Fundamental Bisnis BNI Makin Solid, Kredit Tumbuh 24,4 Persen

MAKLUMAT.ID — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan pertumbuhan kredit sebesar 24,4 persen secara tahunan hingga semester I 2026 menjadi Rp968,5 triliun. Di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan dan ketidakpastian ekonomi global, perseroan juga menjaga kualitas aset serta memperkuat struktur pendanaan untuk menopang pertumbuhan bisnis.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mengedepankan kualitas portofolio. Pertumbuhan tersebut ditopang diversifikasi pembiayaan pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer.

“Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio,” kata Paolo.

Di sisi pendanaan, BNI mencatat pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 11,2 persen secara tahunan. Pencapaian itu mempertahankan rasio CASA di level 65,4 persen dan mendorong penurunan biaya dana (cost of fund) dana pihak ketiga menjadi 2,56 persen, lebih baik dibandingkan 2,78 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Penguatan struktur pendanaan turut menopang peningkatan pendapatan inti perseroan. Hingga akhir Juni 2026, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun. Pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) juga meningkat 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Baca Juga  BNI Tegaskan Undian HUT RI Ke-81 Rejeki wondr BNI adalah Hoaks

Kinerja tersebut mengangkat laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) menjadi Rp18,5 triliun, tertinggi dalam sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp10,8 triliun.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo.

Dari sisi kualitas aset, BNI mencatat perbaikan rasio loan at risk (LAR) dari 11 persen menjadi 8,1 persen. Adapun rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terjaga di level 1,9 persen.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil penerapan manajemen risiko yang disiplin sejak tahap penyaluran hingga pemantauan kredit.

“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat,” kata David.

Selain memperkuat fundamental keuangan, BNI melanjutkan transformasi digital untuk meningkatkan produktivitas bisnis. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi tumbuh 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga  BNI Perluas Akses KPR lewat Danantara Housing Expo 2026

Pada segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan volume transaksi meningkat 17 persen menjadi Rp6.039 triliun.

BNI juga telah menerapkan program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh wilayah operasional. Program tersebut memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan sekaligus mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan yang berkualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama.

Menurut Putrama, strategi tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Ia menambahkan, implementasi BRAVE menjadi bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk memperkuat jaringan bisnis dan memperluas pemanfaatan layanan digital.

“Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah,” ujar Putrama.

Baca Juga  Dana Raksasa Rp200 Triliun Masuk Himbara, Waspada Aset Terlantar & Kredit Macet!

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan tetap memprioritaskan penguatan struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, mempertahankan kualitas aset, serta melanjutkan transformasi digital dan organisasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.