. Longsor berskala besar menerjang Dusun Tasin dan merusak sebagian besar permukiman sehingga seluruh warga harus dievakuasi.
Evakuasi Berat dan “Hilangnya” Dusun Tasin
Suparto mengingat suasana evakuasi berlangsung dalam kondisi yang sulit. Listrik padam, akses jalan tertutup material longsor, sementara petugas bersama relawan terus mengimbau warga meninggalkan kawasan menggunakan pengeras suara.
“Malam itu situasinya sangat mencekam. Hujan turun tanpa henti, listrik padam, dan akses menuju dusun mulai tertutup longsoran. Prioritas kami adalah memastikan seluruh warga segera keluar demi keselamatan,” kata Suparto.
Menurutnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena peringatan dini mengenai potensi longsor telah disampaikan kepada masyarakat sebelum bencana mencapai puncaknya. Namun, sejumlah ternak warga tidak sempat diselamatkan sehingga menjadi kerugian terbesar selain rusaknya permukiman.
“Kami bersyukur seluruh warga berhasil dievakuasi dengan selamat. Korban jiwa tidak ada, tetapi sebagian ternak dan berbagai harta benda milik warga terpaksa ditinggalkan ketika proses penyelamatan berlangsung,” ujarnya.
Setelah longsor utama terjadi, sebagian warga sempat kembali ke lokasi untuk mengambil barang-barang yang masih dapat diselamatkan. Namun, longsor susulan kembali terjadi sehingga kawasan tersebut akhirnya benar-benar ditinggalkan dan tidak lagi digunakan sebagai permukiman.
Akibat seluruh penduduk berpindah ke lokasi lain, Dusun Tasin kemudian dihapus dari administrasi Desa Beruk. Dari semula memiliki 10 dusun, kini desa tersebut hanya terdiri atas sembilan dusun. Pemerintah Kabupaten Karanganyar saat itu juga menyiapkan bantuan kompensasi sekitar Rp10 juta bagi setiap kepala keluarga untuk membantu memperoleh lahan baru, setelah rencana relokasi terpadu tidak terealisasi.
“Relokasi sempat direncanakan, tetapi akhirnya tidak terlaksana. Pemerintah kemudian memberikan bantuan kepada setiap keluarga agar dapat membeli lahan yang dinilai lebih aman sebagai tempat tinggal baru,” tutur Suparto.
Kesaksian Eks Warga Dusun Tasin
Salah seorang warga eks Dusun Tasin, Sutardi, mengungkapkan tanda-tanda bencana sebenarnya telah terlihat jauh sebelum longsor besar terjadi. Ia mengaku menyaksikan retakan tanah yang terus melebar hingga menyebabkan permukaan tanah ambles beberapa meter.
“Kami melihat sendiri tanah mulai retak setelah hujan turun hampir setiap hari. Retakan itu semakin besar hingga tanah ambles beberapa meter. Kondisi tersebut membuat saya memutuskan pindah lebih awal,” ujar Sutardi.
Bagi Sutardi, meninggalkan kampung halaman menjadi keputusan yang sangat berat. Selain telah menetap bertahun-tahun di Dusun Tasin, keluarganya juga memiliki ikatan sejarah dengan kawasan tersebut. Meski rumah lamanya kini telah tertimbun longsor, hak kepemilikan tanah tetap dimiliki keluarga dan lahan tersebut kini dimanfaatkan sebagai area pertanian.
“Meninggalkan tempat yang sudah menjadi rumah tentu bukan keputusan mudah. Kami harus mencari tanah baru dengan biaya yang tidak sedikit, bahkan harus meminjam dana untuk membangun rumah kembali. Namun, keselamatan keluarga menjadi pertimbangan utama,” katanya.
Hingga kini tidak ada mantan warga yang memilih kembali membangun rumah di bekas Dusun Tasin. Selain masih dianggap memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi, sebagian besar warga telah membangun kehidupan baru di lokasi yang dinilai lebih aman.
Pentingnya Mitigasi Kebencanaan
Suparto menilai kisah Dusun Tasin menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya mitigasi bencana dan kewaspadaan terhadap ancaman geologi di kawasan pegunungan.
Keberadaan Masjid Al Ikhlas serta sisa rangka rumah di tengah hamparan lahan pertanian, menurut dia, menjadi pengingat bahwa sebuah permukiman dapat berubah akibat bencana alam, sekaligus menjadi catatan sejarah bagi masyarakat Desa Beruk tentang pentingnya keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.***
*) Penulis: Edi Susanto













