Usia 55 Tahun Baru Lulus S1, Kisah Malik Hanafi Kejar Mimpi yang Tertunda

Malik Hanafi

MAKLUMAT – Usia 55 tahun tak menghalangi Malik Hanafi untuk meraih gelar sarjana. Wisudawan asal Halmahera Selatan itu berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Malik menjadi salah satu wisudawan inspiratif dalam Wisuda ke-55 Umsura. Keberhasilannya bukan diraih dalam perjalanan singkat. Keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi sebenarnya sudah lama tumbuh, tetapi keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab keluarga membuat cita-cita tersebut tertunda selama bertahun-tahun.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan menjalin kerja sama dengan Umsura melalui program peningkatan kualifikasi pendidikan guru jalur RPL. Malik pun memanfaatkan peluang tersebut untuk kembali mengejar pendidikan yang selama ini diimpikannya.

“Sebetulnya keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi sudah lama, tetapi ada kendala terkait keuangan dan keluarga. Alhamdulillah, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bisa bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau. Saya juga merasa terpanggil untuk mengikuti program ini,” ungkap Malik.

Ia mulai mengikuti perkuliahan ketika berusia 53 tahun. Sistem pembelajaran daring menjadi salah satu faktor yang membantunya membagi waktu antara pendidikan, pekerjaan, dan keluarga.

Baca Juga  Ketua PWM Jatim Mendapat Tugas Baru di Jakarta, Segera Dilantik Jadi Deputi II Kemenko PMK

Perkuliahan berlangsung dua kali dalam sepekan, yakni setiap Jumat dan Sabtu sore. Meski demikian, perjalanan kuliahnya tetap menghadapi tantangan. Mulai dari jaringan internet yang tidak stabil hingga gangguan pada perangkat laptop yang digunakan untuk mengikuti pembelajaran.

“Menurut saya, tidak ada kesulitan yang terlalu berat. Paling hanya tugas-tugas yang diberikan, masalah jaringan, serta alat bantu seperti laptop dan lainnya yang terkadang mengalami gangguan,” tuturnya.

Di tengah berbagai keterbatasan, dukungan keluarga menjadi penyemangat bagi Malik. Istri, anak, dan cucu terus memberikan dorongan agar dirinya dapat menyelesaikan pendidikan. Dukungan juga datang dari rekan sesama guru hingga kepala sekolah.

Bagi Malik, keberhasilan meraih gelar sarjana pada usia 55 tahun menjadi kebanggaan tersendiri. Ia berharap pendidikan yang telah ditempuh dapat mendukung pengembangan karier sekaligus membuka kesempatan untuk memberikan kontribusi lebih luas kepada masyarakat di daerah asalnya.

Setelah wisuda, Malik berencana mendedikasikan diri kepada masyarakat. Ia bahkan memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa apabila tenaga dan waktunya masih memungkinkan.

“Rencana saya setelah wisuda ini ingin mendedikasikan diri kepada masyarakat. Saya berharap bisa mencalonkan diri menjadi kepala desa. Jika tenaga dan waktu masih memungkinkan, semoga juga bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif,” ujarnya.

Baca Juga  Perkuat Dakwah Legislasi, MHH PWM Jatim Adakan Pelatihan Teknik Perancangan Peraturan Daerah

Di balik pencapaiannya, Malik membawa pesan bagi siapa pun yang masih ragu melanjutkan pendidikan karena faktor usia. Menurutnya, kesempatan untuk belajar tidak seharusnya dibatasi oleh umur selama masih ada kemauan dan waktu untuk menjalaninya.

“Pesan saya sangat sederhana, pendidikan dan ilmu itu tidak mengenal usia. Mau 40, 50, 60, bahkan 70 tahun tidak masalah untuk mengikuti pendidikan, selagi masih punya waktu dan kesempatan,” pesannya.

Perjalanan Malik Hanafi menjadi bukti bahwa cita-cita yang tertunda bukan berarti harus ditinggalkan. Pada usia 55 tahun, ia akhirnya menuntaskan pendidikan sarjana yang telah lama diimpikan. Gelar tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga awal dari keinginannya untuk terus belajar dan mengabdi kepada masyarakat.