MAKLUMAT — Musyawarah Nasional (Munas) 4 Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) kembali mempercayakan Abdul Sobur sebagai Ketua Umum HIMKI. Sebanyak sembilan anggota formatur memilih Sobur secara aklamasi. Para formatur ini sebelumnya dipilih secara demokratis oleh peserta Munas.
Munas 4 HIMKI berlangsung di The Trans Resort Bali, Denpasar, Senin (15/9/2026). Sekitar 120 peserta mengikuti forum para pengusaha mebel dan kerajinan tersebut.
Peserta berasal dari Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Daerah (DPD), anggota, senior, dan pemangku kepentingan HIMKI dari berbagai daerah.Munas tidak hanya membahas suksesi kepemimpinan. Forum juga mengesahkan amandemen Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Munas menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO). Forum juga meluncurkan Grand Strategy Plan (GSP) Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia.
Abdul Sobur Kembali Dipercaya
Proses suksesi diawali dengan pemilihan sembilan anggota formatur. Pemilihan berlangsung secara demokratis.
Sembilan formatur kemudian bermusyawarah menentukan kepemimpinan HIMKI. Hasilnya, mereka sepakat kembali memilih Abdul Sobur.
Sebelumnya, Sobur menyatakan tidak bersedia dicalonkan sebagai anggota formatur. Sikap tersebut untuk membuka ruang kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan di HIMKI. Namun, sembilan formatur akhirnya kembali memberikan amanah kepadanya. Sobur menerima keputusan tersebut.
“Saya sungguh ingin memberikan ruang yang luas bagi kaderisasi. Namun, ketika sembilan formatur yang dipilih secara sah oleh Munas secara bulat kembali memberikan amanah ini, saya memandangnya bukan sebagai kemenangan pribadi, melainkan sebagai panggilan tanggung jawab yang tidak patut saya abaikan,” ujar Abdul Sobur dikutip Selasa (15/9).
Sobur menegaskan kepemimpinan HIMKI tidak boleh bergantung pada satu figur.
Ia mendorong kepemimpinan kolektif-kolegial. Model tersebut harus profesional, transparan, dan berbasis kinerja.
“Amanah ini bukan milik Abdul Sobur, tetapi milik seluruh keluarga besar HIMKI,” tegasnya.
Menurut Sobur, seluruh unsur HIMKI harus terlibat dalam kepemimpinan organisasi.
Ia menyebut formatur, DPD, pengurus, badan eksekutif, anggota, dan generasi muda sebagai bagian penting dari transformasi HIMKI.
AD/ART dan GBHO Diperkuat
Munas 4 mengesahkan amandemen AD/ART HIMKI. Perubahan tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola organisasi. Pembagian kewenangan dan sistem pertanggungjawaban juga diperjelas.
Mekanisme kaderisasi turut diperkuat. Begitu pula profesionalitas badan eksekutif dan kesinambungan program dari pusat hingga daerah.
Munas juga menetapkan GBHO sebagai pedoman organisasi untuk periode mendatang. Sejumlah prioritas ditetapkan dalam GBHO. Di antaranya konsolidasi organisasi dan penguatan DPD. HIMKI juga memprioritaskan pelayanan kepada anggota. Pengembangan pasar ekspor dan domestik menjadi agenda lainnya.
Advokasi regulasi juga diperkuat. Fokus berikutnya mencakup desain, inovasi, teknologi, dan keberlanjutan.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas. HIMKI juga akan memperluas kerja sama nasional dan internasional.
GSP Jadi Peta Jalan Industri
Munas 4 HIMKI turut meluncurkan Grand Strategy Plan (GSP) Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia.
GSP disusun melalui kolaborasi HIMKI dengan pemerintah dan pemangku kepentingan industri.
Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Ekonomi Kreatif terlibat dalam penyusunannya. Pemerintah Provinsi Bali juga ikut terlibat.
Asosiasi, kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan lainnya turut mendukung penyusunan GSP.
Dokumen tersebut diarahkan untuk memperkuat pasar domestik dan ekspor. GSP juga mendorong pengembangan desain dan inovasi.
Penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting. Akses terhadap bahan baku berkelanjutan juga menjadi perhatian.
HIMKI ingin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri mebel dan kerajinan global.
Targetnya bukan sekadar meningkatkan produksi. Indonesia diharapkan menjadi pusat desain, produksi, dan perdagangan mebel serta kerajinan bernilai tambah tinggi.
“Target besar industri tidak mungkin dicapai oleh HIMKI sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan seluruh ekosistem industri,” kata Sobur.
Sobur menegaskan GSP tidak boleh berhenti sebagai dokumen strategis.
“GSP harus menjadi dokumen hidup yang diterjemahkan ke dalam program, target, penanggung jawab, serta ukuran keberhasilan yang jelas,” ujarnya.
Mebel dan Kerajinan Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi
HIMKI menargetkan industri mebel dan kerajinan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia.
Industri ini berkontribusi terhadap devisa dan penciptaan lapangan kerja. Mebel dan kerajinan juga membawa identitas budaya Indonesia ke pasar global.
Keterampilan perajin, desain, material, dan kreativitas menjadi kekuatan utama industri tersebut.
Karena itu, HIMKI mendorong kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, pelaku usaha, desainer, perajin, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan mitra internasional perlu terlibat.
Kolaborasi tersebut diharapkan meningkatkan daya saing industri nasional.
Munas 4 HIMKI sekaligus meneguhkan persatuan organisasi.
Proses suksesi berlangsung melalui pemilihan formatur dan musyawarah. Keputusan akhirnya ditetapkan secara aklamasi.
HIMKI kini memasuki periode kepengurusan baru.
Fokusnya adalah memperkuat organisasi dan meningkatkan pelayanan kepada anggota. HIMKI juga ingin memperbesar kontribusi industri terhadap perekonomian nasional. Produk mebel dan kerajinan Indonesia didorong semakin kuat di pasar dunia.***














