MAKLUMAT — Aktris Prilly Latuconsina akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik setelah aksinya mengaktifkan fitur open to work di LinkedIn menuai polemik. Permintaan maaf itu ia sampaikan melalui akun Instagram pribadinya @prillylatuconsina96 pada Selasa (3/2/2026).
“Hai semuanya, aku paham kalau situasi ini memunculkan banyak reaksi dan emosi. Aku juga mengerti kenapa sebagian dari kalian merasa marah, kecewa, atau nggak nyaman. Untuk itu aku ingin menyampaikan klarifikasi ini dengan itikad baik sebagai bentuk tanggung jawabku dalam berkomunikasi,” ujarnya.
Sebelumnya, Prilly mengaktifkan fitur open to work pada profil LinkedIn miliknya dengan narasi ingin mencari pengalaman baru sebagai tenaga penjualan lapangan (offline sales) dari tingkat dasar. Open to work adalah fitur di LinkedIn yang menandakan seseorang sedang terbuka terhadap peluang kerja baru. Pengguna bisa memberi sinyal ke perekrut bahwa ia siap menerima tawaran pekerjaan baru.
Langkah ini segera memicu lonjakan aktivitas pada akunnya. Hanya dalam waktu singkat, Prilly mengklaim telah menerima lebih dari 30 ribu tawaran pekerjaan dari berbagai perusahaan. Angka 30 ribu tawaran kerja ini kemudian menjadi titik picu kemarahan publik.
Kritik Privilege hingga Gimmick Iklan
Publik menganggap Prilly sedang mempertontonkan ketimpangan hak istimewa (privilege) yang sangat kontras dengan nasib jutaan pencari kerja di Indonesia. Publik merasa, hari ini banyak orang yang sedang kesulitan mendapatkan respons meski telah berjuang menggunakan fitur yang sama.
Situasi semakin memanas setelah publik menemukan sejumlah indikasi yang kemudian disimpulkan bahwa status “mencari kerja” Prilly bukanlah niat murni untuk berpindah karier, melainkan bagian dari skenario kampanye iklan pasta gigi. Mereka merasa dimanipulasi secara emosional karena narasi kesulitan mencari kerja dijadikan alat pemasaran atau gimmick semata.
Akibatnya, Prilly dinilai tidak peka terhadap realitas sosial para pejuang kerja yang tengah menghadapi masa sulit PHK dan kelangkaan lapangan kerja. Gelombang protes dan laporan dari pengguna LinkedIn bahkan sempat membuat akun Prilly ditangguhkan secara otomatis oleh sistem karena dianggap melakukan aktivitas yang tidak wajar
Klarifikasi dan Komitmen Prilly
Prilly menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi dan mengakui situasi tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan serta kesalahpahaman di ruang publik. Ia menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak berniat bersikap tidak sensitif terhadap kondisi yang tengah dihadapi banyak orang saat ini.
“Aku sadar posisiku dan pengalaman hidupku tidak sama dengan semua orang, dan aku mengerti kenapa hal ini bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak,” ujarnya.
Terkait penggunaan fitur open to work, Prilly menyebut langkah tersebut ia lakukan untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jaringan profesional, terutama di bidang yang belum pernah ia coba sebelumnya. Ia menegaskan hal itu bukan dimaksudkan untuk mengambil kesempatan pihak lain, melainkan bagian dari proses belajar dan upaya pengembangan dirinya.
“Soal akun LinkedIn yang sempat hilang, aku juga ingin menyampaikan dan menjelaskan secara terbuka bahwa hal tersebut di luar kendaliku karena saat itu akun LinkedIn-ku mengalami lonjakan aktivitas yang sangat tinggi dan akhirnya sampai saat ini belum bisa dibuka, dan sekarang masih dalam proses pemulihan,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ke depannya ia berkomitmen untuk terus menjalankan serta melanjutkan kerja sama dan berbagai kegiatan yang memberikan dampak positif bagi banyak orang. Prilly menegaskan bahwa komitmen tersebut akan tetap menjadi prioritas utamanya.
“Sekali lagi, aku ingin minta maaf karena telah menimbulkan situasi yang tidak nyaman bagi teman-teman semua. Terima kasih untuk kalian semua atas masukan, perhatian, dan pengertiannya,” tandasnya.













