MAKLUMAT — Indonesia kembali ditegaskan sebagai salah satu negara dengan tingkat kedermawanan tertinggi di dunia. Menariknya, semangat berbagi itu kini tumbuh kuat di kalangan Generasi Z.
Hal itu disampaikan Helmy Yahya saat menjadi pembicara dalam talkshow Kick Off Program Ramadan 1447 Hijriah Lazismu, Kamis (15/1), di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.
Helmy mencontohkan keterlibatan anak-anak muda dalam berbagai bencana di Sumatera. Banyak dari mereka turun langsung menjadi relawan, bahkan menetap berbulan-bulan untuk membantu proses pemulihan. “Ini menunjukkan kepedulian yang nyata. Tinggal bagaimana generasi muda ini diarahkan. Kalau mereka berorganisasi dengan rapi, ada pembukuan, itu bisa mengamplifikasi kedermawanan bangsa,” ujar Helmy.
Menurut dia, problem hari ini justru datang dari generasi yang lebih tua yang kerap meremehkan Gen Z. Padahal, potensi mereka sangat besar untuk berdiri di garda terdepan perubahan sosial. Dari sisi ekonomi, Helmy menyebut Gen Z juga menyimpan peluang besar. Sejumlah riset memprediksi bahwa pada 2030–2035, Gen Z akan menjadi generasi paling sejahtera karena penguasaan teknologi. “Mereka menguasai teknologi. Itu kunci,” katanya.
Berbicara soal filantropi, Helmy menekankan pentingnya ekosistem zakat yang tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga memberdayakan. “Kita perlu memberi kail, bukan sekadar memberi makan. Edukasi dan bekal itu yang penting,” ucapnya. Ia menilai Muhammadiyah telah berada di jalur yang tepat, terutama melalui program pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan difabel dan lansia.
Ramadan sebagai Momentum Literasi Keuangan Syariah
Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum berbagi angka, tetapi juga berbagi kemampuan. Hilman melihat maraknya kajian Ramadan sebagai peluang besar untuk membangun literasi keuangan syariah di masyarakat, termasuk perbankan dan asuransi syariah. “Literasi zakat, infak, dan sedekah penting. Tapi kita juga perlu mulai mengenalkan keuangan syariah berbasis perbankan dan asuransi,” ujarnya.
Menurut Hilman, tanpa literasi yang kuat, industri keuangan syariah akan sulit berkembang secara berkelanjutan. Ia juga mendorong Lazismu untuk mengembangkan konsep filantropi entrepreneurship, seperti yang telah dijalankan melalui Pasar Ramadan Kauman dan Jogokariyan. “Itu ekosistem yang butuh desain kuat dan perjuangan panjang,” katanya.
Hilman turut menyoroti tingginya antusiasme publik terhadap isu kemanusiaan, terutama di wilayah terdampak bencana. Kondisi ini, menurutnya, menuntut tata kelola keuangan yang semakin ketat dan transparan. “Distribusi bantuan harus hati-hati, efektif, efisien, dan tepat sasaran,” tegasnya.
Lima Program Besar Lazismu Sambut Ramadan
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menyebut Ramadan sebagai momentum strategis untuk memperkuat literasi zakat dan kebaikan sosial keagamaan lainnya. Ia memaparkan lima program besar Lazismu Pusat menjelang Ramadan 1447 H, yakni: Back to Masjid, Tebar Takjil, Kado Ramadan, Program Lansia, dan Mudikmu Aman. “Semua program berangkat dari filosofi yang mendalam dan kolaborasi lintas majelis Muhammadiyah,” ujar Rais.
Melalui rangkaian program tersebut, Lazismu berharap peran zakat semakin nyata dalam memajukan kesejahteraan bangsa, sekaligus menjadikan Ramadan sebagai ruang kolektif untuk berdaya bersama.***














