Ketuhanan dan Krisis Moral Manusia Modern

ketuhanan

MAKLUMAT — Peradaban manusia sedang berada pada sebuah persimpangan. Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, teknologi semakin canggih, dan kecerdasan buatan mulai memasuki hampir seluruh ruang kehidupan.

Namun, di tengah kemajuan itu, manusia masih berhadapan dengan persoalan lama: ketidakadilan, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, kemiskinan, dan krisis moral.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: apakah kemajuan pengetahuan selalu membuat manusia menjadi lebih manusiawi?

Pertanyaan tersebut penting karena ukuran kemajuan peradaban selama ini cenderung diletakkan pada kemampuan manusia menguasai ilmu pengetahuan, menghasilkan teknologi, meningkatkan ekonomi, dan membangun berbagai infrastruktur. Padahal, kemajuan material tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan moral.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini tentu patut diapresiasi karena menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan. Namun, di balik angka tersebut tetap terdapat jutaan manusia yang kehidupannya belum sepenuhnya terbebaskan dari persoalan kemiskinan.

Pada saat yang sama, BPS mencatat gini ratio Indonesia pada Maret 2026 sebesar 0,368. Angka ini meningkat dibandingkan September 2025 yang berada pada 0,363. Data tersebut tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai kegagalan moral. Akan tetapi, ia cukup menjadi alasan untuk kembali bertanya tentang arah pembangunan: apakah pertumbuhan dan kemajuan telah dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat?

Di sinilah pembicaraan mengenai ketuhanan menjadi relevan.

Ketuhanan tidak semestinya hanya menjadi perdebatan tentang ada atau tidak adanya Tuhan. Ketuhanan juga tidak cukup berhenti pada ritual keagamaan. Ia harus menemukan bentuk konkretnya dalam kehidupan manusia.

Dalam perspektif Islam, tauhid merupakan fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Mengakui keesaan Allah bukan hanya persoalan keyakinan di dalam hati, tetapi juga konsekuensi moral dalam kehidupan.

Seseorang yang meyakini Allah Maha Mengetahui seharusnya memiliki keberanian untuk tetap jujur ketika tidak ada manusia yang melihat. Seseorang yang meyakini Allah Maha Adil seharusnya tidak mudah berlaku zalim ketika memperoleh kekuasaan. Seseorang yang meyakini adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah seharusnya memahami bahwa jabatan, harta, ilmu, dan kekuasaan bukan sekadar fasilitas, melainkan amanah.

Dengan demikian, tauhid memiliki dimensi sosial.

Keimanan yang kuat semestinya melahirkan kepekaan terhadap penderitaan manusia. Ibadah seharusnya membentuk kejujuran. Ilmu seharusnya melahirkan kemaslahatan. Kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi, bukan menindas.

Baca Juga  Pakar Pendidikan: TKA Sangat Bermanfaat bagi Murid

Jika ketuhanan hanya berhenti pada hubungan vertikal, sementara hubungan horizontal dengan sesama manusia diabaikan, maka agama kehilangan sebagian daya transformasinya.

Kita dapat melihat tantangan tersebut dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Pemerintah Indonesia pada 2026 telah menyusun pedoman pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dalam pendidikan. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membutuhkan bukan hanya kecakapan, tetapi juga tanggung jawab dan etika.

Teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral manusia.

Kecerdasan buatan dapat menghasilkan informasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab memeriksa kebenarannya. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah pekerjaan tersebut membawa kemaslahatan atau justru menimbulkan kerugian.

Karena itu, persoalan terbesar bukan semata-mata apakah manusia mampu menciptakan teknologi yang semakin pintar. Persoalan yang jauh lebih penting adalah apakah manusia yang menggunakan teknologi tersebut memiliki kebijaksanaan.

Kita sedang memasuki masa ketika kecerdasan buatan berkembang lebih cepat daripada kesiapan moral masyarakat dalam menghadapinya. UNESCO mencatat Indonesia memiliki ratusan perguruan tinggi yang menawarkan program berkaitan dengan artificial intelligence dan machine learning. Namun, Indonesia masih menghadapi kesenjangan talenta digital yang besar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan teknologi memang penting. Tetapi pendidikan teknologi tanpa pendidikan karakter dapat menghasilkan manusia yang terampil tanpa arah.

Maka, pendidikan tidak boleh hanya bertanya: apakah peserta didik mampu menguasai teknologi?

Pendidikan juga harus bertanya: untuk apa teknologi itu digunakan?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada persoalan yang lebih mendalam. Pendidikan seharusnya tidak hanya membentuk manusia yang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki integritas.

Sebab kita dapat menemukan orang yang berpendidikan tinggi tetapi tidak jujur. Kita dapat menemukan orang yang memiliki kecerdasan luar biasa tetapi menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi. Kita dapat menemukan orang yang memiliki jabatan tetapi menggunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi.

Persoalannya bukan lagi kekurangan pengetahuan.

Persoalannya adalah hilangnya orientasi moral.

Komisi Pemberantasan Korupsi melalui Survei Penilaian Integritas juga menunjukkan bahwa persoalan integritas masih menjadi pekerjaan besar dalam tata kelola pemerintahan. Sistem, aturan, pengawasan, dan sanksi memang diperlukan. Namun, semua itu tetap membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran moral.

Baca Juga  Agung Danarto Ungkap Dampak Signifikan Muhammadiyah dalam Mencerdaskan Bangsa Indonesia

Sebab aturan yang baik tidak akan banyak berarti apabila manusia yang menjalankannya terus mencari celah untuk melanggarnya.

Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting.

Agama bukan sekadar kumpulan doktrin tentang kehidupan setelah kematian. Agama juga memberikan orientasi tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan di dunia.

Dalam Islam, manusia diposisikan sebagai makhluk yang memiliki amanah. Karena itu, kehidupan tidak dapat dijalani hanya dengan mengejar kepentingan pribadi. Ada hak orang lain yang harus dijaga, ada keadilan yang harus ditegakkan, dan ada tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Ketuhanan dengan demikian bukanlah konsep yang jauh dari persoalan sosial.

Ketuhanan hadir ketika seorang pedagang memilih tidak menipu meskipun memiliki kesempatan. Ketuhanan hadir ketika seorang pejabat menolak menyalahgunakan jabatan. Ketuhanan hadir ketika seorang guru mendidik dengan ketulusan. Ketuhanan hadir ketika seseorang memilih menolong orang lain tanpa menunggu pujian.

Dengan cara pandang tersebut, keberagamaan tidak hanya diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari seberapa jauh nilai-nilai ketuhanan hadir dalam perilakunya.

Inilah yang menjadi tantangan kehidupan beragama di tengah modernitas.

Manusia dapat memiliki rumah ibadah yang megah, tetapi jangan sampai kehilangan kepedulian terhadap tetangganya. Manusia dapat berbicara tentang kesalehan, tetapi jangan sampai kesalehan itu berjalan tanpa keadilan. Manusia dapat menguasai ilmu agama, tetapi jangan sampai ilmu tersebut justru membuatnya merasa lebih tinggi daripada manusia lain.

Ketuhanan semestinya melahirkan kerendahan hati.

Sebab semakin manusia mengenal kebesaran Tuhan, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.

Kesadaran tersebut penting di tengah dunia yang semakin menempatkan manusia sebagai pusat kekuasaan. Kemampuan manusia menciptakan teknologi kadang membuat manusia lupa bahwa tidak semua yang dapat dilakukan berarti layak dilakukan.

Tidak semua yang menguntungkan berarti benar.

Tidak semua yang legal berarti etis.

Dan tidak semua yang dapat diciptakan berarti harus diciptakan.

Di sinilah akal dan wahyu seharusnya tidak dipertentangkan. Akal membantu manusia membaca realitas, sementara nilai-nilai agama memberikan orientasi agar kemampuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Baca Juga  Ratusan Guru Ikuti TPN XII di Banyuwangi, Bupati Ipuk Serukan Penguatan Pendidikan Berbasis Lingkungan

Filsafat mengajarkan manusia untuk bertanya. Agama mengajarkan manusia tentang nilai dan pertanggungjawaban. Pendidikan membentuk kebiasaan agar nilai tersebut hadir dalam tindakan.

Ketiganya dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan manusia.

Pada akhirnya, persoalan manusia modern bukan karena manusia terlalu banyak berpikir. Justru manusia perlu berpikir lebih dalam.

Bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan sesuatu, tetapi mengapa sesuatu itu harus didapatkan.

Bukan hanya bagaimana menjadi kaya, tetapi untuk apa kekayaan digunakan.

Bukan hanya bagaimana memperoleh kekuasaan, tetapi untuk siapa kekuasaan itu dijalankan.

Bukan hanya bagaimana menciptakan teknologi, tetapi untuk kemanusiaan macam apa teknologi tersebut digunakan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa manusia kembali kepada satu persoalan mendasar: makna kehidupan.

Sebab manusia yang kehilangan makna akan mudah menjadikan kemampuan sebagai tujuan. Ilmu menjadi alat kekuasaan. Kekayaan menjadi ukuran harga diri. Jabatan menjadi simbol status. Teknologi menjadi sarana dominasi.

Padahal, semua itu hanyalah sarana.

Tujuan akhirnya tetap manusia dan kemaslahatan kehidupan.

Maka, ketuhanan perlu dihadirkan kembali bukan sekadar sebagai tema diskusi, tetapi sebagai sumber orientasi moral.

Keimanan harus mampu menjadikan manusia lebih jujur. Ilmu harus membuat manusia semakin rendah hati. Kekuasaan harus membuat manusia semakin bertanggung jawab. Kekayaan harus membuat manusia semakin peduli. Dan teknologi harus membuat kehidupan semakin manusiawi.

Barangkali manusia modern tidak kekurangan kecerdasan.

Yang kita kekurangan adalah kebijaksanaan dalam menggunakan kecerdasan.

Kita tidak kekurangan teknologi.

Yang kita perlukan adalah etika dalam menggunakannya.

Kita tidak kekurangan aturan.

Yang kita butuhkan adalah manusia yang memiliki integritas.

Dan mungkin kita tidak kekurangan pembicaraan tentang Tuhan.

Yang kita perlukan adalah menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan nyata.

Kemajuan sebuah peradaban bukan hanya ditentukan oleh seberapa tinggi manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh seberapa kuat manusia menjaga keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan martabat sesamanya.

Di situlah ketuhanan menemukan maknanya: ketika iman tidak hanya tinggal di dalam kata, tetapi menjelma menjadi tindakan.

 

*) Penulis: Sulis Setyawati

Guru PAI di SMKN 1 Pacitan