Begini Cara Anies Baswedan Menentukan Pasangan Politiknya

Anies Baswedan memaparkan cara dan pertimbangannya dalam menentukan pasangan politik. (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Tokoh Nasional yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, menyampaikan sejumlah poin penting yang menjadi landasan dan pertimbangan untuk menentukan pasangan maupun tim dalam kontestasi politik.

Hal itu ia sampaikan menjawab pertanyaan salah satu peserta dalam Kuliah Umum bertajuk “Kepemimpinan Transformasional dan Masa Depan Indonesia” yang diselenggarakan BEM Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), pada Jumat (24/4/2026).

Pertama, kata Anies, adalah kompetensi. Ia menegaskan bahwa sosok pemimpin yang transformatif haruslah figur yang kompeten dan amanah dalam mengemban tugas-tugasnya.

Kedua, yakni sosok yang tidak bermasalah alias figur yang berintegritas. “Kenapa saya istilahkan tak bermasalah? Karena mengukur ini agak sulit, kecuali teman-teman punya alat ukurnya. Mengukur integritas itu sulit,” katanya.

“Makanya kalau di akuntansi itu kan ‘wajar tanpa pengecualian’, kan ada masalah atau enggak? Begitu,” sambung pria berkacamata yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu.

Kemudian, ketiga adalah relevan. “Orang kompeten tapi tidak relevan, sulit kita untuk bisa menempatkannya. Harus orang yang relevan dengan pekerjaannya,” terangnya.

Keempat, Anies menyebut pertimbangannya untuk menentukan pasangan maupun tim pemenangan adalah berdasarkan rekam jejak. “Rekam jejak ini artinya dia berprestasi atau tidak berprestasi,” jelasnya.

Baca Juga  Uji Publik Capres-Cawapres untuk Menitipkan Aspirasi Muhammadiyah

“Jadi ini rumus bukan hanya untuk mencari pasangan, dalam artian proses politik, tapi juga untuk membentuk tim,” imbuh mantan Rektor Universitas Paramadina itu.

Tak cuma itu, Anies juga menyebut satu pertimbangan lagi yang menurutnya bakal berpengaruh pada keberlanjutan pasangan dan tim tersebut.

“Lalu ada satu bonus nih, seideologi atau loyal, jadi loyalnya bukan pada pribadi, tapi pada ideologi, sehingga bisa berkelanjutan,” tandasnya.

Lebih jauh, Anies juga merespons salah satu pertanyaan peserta selanjutnya, terkait kemungkinan dirinya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Calon Presiden (Capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang.

Namun, ia tak memberikan jawaban gamblang. “Ini masih tahun 2026 bu,” katanya singkat sembari tersenyum, disambut tawa para peserta Kuliah Umum.

Anies menjelaskan, saat ini dia tengah berfokus untuk membangun wadah-wadah sebagai think tank di berbagai daerah. “Pokoknya gini, bagian kita itu bekerja untuk orang banyak. Saat ini saya bekerja membangun jembatan di mana-mana, bekerja bikin think tank untuk perkotaan,” terangnya.

“Jadi biarkan nanti proses 2029, kita lihat nanti. Pokoknya doa,” sambung sosok yang juga merupakan inisiator gerakan Indonesia Mengajar itu.

Baca Juga  FAI Got Talent XI 2026 Umsida: Ajang Kembangkan Bakat Pelajar dan Syiar Dakwah