MAKLUMAT — Sebuah gubuk reyot di Dusun Lenteng, Desa Nyeloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, mendadak menjadi perbincangan banyak orang di media sosial. Gubuk reyot itu dihuni dua nenek kakak-beradik yang selama bertahun-tahun bertahan hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Dinding anyaman bambu yang rapuh, atap bocor, serta lantai yang kerap tergenang air saat hujan menjadi bagian dari keseharian mereka. Gubuk berukuran sekitar 5 x 7 meter itu nyaris roboh dan tak mampu sepenuhnya melindungi penghuninya dari panas terik maupun hujan deras.
Di ruang sempit itulah Masdijha (70) dan Patha (60) menjalani hari-hari dalam sunyi. Jauh dari kata layak, keduanya bertahan hidup dengan segala keterbatasan, hingga kisah mereka akhirnya viral di media sosial dan mengetuk nurani banyak orang.
Setelah ramai diperbincangkan di linimasa, kepedulian pun datang dalam wujud nyata. Pada Ahad siang (18/1/2026), Komunitas Alumni Haji dan Umrah Muhammadiyah Jawa Timur bersama Lazismu Kabupaten Sampang turun langsung menyerahkan bantuan kemanusiaan.
Rombongan yang dipimpin unsur Muhammadiyah itu datang tanpa banyak berkomentar. Ketua Lazismu Sampang Suwadi, Ketua PCM Kedungdung Abdul Qorib, serta para relawan menyaksikan langsung kondisi yang selama ini hanya terlihat di layar gawai.
Rumah yang tak layak huni, dapur seadanya, hingga penerangan yang masih bergantung pada sambungan listrik tetangga menjadi pemandangan yang mereka temui di lokasi.
Kondisi Masdijha kini semakin terbatas. Ia lebih banyak terbaring setelah mengalami patah tulang akibat terjatuh ke dalam sumur. Tubuhnya lemah, sementara tempat tidur yang ia gunakan nyaris tanpa alas yang memadai. Di sisinya, Patha setia menemani dan merawat sang kakak, menjaga kehidupan tetap berjalan di tengah ruang yang serba terbatas.
Bantuan yang diserahkan siang itu memang sederhana, namun sarat makna. Rombongan menyerahkan lemari, perlengkapan salat, paket sembako, pakaian, serta uang tunai. Sembako dan perlengkapan ibadah berasal dari komunitas alumni, sementara bantuan tunai disalurkan langsung oleh Lazismu Kabupaten Sampang.
Ketua PCM Kedungdung Abdul Qorib mengatakan, bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian kolektif setelah kondisi dua nenek itu diketahui banyak pihak.
“Ini bentuk kepedulian bersama. Setelah kisah mereka viral, banyak yang tergerak untuk membantu,” ujarnya.
Bagi Masdijha dan Patha, bantuan tersebut bukan sekadar barang. Ia menjadi tanda bahwa di balik sunyi dan keterbatasan, masih ada tangan-tangan yang terulur, membawa harapan di tengah gubuk yang nyaris roboh.***














