Fenomena Warna Merah Biru Hijau dalam Aksi Unjuk Rasa, Suporter Sepak Bola sebagai Gerakan Sosial Baru

Penulis: Fajar Junaedi. *)

MAKLUMAT — Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tanggal 28 Oktober 2026, ruang publik Indonesia diwarnai bukan hanya oleh upacara resmi atau logo Garuda merah dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Melainkan juga oleh kemunculan simbol visual tiga warna hijau, biru, dan merah yang viral di media sosial serta menempel di tiang lampu dan poster, terutama di Yogyakarta.

Kombinasi warna tersebut identik dengan identitas suporter sepak bola di wilayah Mataram atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Hijau identik dengan PSS Sleman, biru dengan PSIM Yogyakarta, dan merah dengan Persiba Bantul. Di luar Yogyakarta, warna merah juga memiliki relasi kultural dengan Persis Solo. Meskipun bukan dari Yogyakarta, Persis Solo memiliki kedekatan kultural dengan Yogyakarta. Warna-warna ini secara historis menandai rivalitas antarkelompok, yang terekam dalam ungkapan Mataram is Blue atau Mataram is Red. Namun, setelah tragedi Kanjuruhan 2022, makna tersebut bergeser.

Pasca tragedi tersebut, ketiga warna justru disatukan melalui narasi Mataram is Love. Rivalitas yang sebelumnya kerap berpotensi berujung pada konflik kini ditekankan sebagai perbedaan yang tidak harus berakhir dengan permusuhan.

Simbol tersebut kemudian berpotongan dengan gerakan mahasiswa, meskipun viralitasnya belum secara pasti menunjukkan adanya komando terpusat. Di lapangan, sejumlah narasi di media sosial menyebut basis suporter tiga klub ini bersatu turun ke jalan, dengan pesan bahwa di Yogyakarta tidak ada rivalitas di atas negeri yang kotor.

Baca Juga  Surabaya Jadi Tuan Rumah Piala Presiden U-12 dan U-15, Strategi Sport Tourism Kota Pahlawan

Momentum Hari Sumpah Pemuda, yang secara historis mengikrarkan persatuan pemuda Indonesia, memberi kerangka simbolik bagi penyatuan identitas klub yang sebelumnya rival. Yang menarik, penyatuan ini tidak hanya terjadi di tribun, melainkan merambat ke ruang politik jalanan. Suporter yang selama ini lebih sering diasosiasikan dengan euforia atau ketegangan pertandingan kini menampilkan diri sebagai aktor yang mengusung isu-isu publik yang lebih luas.

Gerakan Sosial Baru dan Social Barrismo

Untuk memahami fenomena ini, kerangka new social movement atau gerakan sosial baru menjadi relevan. Berbeda dengan gerakan sosial lama yang berfokus pada redistribusi ekonomi dan kelas, gerakan sosial baru menekankan identitas, budaya, otonomi, dan kualitas hidup. Kelompok suporter sepak bola, yang dibangun di atas identitas kolektif, gaya hidup, dan komunitas emosional, memiliki potensi untuk bertransformasi dari sekadar penggemar menjadi agen perubahan sosial.

Di Kolombia, konsep social barrismo menunjukkan evolusi serupa. Menurut Estrada Arango dan Afanador Ortiz dalam artikel berjudul Social Barismo As A Strategy For Community Empowerment and Social Resignification in Colombia yang terbit di Revista Austral de Ciencias Sociales (2026), kelompok penggemar sepak bola yang secara tradisional dikaitkan dengan kekerasan dan hasrat berlebihan kini bertransformasi menjadi ruang organisasi dan pemberdayaan komunitas.

Baca Juga  Waspada "Post-Kurban Syndrome"

Social barrismo tidak hanya memperkuat loyalitas terhadap tim, tetapi juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial yang menangani isu-isu komunitas, mendorong kohesi, inklusi, dan penguatan jalinan sosial.

Fenomena di Indonesia menampilkan paralel yang menarik. Pergeseran dari Mataram is Blue atau Mataram is Red menuju Mataram is Love, kemudian ke partisipasi dalam aksi Sumpah Pemuda, mencerminkan proses resignifikasi sosial. Rivalitas klub tidak dihapus, melainkan diletakkan di bawah kerangka solidaritas yang lebih luas. Identitas fans yang semula bersifat lokal dan kompetitif diarahkan untuk memperkuat kohesi komunitas serta menyuarakan isu nasional. Ini sejalan dengan fungsi pemberdayaan komunitas yang digambarkan dalam kasus Kolombia, meskipun konteks politik dan skala mobilisasinya berbeda.

Perbandingan lebih jauh dapat ditarik dengan peran politik sepak bola di dunia Arab. Dag Tuastad dalam artikel berjudul From Football Riot to Revolution. The Political Role of Football in the Arab World yang terbit di jurnal Soccer and Society (2014) menunjukkan bagaimana perlawanan ideologis pendukung selama pertandingan berpadu dengan pemberontakan pemuda yang melepaskan diri dari kekuasaan patriarkal. Arena sepak bola menjadi ruang di mana otonomi pemuda dapat dialami, sehingga memiliki potensi politik yang besar. Ultras di Mesir memainkan peran penting dalam revolusi, sementara pendukung nasionalis di Yordania membantu meruntuhkan tabu politik. Fans tidak hanya menjadi barometer tren, tetapi juga inisiator perjuangan yang memengaruhi dinamika politik.

Baca Juga  Integrasi Burhani dan Irfani: Menjemput "Autofagi Spiritual" di Minggu Kedua Ramadan

Di Indonesia, partisipasi suporter Mataram dalam aksi 28 Oktober 2026 menunjukkan gejala serupa, meski dengan intensitas dan konteks yang berbeda.

Sepak bola menjadi medium bagi pemuda untuk mengekspresikan otonomi dan kritik terhadap otoritas, baik di level klub maupun negara. Berbeda dengan kasus Arab yang lebih bersifat revolusioner, di sini gerakan masih beroperasi dalam kerangka demokrasi elektoral, namun tetap memperlihatkan kapasitas fans sebagai aktor politik.

Secara keseluruhan, fenomena warna merah, biru, dan hijau pada Hari Sumpah Pemuda 2026 mengilustrasikan bagaimana kultur suporter sepak bola di Indonesia tengah mengalami transformasi menuju gerakan sosial baru.

Seperti barrismo social di Kolombia, gerakan yang dilakukan suporter sepak bola berpotensi menjadi alat pemberdayaan komunitas dan resignifikasi makna sosial, dari rivalitas menuju solidaritas.

Seperti yang digambarkan Tuastad di dunia Arab, gerakan suporter sepak bola juga membuka ruang bagi otonomi kaum muda. Sekaligus membuka ekspresi politik di luar saluran formal. Yang jelas, warna-warna yang dahulu menandai perbedaan kini justru menyuarakan semangat persatuan yang selaras dengan ikrar Sumpah Pemuda itu sendiri.***

Penulis: Fajar Junaedi

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun