Belajar Melindungi Diri dan Bijak Bermedia Digital Tak Harus di Ruang Kelas, Sekolah Alam Jadi Alternatif

sekolah alam

MAKLUMAT — Belajar mengenali perundungan, memahami batasan tubuh, hingga menggunakan gawai secara bijak tak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 100 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengajak anak-anak mempelajari berbagai hal tersebut melalui permainan alam dalam program Sekolah Alam Kanigoro Adventure (SAKA Adventure).

Mahasiswa merancang kegiatan itu dengan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman. Setiap permainan membawa materi yang dekat dengan kehidupan anak-anak sehingga peserta tidak hanya menikmati aktivitas luar ruang, tetapi juga memahami cara menghargai teman, melindungi diri, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

“Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan, tetapi materi yang diterima anak-anak tetap dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” ujar Ketua KKN Kelompok 100 UINSA, Muhammad Juliansyah Akbar.

Program tersebut berlangsung di Desa Kanigoro, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Ahad (19/7/2026). Kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, penyampaian tujuan, dan pembagian anak-anak ke dalam 10 kelompok. Setiap kelompok didampingi mahasiswa KKN yang bertugas mengarahkan peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Anak-anak kemudian bergiliran mengikuti lima pos pembelajaran. Pos pertama mengajak mereka membangun kekompakan melalui permainan tim. Setelah itu, peserta memasuki pos anti-bullying untuk mengenali berbagai bentuk perundungan dan memahami pentingnya saling menghargai dalam pergaulan sehari-hari.

Baca Juga  Diskominfo Sidoarjo Dorong Masyarakat Tingkatkan Awareness terhadap Keamanan Data Pribadi

“Anak-anak belajar sambil bermain. Kami berharap mereka lebih mudah memahami materi karena mengalaminya secara langsung, bukan hanya mendengarkan penjelasan,” katanya.

Perjalanan berlanjut ke pos body safety. Melalui permainan menjawab benar atau salah menggunakan kartu berwarna, peserta belajar mengenali batasan tubuh, menjaga diri dari tindakan yang tidak pantas, dan memahami pentingnya bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya ketika menghadapi situasi yang membahayakan.

Materi berikutnya membahas literasi digital melalui permainan “Mencari Wi-Fi”. Anak-anak mencari kartu petunjuk yang berisi informasi tentang internet, media sosial, dan penggunaan gawai. Dari permainan tersebut, mahasiswa mengajak peserta memahami manfaat teknologi sekaligus dampak yang dapat muncul apabila digunakan tanpa bijak.

“Perundungan, body safety, dan literasi digital kami pilih karena ketiganya merupakan hal yang dekat dengan kehidupan anak-anak saat ini. Kami ingin mereka memiliki bekal untuk menghadapi situasi yang mungkin mereka temui setiap hari,” jelas Akbar.

Seluruh peserta kemudian berkumpul di pos terakhir untuk mengikuti sesi refleksi, penguatan materi, pembagian konsumsi, serta penyampaian kesan selama mengikuti kegiatan. Program tersebut terlaksana melalui kolaborasi mahasiswa KKN 100 UINSA bersama Pemerintah Desa Kanigoro, pihak sekolah, guru pendamping, dan masyarakat setempat.

Baca Juga  Dampak Bullying Bagi Kesehatan Mental Anak

Akbar berharap pengalaman yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurutnya, materi yang diberikan diharapkan dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan bermain.

“Kami berharap anak-anak tidak hanya mendapatkan pengalaman bermain, tetapi juga membawa pulang keberanian, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bijaksana. Melalui kegiatan ini, kami juga ingin mendukung terwujudnya Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak,” ujarnya.

Salah seorang peserta, Haidar, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru karena materi disampaikan melalui permainan yang membuatnya lebih mudah dipahami. Ia juga mengaku lebih bersemangat mengikuti setiap tantangan bersama teman-temannya.

“Kegiatan ini membuat aku dan teman-teman semakin semangat belajar serta belajar bekerja sama dalam tim. Belum pernah ada kegiatan seperti ini di desa kami, jadi kami sangat senang bisa mengikuti SAKA ini,” katanya.

 

*) Penulis: Ata Bina Lujjah Fauziyah