MAKLUMAT — Tanggal 19 September menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, Surabaya menjadi saksi keberanian arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Tunjungan atau Insiden Hotel Yamato bukan sekadar catatan sejarah. Di balik peristiwa tersebut terdapat semangat kebangsaan, keberanian, dan harga diri sebuah bangsa yang tidak ingin kembali hidup di bawah penjajahan.
Ketika warna biru pada bendera Belanda di Hotel Yamato dirobek hingga menyisakan warna merah dan putih, tindakan tersebut menjadi simbol kuat bahwa Indonesia telah berdiri sebagai bangsa yang merdeka. Merah dan putih bukan sekadar warna, tetapi menjadi representasi keberanian dan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan.
Semangat arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menjadi landasan moral yang kuat agar penjajah hengkang dari bumi Pertiwi, Indonesia. Mereka memahami bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Kemerdekaan harus dipertahankan dengan keberanian, persatuan, pengorbanan, dan keteguhan hati.
Dari Surabaya, kita belajar bahwa keberanian rakyat menjadi kekuatan besar ketika dipersatukan oleh cita-cita yang sama: mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa.
Semangat itulah yang seharusnya tidak berhenti menjadi cerita masa lalu.
Hari ini, Indonesia memang tidak lagi menghadapi penjajahan dalam bentuk seperti yang dialami para pejuang dahulu. Namun, tantangan kebangsaan terus berkembang. Perpecahan, intoleransi, penyebaran informasi yang tidak benar, ujaran kebencian, sikap apatis, korupsi, serta kepentingan pribadi yang mengalahkan kepentingan bersama merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan semangat kebangsaan.
Karena itu, perjuangan generasi hari ini memiliki bentuk yang berbeda.
Jika dahulu arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan dengan keberanian di medan perjuangan, maka hari ini kita dapat mempertahankan Indonesia melalui karya, kejujuran, persatuan, kepedulian sosial, pendidikan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera atau mengikuti upacara. Cinta tanah air harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, menghormati keberagaman, tidak mudah terprovokasi, menggunakan media sosial secara bijak, serta memberikan manfaat bagi masyarakat adalah bagian dari perjuangan kebangsaan di zaman sekarang.
Semangat Tunjungan mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan harus terus dijaga oleh setiap generasi.
Para pejuang telah mewariskan kemerdekaan. Tugas kita bukan hanya menikmati hasil perjuangan tersebut, tetapi juga memastikan Indonesia tetap menjadi rumah bersama yang kuat, bersatu, dan bermartabat.
Surabaya memiliki sejarah tentang keberanian. Arek-arek Suroboyo telah menunjukkan bahwa ketika persatuan dan kecintaan kepada tanah air menyatu, tidak mudah bagi siapa pun untuk merampas kemerdekaan bangsa.
Kini, tongkat estafet itu berada di tangan kita.
Kita mungkin tidak lagi berdiri di hadapan penjajah dengan bambu runcing. Namun, kita berdiri menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan, integritas, kerja keras, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama.
Merah Putih yang berkibar hari ini adalah hasil dari keberanian mereka yang berjuang kemarin. Menjaganya tetap berkibar dengan kehormatan adalah tanggung jawab kita hari ini.
Dari Tunjungan, mari kita nyalakan kembali semangat arek-arek Suroboyo: berani, bersatu, peduli, dan pantang menyerah dalam menjaga Indonesia.
Merdeka bukan sekadar kata. Merdeka adalah amanah yang harus terus dijaga.***
*) Penulis: Anang Dony Irawan
Wakil Ketua PCM Sambikerep; Penikmat Sejarah; Dosen FH UMSURA










