Ekonomi Tak Menentu, Ini 5 Cara Biar Keuangan Tetap Aman

menabung

MAKLUMAT — Kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat masyarakat perlu lebih cermat mengatur keuangan. Penghasilan rutin saja tidak cukup jika pengeluaran terus meningkat tanpa perencanaan.

Karena itu, menjaga dana darurat, membatasi utang, mengendalikan pengeluaran, serta memilih instrumen investasi yang sesuai menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi finansial tetap sehat.

Perencana keuangan Jundi Muhammad Himmatul Fuad, CFP menyarankan masyarakat memperkuat fondasi keuangan sebelum mengambil keputusan finansial yang berisiko.

“Kita perlu mengelola keuangan dengan lebih bijak supaya pengeluaran rutin tetap terjaga dan tujuan keuangan bisa tercapai,” kata Jundi dikutip, (Senin 14/9/2026)

Berikut lima langkah yang bisa dilakukan untuk menghadapi kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

1.Pastikan Dana Darurat Tetap Aman

Dana darurat menjadi benteng pertama ketika kondisi keuangan terganggu. Dana ini dapat digunakan untuk menghadapi kebutuhan mendesak, seperti kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau kebutuhan tidak terduga lainnya.

Bagi keluarga, menyisihkan sekitar 5 persen dari penghasilan setiap bulan dapat menjadi salah satu cara membangun dana darurat secara bertahap.

Kepala keluarga yang sudah memiliki anak idealnya memiliki dana darurat minimal enam kali pengeluaran bulanan, di luar tabungan dan investasi.

Sebagai contoh, jika kebutuhan bulanan mencapai Rp10 juta, dana darurat yang perlu disiapkan setidaknya Rp60 juta.

Baca Juga  Perempuan Mandiri Dimulai dari Financial Freedom, Ini 10 Langkah Mewujudkannya

Dana tersebut sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan sehingga bisa digunakan ketika keadaan mendesak.

2.Jaga Kesehatan dan Maksimalkan Proteksi

Kondisi ekonomi yang sulit akan semakin berat jika seseorang harus menghadapi biaya kesehatan besar tanpa perlindungan.

Karena itu, masyarakat perlu memastikan perlindungan kesehatan tetap tersedia. Bagi pegawai yang sudah memiliki BPJS Kesehatan, perlindungan tersebut dapat menjadi fondasi utama.

Jika membutuhkan perlindungan tambahan, asuransi kesehatan bisa dipertimbangkan sesuai kemampuan finansial. Alokasi untuk asuransi kesehatan dapat berada di kisaran 5-10 persen dari penghasilan bulanan.

Namun, proteksi tidak hanya berbentuk asuransi. Menjaga kesehatan melalui olahraga, makanan bergizi, dan pola hidup sehat juga merupakan bagian dari strategi keuangan.

Pengeluaran konsumtif, termasuk rokok, dapat dikurangi agar anggaran dialihkan untuk kebutuhan yang lebih produktif.

3.Jangan Tambah Utang Konsumtif

Saat ekonomi penuh ketidakpastian, menjaga arus kas menjadi semakin penting. Salah satu caranya adalah tidak menambah utang baru yang sebenarnya tidak mendesak.

Bagi masyarakat yang masih memiliki cicilan kartu kredit, KPR, atau pinjaman lainnya, total pembayaran utang idealnya tidak lebih dari 30 persen penghasilan bulanan.

Jika cicilan sudah mengambil porsi besar pendapatan, tambahan pinjaman justru bisa mempersempit ruang untuk memenuhi kebutuhan pokok, menabung, dan berinvestasi.

Baca Juga  PBB Balas Surat Celios yang Minta Investigasi Data Pertumbuhan Ekonomi RI

Ingin membeli barang tertentu? Menabung terlebih dahulu dapat menjadi pilihan yang lebih aman dibanding mengambil pinjaman konsumtif baru.

Sementara bagi yang belum memiliki utang, pinjaman sebaiknya diarahkan untuk kebutuhan produktif dan tetap memperhitungkan kemampuan membayar cicilan setiap bulan.

4.Pangkas Langganan yang Tak Lagi Terpakai

Pengeluaran kecil sering kali luput dari perhatian. Salah satunya biaya langganan digital. Platform streaming, aplikasi hiburan, penyimpanan cloud, hingga berbagai layanan digital dapat menjadi pengeluaran rutin. Jika tidak dikontrol, akumulasinya bisa cukup membebani keuangan. Karena itu, periksa kembali seluruh layanan yang dibayar setiap bulan.

Pertahankan layanan yang benar-benar dibutuhkan, terutama untuk menunjang pekerjaan. Sesuaikan pula kapasitas atau paket layanan dengan kebutuhan sebenarnya. Untuk hiburan, pengeluaran sebaiknya dibatasi dan tidak melebihi 5 persen dari penghasilan bulanan.

5.Perkuat Tabungan dan Pilih Investasi Sesuai Risiko

Menabung dan berinvestasi tetap penting meski kondisi ekonomi sedang bergejolak. Idealnya, minimal 10 persen penghasilan bulanan dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Dana tersebut dapat dipersiapkan untuk berbagai tujuan, mulai dari pendidikan anak, dana pensiun, hingga membeli rumah.

Dalam kondisi ekonomi yang fluktuatif, instrumen dengan risiko relatif lebih rendah dapat menjadi pilihan bagi investor yang membutuhkan stabilitas, seperti:

-Surat Berharga Negara (SBN)

-Reksa dana pasar uang

Baca Juga  SUMU Jabar Gelar Kopdar 2026, Perkuat Kolaborasi dan Jejaring Pelaku Usaha Muhammadiyah

-Emas

Sementara itu, saham dan reksa dana saham memiliki risiko lebih tinggi. Karena itu, instrumen tersebut sebaiknya dipilih setelah investor memahami kondisi pasar dan mengetahui profil risikonya.

Jangan Kejar Cuan, Perkuat Fondasi Keuangan

Ketika ekonomi tidak pasti, strategi keuangan tidak cukup hanya berorientasi pada mencari keuntungan. Fondasi keuangan justru perlu diperkuat terlebih dahulu.

Dana darurat, proteksi kesehatan, dan pengendalian utang menjadi tiga lapisan penting sebelum seseorang meningkatkan porsi investasi.

Di sisi lain, pengeluaran rutin perlu dievaluasi secara berkala. Langganan digital yang jarang digunakan mungkin terlihat kecil, tetapi jika terus dibayar setiap bulan, nilainya dapat menggerus kemampuan menabung.

Prinsipnya sederhana: amankan arus kas sebelum mengejar imbal hasil investasi. Dengan pendapatan yang dikelola secara disiplin, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk menghadapi kebutuhan mendadak sekaligus tetap mengejar tujuan finansial jangka panjang.

Lima Langkah Utama

1.Bangun dan amankan dana darurat.

2.Pastikan perlindungan kesehatan memadai.

3.Hindari menambah utang konsumtif.

4.Evaluasi seluruh biaya langganan bulanan.

5.Tingkatkan tabungan dan pilih investasi sesuai profil risiko.

Pengelolaan keuangan yang disiplin bukan berarti menghentikan seluruh pengeluaran. Langkah utamanya adalah memastikan setiap rupiah memiliki tujuan yang jelas, sehingga kebutuhan hari ini tetap terpenuhi tanpa mengorbankan masa depan.