MAKLUMAT — Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur periode 2026–2028 memasuki fase baru dengan membawa tema “Gerbang Karya IPM Jawa Timur”. Ketua Umum PW IPM Jawa Timur Mohammad Yuda Wahyu Saputra menyebut tema ini sebagai penanda perubahan dari fase pembentukan kader menuju gerakan yang menghasilkan karya nyata.
Hal itu disampaikan Yuda dalam pelantikan PW IPM Jawa Timur periode 2026–2028 di Aula KH Mas Mansyur, Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Kamis (17/9/2026). Menurutnya, pergantian kepemimpinan kali ini tidak sekadar menjadi seremoni perubahan struktur organisasi.
“Hari ini bukanlah sekadar seremoni pergantian struktur PW IPM Jawa Timur. Hari ini adalah pembukaan sebuah gerbang,” kata Yuda.
Yuda melihat perjalanan IPM Jawa Timur selama delapan tahun terakhir sebagai proses yang telah membangun fondasi organisasi. Ia menyebut periode 2018–2021 di bawah kepemimpinan Dedi Kurniawan dengan gagasan tentang peran sentral pelajar.
Periode 2021–2023 di bawah kepemimpinan Nafiz Zamani kemudian membawa gagasan Griya Madani sebagai rumah tumbuh kader. Fase berikutnya pada 2023–2026 di bawah kepemimpinan Hengki Pradana disebutnya mengantarkan IPM pada kesadaran untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurut Yuda, rangkaian proses tersebut menjadi dasar bagi kepemimpinan periode 2026–2028 untuk membawa organisasi ke tahap berikutnya. Ia mengibaratkan perjalanan itu seperti pohon yang telah memiliki akar dan batang yang kuat setelah dirawat selama tiga periode.
“Jika perjalanan ini ibarat sebuah pohon, maka ini adalah akar dan batang yang telah tumbuh kokoh, dipupuk dan dijaga selama tiga periode. Kini pohon itu telah cukup kuat untuk berbuah,” ujarnya.
Tema Gerbang Karya kemudian ditempatkan sebagai ruang peralihan bagi kader IPM untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya. Yuda memaknai gerbang sebagai titik transisi dari satu ruang ke ruang lain, termasuk dari proses berorganisasi menuju karya.
Ia menjelaskan lima pilar yang menjadi fondasi Gerbang Karya. Pilar tersebut meliputi Gerbang Nilai, Gerbang Daya, Gerbang Kaderisasi, Gerbang Kepemimpinan, dan Gerbang Digitalisasi.
Masing-masing diarahkan pada penguatan religiusitas dan nalar kritis, kemandirian dan kreativitas, ekosistem kaderisasi, kepemimpinan berdampak, serta kecakapan digital dan kecerdasan buatan yang beretika.
Yuda mengaitkan arah tersebut dengan gagasan kepemimpinan berdampak yang berkembang di IPM. Ia menilai organisasi perlu memberi ruang kepada kader untuk menghasilkan karya yang konkret sehingga keterlibatan mereka memiliki manfaat bagi masa depan.
“IPM tidak hanya dituntut untuk menawarkan proses dan nilai, tetapi menghadirkan ruang bagi kader untuk menghasilkan karya dalam bentuk nyata,” jelasnya.
Menurut Yuda, kebutuhan itu semakin penting karena kepemimpinan IPM saat ini diisi generasi Z, sedangkan basis keanggotaannya mulai memasuki generasi Alfa. Ia menilai organisasi perlu menunjukkan manfaat konkret dari proses berorganisasi agar tantangan regenerasi dapat dijawab.
Ia juga menghubungkan lima pilar Gerbang Karya dengan konsep maqasid syariah. Baginya, karya organisasi perlu diarahkan pada amal dan kemaslahatan, termasuk menjaga agama, jiwa, keturunan, serta harta dan kemandirian ekonomi.
Karena itu, Yuda meminta pimpinan yang baru dilantik menjadikan periode 2026–2028 sebagai masa pengabdian yang menghasilkan dampak di tengah masyarakat Jawa Timur yang multikultural.
“Jadilah gerbang yang membuka jalan, bukan tembok yang menghalangi. Karena IPM tidak lagi cukup dikenal dari sejarah, tetapi harus semakin dikenal dari bentuk karya nyata,” katanya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













