Kemandirian Energi Nasional Kunci Hadapi Ancaman Penutupan Selat Hormuz

MAKLUMAT – Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dengan Iran masih memanas. Imbasnya adalah penutupan Selat Hormuz yangbisa membawa dampak panjang. Tidak hanya bagi Indonesia, tapi penjuru bumi bisa terseret ke pusaran di Timur Tengah.

Bagi Indonesia, yang masih tergantung dengan impor minyak, kemandirian energi nasional tidak bisa ditawar lagi. Opsi ini menjadi satu-satunya juru selamat agar negeri ini tak oleng diterpa krisis energi global.

Mantan Duta Besar RI untuk Kolombia sekaligus dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Priyo Iswanto menegaskan bahwa tanpa kemandirian energi nasional, Indonesia akan terus rentan terhadap gejolak geopolitik dunia.

“Kemandirian energi adalah kunci agar tidak terus-menerus terdampak gejolak global. Indonesia punya potensi besar, tapi tanpa pengelolaan tepat, potensi itu tidak cukup,” ujarnya, Kamis (3/4/2026).

Urat Nadi Energi Dunia yang Terancam Tutup

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Ini adalah urat nadi distribusi energi global. Jika ditutup, harga minyak dunia langsung meroket. Dan Indonesia, meski punya sumber daya alam, tetap bakal kepanasan.

Priyo menilai situasi ini bukan sekadar urusan politik luar negeri. Ini ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga  UMM Berhasil Sulap 92 Persen Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

“Penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Dalam kondisi ini, ruang gerak diplomasi jadi terbatas karena masalah utamanya adalah berkurangnya pasokan energi,” tegasnya.

Subsidi Energi Bisa Membengkak

Yang paling mengkhawatirkan adalah dampak langsung terhadap APBN. Ketika harga minyak naik, subsidi energi otomatis ikut membengkak. “Diplomasi saja tidak cukup. Pemerintah harus siap menghadapi tekanan terhadap APBN, terutama pada subsidi energi yang akan meningkat,” ujar Priyo.

Itu sebabnya ia mendesak pemerintah melakukan kemandirian energi nasional agar tidak sekadar menjadi wacana.

SDA Melimpah & Penduduk Produktif

Priyo optimistis Indonesia punya modal besar. Dua di antaranya: sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Namun, modal itu percuma jika pengelolaannya amburadul. Kemandirian energi nasional hanya akan terwujud jika ada strategi yang berorientasi pada ketahanan domestik.

“Harus memperkuat fondasi domestik, dari sektor industri hingga energi, agar tidak selalu rentan saat terjadi gangguan pasokan global,” tambahnya.

Agar kemandirian energi nasional benar-benar tercapai, Priyo memaparkan sejumlah langkah darurat sekaligus jangka panjang yang meliputi pengendalian konsumsi BBM sektor non-vital, serta keterlibatan masyarakat, mempercepat diversifikasi energi, genjot energi terbarukan secara massif, dan pertimbangkan energi nuklir.

Baca Juga  Peringati Sumpah Pemuda, UMM Tunjukkan Cara Merawat Merah Putih

“Kita tidak bisa terus bergantung pada energi fosil. Ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri nasional,” pungkasnya.