MAKLUMAT –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,34 persen ke level 5.420,98 pada perdagangan Senin (26/10/2026) pukul 09.46 WIB. Investor cenderung menahan transaksi sambil mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi.
IHSG sempat dibuka menguat sebelum berbalik melemah 18,28 poin. Pada saat yang sama, indeks saham unggulan LQ45 turun 2,61 poin atau 0,48 persen ke posisi 544,44.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan IHSG masih bergantung pada kemampuannya bertahan di level teknikal penting.
“Jika IHSG mampu bertahan di atas level 5.424, potensi lanjut menuju resistance 5.520 dan 5.607–5.631,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan IHSG gagal bertahan di atas level tersebut, indeks berpotensi turun menuju area 5.328. Level support berikutnya berada di 5.278 dan 5.185.
Investor Menanti Keputusan The Fed
Perhatian pelaku pasar tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 Oktober 2026. Pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi investor akan mencermati pernyataan resmi bank sentral untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan pada Desember mendatang.
“Perhatian investor akan tertuju pada pernyataan resmi bank sentral untuk memperoleh petunjuk mengenai kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan Desember 2026,” kata Liza.
Selain kebijakan moneter, ketegangan Amerika Serikat dan Iran turut membayangi pasar global. Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran belum akan berakhir sebelum kemampuan nuklir Teheran dipastikan dilumpuhkan.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian setelah Kedutaan Besar AS memerintahkan staf nonesensial beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi menyusul serangan Houthi yang dilaporkan melibatkan 10 rudal. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan dua orang terluka dan merusak sejumlah properti.
Ketidakpastian geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dan meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Harga Energi dan Ekonomi Jadi Sorotan
Dari Amerika Serikat, investor juga mencermati keberlanjutan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Besarnya belanja modal untuk pembangunan pusat data memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan teknologi mempertahankan tingkat pengembalian investasi.
Meski demikian, prospek laba korporasi masih menjadi penopang pasar. Laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diproyeksikan meningkat lebih dari 32 persen pada kuartal III 2026 berdasarkan data LSEG IBES. Sejumlah perusahaan besar, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon, juga dijadwalkan merilis laporan keuangan.
Di dalam negeri, rencana penerapan mandatori biodiesel B50 menjadi perhatian pasar komoditas. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan minyak sawit domestik dan memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Sementara itu, Danantara Indonesia menargetkan profitabilitas perusahaan BUMN mencapai Rp 334 triliun hingga akhir 2026 melalui efisiensi operasional, penyederhanaan struktur perusahaan, dan optimalisasi aset negara. Proses penyederhanaan telah mencakup 364 perusahaan, dengan target meningkat menjadi 700 perusahaan pada akhir Desember 2026.
Realisasi investasi Indonesia selama Oktober 2024 hingga September 2026 tercatat mencapai Rp 3.923,2 triliun. Nilai tersebut terdiri atas penanaman modal dalam negeri sebesar Rp 1.998,7 triliun dan investasi asing sebesar Rp 1.924,5 triliun. Investasi itu menyerap sekitar 5,49 juta tenaga kerja, dengan 51,8 persen realisasi berada di luar Jawa.
Namun, prospek pertumbuhan ekonomi masih menghadapi tantangan. Fitch Ratings memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen sepanjang 2026, di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Setelah tumbuh 5,4 persen secara tahunan pada semester I 2026, pertumbuhan diproyeksikan melambat hingga di bawah 5 persen pada semester II.
Perlambatan tersebut diperkirakan dipengaruhi berkurangnya dorongan belanja pemerintah, kenaikan harga energi global akibat konflik AS–Iran, serta melemahnya kepercayaan konsumen.
Tekanan juga terlihat di pasar saham global. Pada penutupan Jumat (23/10/2026), indeks S&P 500 turun 0,52 persen, Nasdaq Composite melemah 0,21 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,23 persen.
Bursa Eropa turut melemah, sementara perdagangan saham Asia pada Senin pagi bergerak di zona merah. Nikkei turun 0,62 persen, Kospi melemah 1,34 persen, dan Shanghai terkoreksi 0,60 persen.
Kombinasi ketidakpastian kebijakan The Fed, ketegangan geopolitik, serta prospek ekonomi global dan domestik membuat investor mencermati perkembangan pasar sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.













