Ning Lia Ajak Pemuda Lawan Keserakahan Ekonomi lewat Pelestarian Mangrove

Ning Lia

MAKLUMAT — Anggota DPD RI Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, mengajak kalangan pemuda melawan keserakahan ekonomi (greedy economy) yang mengabaikan kelestarian lingkungan. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan penanaman mangrove di Mangrove Ecotourism Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu (25/10/2026).

Ning Lia mengapresiasi inisiatif pemuda yang mengangkat kepedulian terhadap lingkungan. Dalam kegiatan tersebut, ia menyerahkan bibit mangrove secara simbolis sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian alam. Ia berharap kegiatan ini mendorong anak muda terlibat dalam penghijauan secara berkelanjutan.

“Kebakaran hutan masih sering terjadi. Ini agenda yang sangat bagus untuk kalangan pemuda, semoga bisa menjadi bekal awal untuk terus melakukan penanaman dan penghijauan lingkungan,” ujarnya.

Ning Lia juga mendorong kolaborasi lintas sektor melalui prinsip green integrity. Menurutnya, pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar upaya penghijauan dapat berlangsung secara konsisten. Prinsip ini menempatkan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari keputusan dan aktivitas ekonomi.

Green integrity merupakan konsep yang menekankan etika, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan. Konsep ini menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi greedy economy, yakni orientasi ekonomi yang hanya mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan ekologis.

Baca Juga  Lia Istifhama Sentil Sikap Apatis Pemuda: Masa Depan Demokrasi di Tangan Kalian

Penerapannya dapat dimulai dari lingkungan pesantren melalui pembentukan karakter, kebiasaan hidup ramah lingkungan, dan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab. “Green integrity sendiri harus tetap dikedepankan sebab dari sini penanaman secara intensif dapat terus dilakukan,” jelasnya.

Ning Lia menilai prinsip tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan manusia terhadap pangan, energi, dan air bersih. Ia menyadur perkiraan Alston dan Whittenbury (2013) yang menyebutkan bahwa pada 2030 kebutuhan pangan dunia diproyeksikan meningkat 50 persen, kebutuhan energi 45 persen, dan kebutuhan air bersih 30 persen dibandingkan kondisi saat itu.

Peningkatan kebutuhan tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. “Green integrity ini menjadi konsep yang penting seiring kebutuhan manusia akan pangan semakin meningkat,” tegasnya.

Selain kebakaran hutan, Ning Lia menyoroti krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang dapat memperburuk persoalan sosial. Kerusakan ekosistem berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan, meningkatkan risiko kekurangan gizi, serta membatasi akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar.

Karena itu, upaya pelestarian lingkungan perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat. “Di era sekarang kebakaran hutan dan juga krisis iklim semakin tidak terkendali,” tambahnya.

Baca Juga  Untuk Apa LHKP PWM Jawa Timur Adakan Sekolah Politik Perempuan?

Menurut Ning Lia, penerapan green integrity perlu didukung pengembangan ekonomi hijau, pencegahan deforestasi, dan percepatan pemulihan lingkungan. Pelaku usaha juga perlu mempertimbangkan dampak ekologis dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan ekonomi diharapkan tetap memperhatikan kelestarian alam dan kepentingan generasi mendatang.

“Penguatan green integrity harus dikembangkan melalui pengembangan ekonomi hijau, lalu kemudian harus dilanjutkan dengan pencegahan deforestasi serta percepatan pemulihan lingkungan,” ujarnya.

 

*) Penulis: Humanika Dian Nusantara