MAKLUMAT — Belum sempat sebuah pertanyaan direnungkan, jawabannya telah tersedia. Belum selesai sebuah buku dibaca, ringkasannya sudah tersusun. Bahkan sebelum seseorang menemukan gagasan, kecerdasan buatan telah menawarkan paragraf pembuka, argumentasi, hingga kesimpulan.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menghadirkan kemudahan yang belum pernah dikenal generasi sebelumnya. Dalam hitungan detik, mesin dapat menerjemahkan dokumen, merangkum laporan, mengolah data, menyusun presentasi, bahkan membantu memecahkan persoalan yang kompleks.
Kemudahan tersebut tentu patut disambut sebagai kemajuan. Namun, di balik kecepatannya, ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur: ketika semakin banyak pekerjaan mental diserahkan kepada mesin, apakah manusia menjadi semakin cerdas atau justru semakin jarang menggunakan kecerdasannya?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi Indonesia. Survei Consumer Insights Statista menempatkan Indonesia sebagai negara dengan proporsi penggunaan AI untuk kepentingan pendidikan tertinggi di antara negara yang ditampilkan dalam survei tersebut.
Sekitar 61 persen responden Indonesia menyatakan bahwa mereka menggunakannya untuk pendidikan (Statista, 2026). Angka itu menunjukkan besarnya penerimaan masyarakat Indonesia terhadap teknologi baru.
Namun, penetrasi yang tinggi perlu diikuti literasi yang memadai. Tanpa kemampuan mengendalikan cara penggunaannya, AI dapat berubah dari alat yang memperluas kapasitas manusia menjadi kemudahan yang perlahan mengurangi latihan berpikir.

Lebih Cepat Belum tentu Lebih Belajar
Kehadiran AI telah membuat banyak pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Akan tetapi, tugas yang selesai tidak selalu berarti pengetahuan telah terbentuk. Ada perbedaan mendasar antara performance dan learning: antara berhasil mengerjakan sesuatu dan benar-benar mempelajarinya.
Perbedaan itu terlihat dalam penelitian yang dilakukan Bastani dan koleganya terhadap hampir seribu siswa sekolah menengah. Penelitian tersebut membandingkan siswa yang belajar tanpa AI, menggunakan GPT biasa, dan menggunakan GPT yang telah dirancang sebagai tutor.
Hasilnya menarik. Siswa yang menggunakan GPT biasa mampu meningkatkan performa latihan sekitar 48 persen. Namun, ketika bantuan AI ditiadakan dalam ujian, nilai mereka justru 17 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang belajar tanpa AI.
Sebaliknya, kelompok yang menggunakan AI sebagai tutor mencatat peningkatan performa latihan hingga 127 persen. Ketika AI tidak lagi tersedia, mereka tidak mengalami penurunan seperti kelompok pengguna GPT biasa. AI tutor tidak langsung memberikan jawaban, tetapi menawarkan petunjuk dan mengarahkan siswa menemukan penyelesaian sendiri (Bastani dkk., 2024).
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya AI. Yang lebih menentukan adalah bagaimana AI digunakan. AI dapat meminjamkan kecakapan kepada penggunanya, tetapi kecakapan pinjaman belum tentu berubah menjadi kemampuan yang menetap.

Dari Pengalihan Beban hingga Penyerahan Nalar
Dalam psikologi kognitif dikenal istilah cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian beban mental kepada perangkat di luar dirinya. Kita mencatat agenda agar tidak perlu mengingat semuanya, menggunakan kalkulator untuk mempercepat perhitungan, atau memanfaatkan peta digital untuk menemukan arah.
Pengalihan beban mental tidak selalu buruk. Dengan menyerahkan pekerjaan rutin kepada alat, manusia dapat menyediakan lebih banyak kapasitas untuk mengerjakan persoalan yang lebih kompleks.
Masalah muncul ketika cognitive offloading berubah menjadi cognitive surrender, yakni bukan lagi sekedar mengalihkan sebagian beban, melainkan menyerahkan keseluruhan proses berpikir.
Pada tahap itulah kemalasan kognitif terbentuk. Ia bukan sekadar rasa malas dalam pengertian sehari-hari, melainkan kebiasaan mental untuk selalu memilih jawaban tercepat dengan upaya berpikir seminimal mungkin.
Padahal, kemampuan bernalar dibentuk melalui proses membaca, mencoba, mengalami kekeliruan, memperbaiki pendapat, dan menguji kembali kesimpulan.
Sinyal yang Perlu Dibaca dengan Jernih
Sejumlah penelitian mulai memberikan sinyal mengenai risiko tersebut. Studi peneliti MIT Media Lab bertajuk Your Brain on ChatGPT membandingkan peserta yang menulis esai dengan bantuan model bahasa besar, mesin pencari, dan tanpa bantuan perangkat digital.
Pengukuran menggunakan elektroensefalografi menunjukkan bahwa kelompok yang menulis tanpa bantuan digital memiliki jaringan konektivitas otak paling kuat dan tersebar.
Kelompok pengguna mesin pencari berada di tingkat menengah, sedangkan kelompok pengguna AI menunjukkan konektivitas paling rendah. Pengguna AI juga cenderung kesulitan mengutip kembali tulisannya dan menunjukkan rasa kepemilikan yang lebih rendah (Kosmyna dkk., 2025).
Temuan itu perlu dibaca secara hati-hati. Penelitiannya masih berupa preprint, melibatkan sampel terbatas, dan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa AI secara umum menurunkan fungsi otak.
Namun, ia memberi peringatan awal tentang kemungkinan timbulnya “utang kognitif” ketika kemudahan jangka pendek dibayar dengan berkurangnya keterlibatan mental.
Sinyal serupa muncul dalam PISA 2025.
OECD menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI untuk tugas tertentu, seperti merangkum bacaan, menyusun tulisan, dan melakukan riset awal, secara rata-rata memperoleh skor sains lebih rendah daripada mereka yang tidak menggunakannya. Selisih rata-ratanya sekitar 20 poin atau setara dengan hampir satu tahun pembelajaran.
OECD menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan AI sebagai penyebab turunnya capaian belajar. Siswa yang menggunakan AI secara moderat dan memperoleh kesempatan mempelajari cara mengevaluasi informasi buatan AI justru menunjukkan hasil yang lebih baik. Persoalannya kembali terletak pada tujuan, intensitas, dan literasi penggunaannya (OECD, 2026).
Risiko kehilangan keterampilan juga muncul di dunia profesional. Penelitian observasional terhadap dokter endoskopi menemukan bahwa tingkat deteksi adenoma tanpa bantuan AI menurun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen setelah mereka terbiasa menggunakan sistem AI selama beberapa bulan (Budzyn, dkk., 2025).
Peneliti menyebutnya sebagai indikasi risiko deskilling, meskipun penelitian itu belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat.
Antara Mesin Jawaban dan Mitra Berpikir
Kita tidak perlu menyikapi temuan tersebut dengan ketakutan berlebihan, apalagi menolak AI. Teknologi tidak memiliki satu akibat yang serta merta. Dampaknya sangat ditentukan oleh cara manusia merancang dan menggunakannya.
AI dapat menjadi mesin jawaban yang membuat manusia pasif. Namun, AI juga dapat menjadi mitra berpikir yang memperluas rasa ingin tahu. Karena itu, literasi AI tidak cukup dimaknai sebagai keterampilan membuat prompt.
Jauh lebih penting adalah kecakapan menilai kapan mesin dibutuhkan, sejauh mana ia boleh digunakan, dan bagian mana yang tetap harus dikerjakan manusia.

Beberapa kebiasaan sederhana dapat menjaga keterlibatan nalar. Pengguna dapat menyusun pendapat awal sebelum membuka AI, meminta petunjuk alih-alih jawaban akhir, memeriksa fakta melalui sumber primer, serta menjelaskan kembali hasilnya dengan bahasa sendiri.
Dalam kegiatan belajar, perlu pula disediakan waktu untuk membaca, menulis, berhitung, dan memecahkan masalah tanpa bantuan AI. Institusi Pendidikan apapun tingkatannya juga tidak cukup hanya melarang atau membebaskan penggunaan AI.
Sistem penilaian perlu diarahkan bukan hanya kepada produk akhir, tetapi juga proses, argumentasi, sumber yang digunakan, dan kemampuan peserta didik mempertahankan gagasannya.
Ta’alim, Tabayun, dan Keseimbangan Digital
Peringatan mengenai risiko kemalasan kognitif pernah disampaikan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir.
Ketergantungan berlebihan kepada AI, menurutnya, dapat melahirkan kasal atau kemalasan berpikir. Seseorang ingin memperoleh pengetahuan tanpa melewati proses yang semestinya (Muhammadiyah.or.id, 2026).
Dalam tradisi keilmuan Islam, pengetahuan diperoleh melalui ta’allum, yakni proses belajar yang memerlukan waktu, penguasaan dasar, ketekunan, serta bimbingan guru. Pengetahuan bukan hanya kumpulan informasi, tetapi juga hasil pergulatan akal dalam memahami, memeriksa, dan menghubungkan berbagai keterangan.
Prinsip tabayun semakin relevan ketika AI mampu menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, meskipun tidak selalu benar. Pengguna tidak cukup bertanya, ‘Apakah jawabannya tersedia?’, tetapi juga harus menelusuri, ‘Dari mana informasi ini berasal, apakah sumbernya dapat dipercaya, dan apakah kesimpulannya masuk akal?’
Sementara itu, prinsip tawazun mengajarkan keseimbangan. Teknologi digunakan tanpa kehilangan daya kritis, kehidupan sosial, kedalaman spiritual, dan kemandirian berpikir. AI diterima sebagai bagian dari kemajuan, tetapi tidak dibiarkan mengambil alih seluruh ruang pembentukan manusia.
Menjaga Marwah untuk Tetap Berfikir
Selama ini, kita cenderung menganggap segala bentuk kesulitan sebagai sesuatu yang harus dihapus. Padahal, tidak semua kesulitan merupakan hambatan. Ada kesulitan yang justru menjadi ruang latihan bagi ketekunan, kreativitas, daya ingat, dan ketajaman nalar.
Karena itu, pendidikan dan dunia kerja perlu merawat apa yang dapat disebut sebagai ‘gesekan kognitif’: kesempatan bagi manusia untuk menghadapi persoalan, bergulat dengan ketidakpastian, dan menemukan jawaban melalui usahanya sendiri.
Peradaban tentu tidak akan maju dengan menolak teknologi. Namun, peradaban juga tidak akan tumbuh apabila manusia menyerahkan seluruh pekerjaan nalarnya kepada mesin. AI semestinya membebaskan kita dari pekerjaan berulang agar tersedia lebih banyak ruang untuk berpikir, bukan membebaskan kita dari kewajiban berpikir itu sendiri.
Kemudahan dapat menjadi kekuatan ketika memperluas kemampuan manusia. Namun, ketika setiap pertanyaan buru-buru diserahkan kepada mesin, kemudahan yang sama dapat perlahan melemahkan.
Tantangan kita bukan memilih antara menggunakan atau meninggalkan AI, melainkan memastikan bahwa di tengah mesin yang semakin cerdas, manusia tidak kehilangan kegembiraan untuk belajar, keberanian untuk meragukan, dan kesanggupan untuk berpikir dengan pikirannya sendiri, dan tidak kehilangan marwahnya sebagai manusia.










