KH Maftuch Dorong Muhaimin Iskandar Pimpin PBNU: Saatnya Tinggalkan Politik Elektoral

mlb

MAKLUMAT – Ketua Panitia Pelaksana Pra-Muktamar Luar Biasa Nahdlatul Ulama (MLB NU), KH Mas Muhammad Maftuch menyatakan dukungan dan doa kepada Muhaimin Iskandar untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

KH Maftuch menilai Muhaimin Iskandar atau Cak Imin telah menempuh perjalanan panjang di panggung politik nasional. Lebih dari 27 tahun berkiprah, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu dinilai telah melewati berbagai dinamika dan fase kepemimpinan.

“Dengan pengalaman panjang tersebut, Gus Muhaimin sudah matang secara politik dan kaya pembelajaran. Sudah saatnya beliau mengambil peran yang lebih substantif,” kata Gus Maftuch, sapaa akrab KH Maftuch dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya itu menilai Cak Imin kini berada pada fase puncak sebagai politisi. Karena itu, ia mendorong agar Cak Imin mulai meninggalkan politik praktis dan mengambil peran baru dalam khidmat keumatan.

Menurutnya, mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU merupakan ikhtiar yang tepat untuk mengalihkan pengabdian dari politik elektoral menuju politik kebijaksanaan. “Ini bisa dimaknai sebagai naik pangkat dari politik kekuasaan menuju peran pandito ratu,” ujarnya.

Baca Juga  ​Gus Irfan: Saya Malu Melihat Dinamika Internal NU Jelang Muktamar 2026

Gus Maftuch menilai Cak Imin memiliki modal kuat untuk memimpin organisasi sebesar NU. Pengalaman politik nasional, jejaring luas, serta pemahaman struktural menjadi bekal penting. Selain itu, kedekatan Cak Imin dengan para kiai sepuh dan basis akar rumput Nahdliyin dinilai memperkuat legitimasi pengabdiannya.

“Dengan posisi di PBNU, Cak Imin bisa berkhidmat untuk kemaslahatan umat Islam, warga Nahdliyin, dan bangsa Indonesia tanpa terikat kepentingan kekuasaan jangka pendek,” tegasnya.

Secara historis, Cak Imin juga memiliki hubungan genealogis kuat dengan NU. Ia merupakan cicit dari KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang.

“Garis keturunan ini bukan sekadar simbol, tetapi tanggung jawab moral dan historis untuk melanjutkan estafet perjuangan ulama,” kata Gus Maftuch.

Ia menambahkan jika Cak Imin maju dalam Muktamar ke-35 NU, langkah tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk pengabdian yang selaras dengan warisan keulamaan para pendiri NU.

“Menakhodai PBNU bukan soal jabatan, melainkan amanah besar untuk menjaga marwah NU, memperkuat peran kebangsaan, dan tetap berpihak kepada umat serta rakyat kecil,” pungkasnya.***