MAKLUMAT — Aktivis yang juga pakar ilmu pemerintahan Anton Permana menyebut Indonesia mengalami kerusakan serius selama 10 tahun pemerintahan Joko Widodo.Periode itu adalah fase kerusakan paling parah sejak Indonesia merdeka. Anehnya, tidak ada kelompok pejuang HAM dan Demokrasi yang bersuara kritis.
“Justru 10 tahun pemerintahan Jokowi itulah kerusakan paling parah di Indonesia. Indonesia dirusak rezim Jokowi. Ada KM50, UU Minerba, UU Ciptaker, kami dipenjara. Ke mana mereka selama 10 tahun ini?” kata Anton dalam Diskusi Media BUKA FAKTA yang digelar Forum Jurnalis Merdeka bersama MediaTrust.ID di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Dalam forum itu, Anton mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tidak berada dalam konflik fisik, tetapi menghadapi bentuk perang lain yang disebut sebagai cognitive warfare. Tidak ada kontak senjata di Indonesia, tetapi pikiran dan persepsi masyarakat diserang sedemikian rupa melalui informasi. Tujuannya adalah meruntuhkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Prabowo sehingga muncul delegitimasi.
Menurut Direktur Tanhana Dharma Mangruva Institute itu, situasi tersebut tampak dari maraknya narasi di ruang digital yang memicu ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Ia menyebut sebagian besar percakapan di media sosial berisi pesan yang membangun distrust, meskipun di sisi lain terdapat kelompok masyarakat yang menyampaikan kritik secara idealis.
“Apa pun yang dilakukan, bahkan akan dilakukan pemerintah, publik menjadi denial. Ini sedang terjadi, lihat saja di media sosial. Hampir 60 persen isinya narasi yang membangun public distrust,” ujarnya.
Anton mengatakan kritik tetap diperlukan dalam sistem demokrasi, tetapi ia mengingatkan adanya pihak lain yang memanfaatkan isu tersebut untuk tujuan politik tertentu. Ia menyebut ada upaya mendelegitimasi pemerintah melalui pengelolaan opini publik.
“Memang ada kelompok kritis idealis yang memandang sesuatu yang perlu diperbaiki. Tapi kita mesti waspada terhadap isu-isu yang memboncengnya untuk mendelegitimasi pemerintah,” kata dia.
Pengalaman sejumlah negara seperti Venezuela dan Bangladesh, menurutnya cukup menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa tidak perlu senjata untuk menggulingkan pemerintahan. “Ini bahaya. Pembonceng gelap kekuatan civil society ingin mengambil kesempatan.,” ujarnya.
Anton menambahkan, pemerintahan saat ini di bawah Prabowo Subianto menghadapi kondisi yang menurutnya merupakan dampak buruk dari periode sebelumnya. “Jadi Prabowo ini sekarang ibarat sedang mencuci piring kotor yang ditinggalkan Jokowi,” kata Anton.














