Sudah Saatnya Kampus Muhammadiyah Punya Prodi Ilmu Sejarah

sejarah

MAKLUMAT — Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Widiyastuti, mengatakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sudah saatnya memiliki program studi (prodi) ilmu sejarah. Menurutnya, keberadaan prodi tersebut diperlukan untuk memperkuat kajian dan penulisan sejarah Muhammadiyah.

“Sampai kini, hanya ada prodi pendidikan sejarah, itu pun jumlahnya masih lima di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Widiyastuti dalam pembukaan Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) Batch II di DAFAM Pacific Caesar Surabaya, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut digelar MPI PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Lazismu.

Ia mengatakan gagasan pembentukan prodi ilmu sejarah juga menjadi pesan Buya Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Hal tersebut juga menjadi salah satu amanat Kongres Sejarawan Muhammadiyah yang berlangsung di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada 27–28 November 2021 silam.

“Sudah saatnya kita memiliki prodi ilmu sejarah murni, menjadi bagian dari penguatan penulisan dan dokumentasi sejarah Muhammadiyah,” jelasnya.

Widiyastuti juga menjelaskan bahwa ASM menjadi salah satu upaya MPI PP Muhammadiyah untuk mendorong penulisan sejarah, terutama sejarah lokal. Ia melihat penulisan sejarah di lingkungan Muhammadiyah perlu terus dikembangkan hingga tingkat wilayah, cabang, dan ranting.

Baca Juga  Inovasi Kader IMM ITS Surabaya Produksi Detergen Ramah Lingkungan

Upaya tersebut berjalan bersama sejumlah program MPI PP Muhammadiyah yang berkaitan dengan dokumentasi sejarah. Keberadaan Museum Muhammadiyah, misalnya, menjadi bagian dari usaha mendokumentasikan perjalanan Muhammadiyah sejak awal berdiri.

“Tradisi penulisan sejarah di Muhammadiyah sudah berlangsung sejak lama. Maka ASM ini dalam rangka untuk menguatkan penulisan di tingkat lokal dari wilayah, cabang, hingga ranting,” ujarnya.

Ia berharap penguatan tradisi penulisan tersebut dapat menghasilkan karya yang mendokumentasikan perjalanan Muhammadiyah di berbagai daerah. Widiyastuti juga menyinggung rencana penerbitan buku sejarah Muhammadiyah Indonesia dalam agenda Tanwir mendatang.

“Mudah-mudahan di Tanwir ini sudah bisa kita terbitkan buku mengenai sejarah Muhammadiyah Indonesia. Ini akan menjadi karya yang monumental bagi ikhtiar penulisan sejarah kita,” ujarnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki