BGN Dorong Peran Guru Perkuat Edukasi Gizi dalam Pelaksanaan Program MBG di Sekolah

BGN mendorong peran guru untuk memperkuat edukasi gizi serta pola hidup bersih dan sehat dalam pelaksanaan program MBG di sekolah. (Foto: Dok. BGN)

MAKLUMAT — Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong peran guru untuk memperkuat edukasi gizi serta pola hidup bersih dan sehat dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, menyebut bahwa peran edukatif guru dapat memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak usia dini. Misalnya melalui kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan.

“Salah satu kebiasaan yang dapat diajarkan guru kepada siswa adalah mencuci tangan sebelum makan. Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan dan kesehatan sebelum mengonsumsi makanan,” ujarnya di Jakarta, Ahad (6/9/2026).

Selain itu, kata dia, guru juga dapat menjelaskan kandungan gizi dalam menu MBG yang diterima siswa. Edukasi tersebut diharapkan membuat siswa memahami manfaat dan zat gizi dari makanan yang mereka konsumsi.

Ia berharap, melalui edukasi yang diberikan oleh guru dapat membentuk kebiasaan positif siswa, yang kemudian tidak hanya diterapkan di sekolah.

“Edukasi mengenai gizi dan pola hidup sehat diharapkan dapat membentuk kebiasaan positif pada siswa. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan ketika berada di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga  Muhammadiyah Kelola Ratusan SPPG dalam Berbagai Model, Terbukti Aman dan Higienis

Pastikan Kondisi Makanan sebelum Dikonsumsi

Lebih jauh, Hida juga menilai guru memiliki peran dalam memastikan makanan yang diterima siswa berada dalam kondisi baik, aman, dan layak sebelum dikonsumsi.

Ia menjelaskan, menu makanan dalam program MBG telah melalui pemeriksaan organoleptik secara berlapis sebelum didistribusikan kepada guru dan siswa. Pemeriksaan tersebut dilakukan mulai dari pengawas gizi, Kepala SPPG, hingga PIC sekolah.

“Artinya, makanan yang sampai ke sekolah telah melalui pemeriksaan secara berlapis mulai dari pengawas gizi, Kepala SPPG dan PIC sekolah,” terangnya.

“Namun, kami berharap guru juga dapat menjadi pemeriksa organoleptik terakhir sebelum makanan dikonsumsi bersama para siswa. Ini menjadi bagian dari kehati-hatian untuk memastikan makanan yang diterima dalam kondisi baik,” sambung Hida.

Menurutnya, pemeriksaan oleh guru di sekolah menjadi lapisan tambahan dalam pengawasan makanan dalam menu MBG benar-benar aman dan layak sebelum dikonsumsi siswa.

Guru Dampingi Siswa

Selain itu, Hida juga mendorong guru supaya mendampingi para siswa selama proses makan berlangsung, termasuk mengingatkan mereka untuk mengonsumsi makanan yang telah disediakan secara baik dan tertib.

Dengan pendampingan tersebut, pelaksanaan program MBG diharapkan tidak hanya berfokus pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.

Baca Juga  Wagub Jatim Emil Dardak Dukung Ketegasan BGN Suspend SPPG Bermasalah

“Keterlibatan guru sebagai pendamping sekaligus edukator dapat memperkuat manfaat MBG bagi siswa. Edukasi yang diberikan secara langsung diharapkan dapat membantu siswa menerapkan kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Hida.***