Kesenian Turonggo Yakso Trenggalek dan Budaya Mataraman Bakal Tampil di Korea Selatan

Kesenian tari jaranan Turonggo Yakso asal Trenggalek, bakal tampil di panggung dunia yang digelar di Korea Selatan September-November 2026 mendatang. (Foto: Netrawarga)

MAKLUMAT — Kesenian Turonggo Yakso dari Kabupaten Trenggalek akan tampil dalam ajang The 2026 World Island Exhibition di Yeosu, Korea Selatan, yang bakal berlangsung pada 5 September hingga 4 November 2026 mendatang. Bersama sejumlah kesenian dari kawasan Mataraman, Turonggo Yakso akan mewakili Indonesia dalam forum promosi budaya dan pariwisata internasional tersebut.

Ajang internasional bertajuk “Island, Connecting the Ocean and the Future” tersebut akan diikuti lebih dari 200 negara. Delegasi Indonesia dijadwalkan tampil sebagai tarian pembuka dengan menampilkan ragam budaya Nusantara di hadapan peserta dan pengunjung dari berbagai negara.

Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menyambut positif keikutsertaan Trenggalek maupu kawasan Mataraman dalam ajang tersebut. Menurutnya, kesempatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya lokal sekaligus memperkuat promosi Indonesia di tingkat internasional.

Menurutnya, Turonggo Yakso bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga menggambarkan identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Trenggalek.

“Ini adalah kesempatan emas bagi Trenggalek dan kawasan Mataraman untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” ujarnya, dikutip laman resmi DPR RI pada Jumat (19/6/2026).

“Turonggo Yakso bukan hanya seni pertunjukan, tetapi identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat yang harus kita perkenalkan secara lebih luas,” sambung Novita.

Baca Juga  Sikap Ketua LHKP Jatim Respon Polemik Tambang Emas di Trenggalek

Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Daerah

The 2026 World Island Exhibition sendiri merupakan pameran kepulauan berskala internasional yang akan mengubah Kota Yeosu, Provinsi Jeolla Selatan, menjadi ruang pameran terbuka selama 61 hari. Berbagai pulau dan kawasan pesisir akan dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan untuk menampilkan potensi budaya, pariwisata, lingkungan, serta ekonomi kreatif dari berbagai negara.

Kehadiran Trenggalek dan kawasan Mataraman lainnya dalam ajang tersebut, menurut Novita juga dapat membuka peluang bagi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Ia juga menegaskan bahwa promosi budaya perlu memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Sebab itu, ia mendorong berbagai potensi seni dan budaya daerah untuk bisa mentas di panggung-panggung internasional.

“Budaya tidak boleh hanya menjadi tontonan. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan pariwisata, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu kami terus mendorong agar potensi-potensi daerah seperti Trenggalek mendapatkan ruang tampil di level dunia,” tandas Novita.

Selain Turonggo Yakso, delegasi Indonesia juga akan memperkenalkan sejumlah budaya khas kawasan Mataraman, termasuk budaya Ponorogo, sebagai bagian dari keberagaman tradisi Jawa Timur.

Baca Juga  Wakil Ketua PDM Trenggalek: Tak Ada Daerah Kaya di Indonesia Ditopang dari Tambang

Politisi PI Perjuangan (PDIP) itu berharap supaya partisipasi budaya-budaya lokal tanah air tersebut dapat memperluas pengenalan budaya Indonesia di tingkat global, sekaligus memperkuat citra bangsa melalui seni dan tradisi lokal.

“Ini bukan hanya tentang Trenggalek, tetapi tentang bagaimana budaya Indonesia berdiri sejajar dengan budaya bangsa-bangsa lain di dunia. Kita ingin dunia mengenal Indonesia melalui karya, tradisi, dan kearifan lokal yang kita miliki,” tandas Novita, yang merupakan legislator dari Dapil Jawa Timur VII yang mencakup Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, dan Magetan.

Tentang Kesenian Turonggo Yakso

Turonggo Yakso sendiri merupakan kesenian tari jaranan khas Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Kesenian yang diciptakan sekitar tahun 1979 oleh seniman lokal Pamrih dan Supriyanto itu memiliki ciri khas kuda kepang berkepala raksasa atau yakso yang berambut tebal, menggambarkan simbol kekuatan alam serta pengendalian hawa nafsu.

Tarian tersebut berakar dari ritual agraris tradisi masyarakat Dongko, Baritan, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan hingga kini tetap menjadi salah satu identitas budaya Trenggalek.