Gus Fawait Raih Gelar Doktor, Disertasinya Jadi Pijakan Atasi Kemiskinan Jember

fawait

MAKLUMAT – Bupati Jember Muhammad Fawait resmi menyandang gelar doktor. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga pada Sabtu (29 Agustus 2026).

Dalam disertasinya, pria yang karib disapa Gus Fawait itu mengangkat persoalan kemiskinan. Isu itu pula yang menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Jember.

Gus Fawait menginginkan penelitian dalam disertasi tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik. Ia berharap hasil kajiannya dapat menjadi salah satu pijakan dalam merumuskan kebijakan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

”Kalau kita menuruti kesibukan, ya pasti akan selalu sibuk. Namun, karena kita ingin membuat sebuah kebijakan yang betul-betul sesuai dengan kaidah nilai akademik, tidak ada salahnya kalau kita terus belajar,” ujar Fawait.

Menurutnya, persoalan kemiskinan membutuhkan kebijakan yang tidak hanya didasarkan pada pengalaman atau intuisi pemerintah, tetapi juga kajian akademik. Karena itu, ilmu ekonomi yang dipelajarinya selama menempuh pendidikan doktoral ingin ia gunakan untuk membaca persoalan kemiskinan secara lebih mendalam.

Pengalaman sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sebelum menjadi bupati membuat Fawait melihat langsung berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika kemudian memimpin Jember, pengalaman tersebut bertemu dengan pengetahuan yang diperolehnya di perguruan tinggi.

Baca Juga  Hakim Korupsi: Pengkhianatan Terhadap Adil dan Takwa

Ia menilai teori akademik justru dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih terukur. ”Justru kebalikannya. Saya banyak mendapatkan ilmu dari kampus, teori-teorinya jelas, dan itu bisa saya praktikkan langsung dalam mengambil kebijakan untuk masyarakat,” katanya.

Pendidikan doktoral itu dijalani Fawait di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah. Agenda pemerintahan tetap berjalan ketika ia harus menyelesaikan kewajiban akademik, termasuk penelitian dan penulisan disertasi.

Bagi Fawait, kesibukan sebagai kepala daerah bukan alasan untuk berhenti belajar. Latar belakang pendidikan pesantren yang dijalaninya juga membentuk pandangannya mengenai pentingnya belajar sepanjang hayat.

Ia mengatakan, pengetahuan yang diperoleh dari kampus harus memberikan manfaat di luar lingkungan akademik. Karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, hasil penelitian mengenai kemiskinan tersebut akan diuji melalui kebijakan pemerintah daerah.

”Ilmu yang kita dapatkan jangan hanya berhenti di kampus. Harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujar Fawait.

Gelar doktor dari FEB Unair sekaligus melanjutkan perjalanan akademik Fawait di kampus tersebut. Ia sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana di Unair sebelum kembali menempuh pendidikan doktoral.

Fawait menyampaikan apresiasi kepada para akademisi FEB Unair yang mendampinginya selama menjalani pendidikan. Ia juga berterima kasih kepada para dosen pembimbing sejak jenjang sarjana hingga doktoral, serta Dekan FEB Unair Dr. Rudi Purwono, S.E., M.S.E. dan jajaran fakultas.

Baca Juga  Tukar Uang Lebaran di Tepi Jalan Riba Fadhl! Ini Penjelasan Gubes Ekonomi Islam Unair

Kini, setelah menyandang gelar doktor, Fawait menghadapi tantangan yang lebih konkret: membuktikan bahwa kajian mengenai kemiskinan yang dituangkan dalam disertasinya dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat Jember.

Bagi Fawait, gelar doktor bukan garis akhir. Justru setelah kembali dari ruang akademik, persoalan kemiskinan di lapangan menjadi ujian berikutnya bagi gagasan yang ia teliti selama menempuh pendidikan doktoral.

Kepada mahasiswa Unair, Fawait berpesan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar. ”Manfaatkan sebaik mungkin ilmu dari para dosen. Saya akan bangga kalau adik-adik semuanya cepat lulus,” katanya. (*)