Merantau dari Flores, Lusia Wisudawan Katolik Umsida Lulus dengan Beasiswa Penuh

Lusia Cherlyana Moi saat Wisuda ke-48 Umsida, Ahad (25/10/2026). (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Namanya Lusia Cherlyana Moi, wisudawan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia resmi lulus dari Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM), usai prosesi Wisuda ke-48 Umsida pada Ahad, (25/10/2026).

Datang jauh dari Flores NTT, Lusia merantau ke Kota Delta dengan satu tujuan, mencari kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang tak disangka justru melahirkan pengalaman membekas. Kala itu, ia mendaftarkan diri secara mandiri, hingga akhirnya mendapatkan beasiswa penuh dari Lazismu untuk menempuh pendidikan di Prodi TLM Umsida.

Jauh meninggal keluarga dan sanak saudara, harus beradaptasi, dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Katolik di perguruan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Namun, perjalanan tersebut justru mempertemukannya dengan pengalaman tentang toleransi, persahabatan, dan rasa kekeluargaan yang erat.

Lusia menceritakan, keinginan untuk kuliah di Umsida bermula dari pencariannya terhadap perguruan tinggi yang menyediakan program beasiswa. Ia kemudian memantapkan pilihan di Prodi TLM Umsida, lantaran bidang tersebut masih memiliki sedikit peminat di daerahnya.

Sempat Khawatir Kuliah di Kampus Muhammadiyah

Sebelum berangkat ke Jawa, ada satu hal yang sempat membuatnya khawatir lantaran berkuliah di kampus Islam. Namun, setelah sempat berkonsultasi dengan beberapa relasi yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Kupang, tekadnya justru semakin bulat.

Baca Juga  Membanggakan! Intan Meidy Mahasiswa Umsida Sabet Penghargaan Most Innovative Research di Ajang Internasional

“Ternyata malah banyak yang di Muhammadiyah Kupang itu malah banyak yang Kristen,” ceritanya, mengingat percakapan dengan sang kakak.

Tak hanya itu, ia juga mengaku khawatir kesulitan beradaptasi, termasuk jika tidak diterima oleh lingkungan barunya. Namun, Lusia justru menemukan teman-teman yang terbuka dan banyak membantu.

“Dari awal kuliah sampai akhir ini banyak sekali teman-teman yang bantu. Kayak enggak pilih-pilih teman gitu. Semuanya mau dari latar belakang apapun itu, mereka berteman,” kenangnya.

Kekeluargaan di TLM dan IMM

Selama menjalani perkuliahan di Umsida, pengalaman Lusia tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga disebut turut aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang merupakan organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah.

Bagi Lusia, lingkungan organisasi juga memberikan pengalaman yang serupa dengan yang ia rasakan bersama teman-temannya di perkuliahan. Ia merasakan suasana kekeluargaan dan keterbukaan meskipun datang dari latar belakang yang berbeda.

Tak jauh berbeda, ia mengaku merasakan pengalaman kekeluargaan yang serupa di lingkunganProgram Studi TLM Umsida. Menurutnya, dosen-dosen di prodi tersebut menjadi salah satu bagian yang paling berkesan selama menempuh pendidikan.

Pengalaman tersebut, kata dia, membuatnya tidak lagi merasa sendirian meskipun menjalani kehidupan yang jauh dari keluarga di Flores NTT.

Baca Juga  Pesan Prof Jainuri ke Maba Umsida: Mahasiswa Adalah Kader Persyarikatan, Umat, dan Bangsa

Dari Perbedaan Jadi Pengalaman Berharga

Dalam perjalanan kuliahnya, Lusia juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai kegiatan yang membentuk pengalaman akademik serta organisasinya.

Ia tercatat pernah menjadi asisten laboratorium mikrobiologi. Ia juga bergabung dengan UKM Surya Nada, bahkan meraih juara satu tingkat nasional dalam kategori paduan suara Mars Muhammadiyah Aisyiyah.

Menurut dia, berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari prosesnya berkembang selama berada dan berkuliah di Umsida. Lusia menggambarkan perjalanan tersebut sebagai pengalaman untuk memahami toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.

“Saya datang ke Umsida dengan membawa keyakinan saya sendiri, dan hari ini saya meninggalkan kampus ini dengan keyakinan yang sama, tetapi dengan pemahaman yang jauh lebih luas tentang arti menghargai perbedaan,” katanya.

Jerih Payah Orang Tua dan Raihan Beasiswa

Di balik perjalanan Lusia, ada keluarga yang menjadi sumber kekuatan. Kedua orang tuanya merupakan pedagang sayur.

Ia menandaskan bahwa dukungan merekalah yang menjadi bagian penting hingga mampu menyelesaikan pendidikan di tanah perantauan.

Bagi Lusia, perjuangan orang tuanya bukan sesuatu yang sederhana. Dari pekerjaan mereka sebagai pedagang sayur, ia melihat langsung bagaimana keluarganya berusaha memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung pendidikan anak-anaknya.

Baca Juga  Pakar Umsida Soroti Konsesi Hutan 4,82 Juta Hektare: Jangan Abaikan Dampak Lingkungan dan Sosial

Sang ibu, Mariana Ale, mengaku bangga melihat putrinya menyelesaikan pendidikan jauh dari keluarga.

Ia mengenang masa ketika Lusia pertama kali menyampaikan keinginannya mengikuti tes kuliah di Umsida. Sang ibu sempat memikirkan bagaimana biaya perjalanan dan kebutuhan selama kuliah.

Apalagi Lusia merupakan putri sulung dan bagaimana jika harus merantau cukup jauh dari kampungnya di Flores NTT. Namun, kabar bahwa Lusia diterima di Umsida akhirnya membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.

“Saya bilang, puji Tuhan. Tapi bagaimana perjalanan nanti? Ongkosnya bagaimana? Rumahnya jauh, saya hanya pedagang sayur di Labuan Bajo,” kenang Mariana.

Kini, kekhawatiran itu terbayar dengan kelulusan Lusia, yang justru melalui beasiswa penuh. Ia berharap putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang layak dan terus membanggakan keluarga.

“Terima kasih Umsida karena telah menerima putri kami dengan beasiswa penuh, kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa saling menghormati, saling mendukung, dan bersama-sama menebarkan kebaikan,” ucap Mariana.***

*) Penulis: Romadhona