Kolaborasi Umsida – Unusida, Kenalkan Coding Kreatif Berbasis Scratch kepada Guru dan Siswa

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pendampingan Pembelajaran Coding Berbasis Scratch untuk Guru dan Siswa MI Muhammadiyah Al Hikmah Mojosari: Peningkatan Literasi Digital dan Computational Thinking” yang dilaksanakan Umsida berkolaborasi dengan Unusida. (Foto: Umsida)

MAKLUMAT — Belajar pemrograman tidak selalu identik dengan rangkaian kode yang rumit. Di MI Muhammadiyah Al Hikmah Mojosari, Kabupaten Mojokerto, guru dan siswa dikenalkan pada coding melalui animasi, permainan interaktif, dan karya digital menggunakan platform Scratch.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pendampingan Pembelajaran Coding Berbasis Scratch untuk Guru dan Siswa MI Muhammadiyah Al Hikmah Mojosari: Peningkatan Literasi Digital dan Computational Thinking”.

Program ini dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FST Umsida) berkolaborasi dengan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida). Tim PkM diketuai Dr Hindarto SKom MT dengan anggota Vanda Rezania SPsi MPd dari Umsida dan Neny Kurniati SKom MT dari Unusida. Lima mahasiswa Program Studi Informatika Umsida juga terlibat mendampingi guru dan siswa selama pelatihan.

Kegiatan berlangsung dalam tiga kali pertemuan, dengan sesi terakhir digelar pada 1 Agustus 2026. Dr Hindarto menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya mengenalkan coding sebagai keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kemampuan computational thinking atau berpikir komputasional sejak usia sekolah dasar.

Melalui Scratch, peserta mempelajari konsep dasar pemrograman menggunakan blok-blok visual yang dapat disusun sesuai fungsi masing-masing. Pendekatan tersebut membuat materi pemrograman lebih mudah dipahami karena siswa belajar melalui aktivitas visual dan interaktif.

Baca Juga  Kunjungi Umsida, Komisi X DPR Bahas RUU Sisdiknas hingga Masalah Perguruan Tinggi

Selama pelatihan, peserta dilatih membuat animasi sederhana, menyusun alur perintah, mengembangkan permainan interaktif, hingga memahami hubungan sebab-akibat dalam sebuah program.

“Anak-anak belajar berpikir runtut, memecahkan masalah, bekerja sama, dan menuangkan ide-ide kreatif mereka dalam bentuk karya digital. Kemampuan ini menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujar Hindarto.

Pendekatan berbasis praktik membuat siswa tidak hanya menerima penjelasan dari pemateri. Mereka juga langsung mencoba menjalankan proyek, menemukan kesalahan, memperbaiki perintah, dan melihat hasil perubahan pada animasi maupun permainan yang dibuat.

Antusiasme siswa terlihat sejak pelatihan pertama. Anak-anak yang sebelumnya lebih banyak menggunakan teknologi sebagai pengguna mulai diperkenalkan pada proses pembuatan animasi dan permainan digital.

Mereka diberi kesempatan memilih karakter, menyusun latar, menentukan gerakan, serta mengembangkan cerita sesuai gagasan masing-masing. Setiap proyek yang dihasilkan pun memiliki tampilan dan alur yang berbeda karena siswa diberi ruang untuk bereksperimen.

Salah satu anggota tim PkM, Vanda Rezania, menilai pendekatan belajar sambil bermain menjadi cara yang efektif untuk memperkenalkan coding kepada siswa sekolah dasar.

“Scratch memberikan ruang bagi anak untuk berimajinasi dan bereksperimen. Saat mereka menikmati proses belajar, kreativitas dan rasa percaya diri akan tumbuh secara alami,” ungkapnya.

Baca Juga  Persiapan Hadirkan Mapel AI dan Coding Rampung, Tinggal Tunggu Terbitnya Permendikdasmen

Pada akhir kegiatan, sejumlah siswa mampu mempresentasikan karya digital yang mereka buat secara mandiri di hadapan guru dan teman-temannya. Mereka menjelaskan karakter, alur permainan, serta perintah yang digunakan dalam proyek tersebut.

Melalui kegiatan ini, siswa juga dikenalkan bahwa teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk bermain atau menikmati konten, tetapi juga dapat digunakan untuk menghasilkan animasi, permainan, maupun karya digital berdasarkan ide sendiri.

Pendampingan tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga para guru. Mereka memperoleh pengalaman memanfaatkan Scratch sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membuat animasi, simulasi, cerita, maupun permainan sederhana sesuai kebutuhan peserta didik.

Kepala MI Muhammadiyah Al Hikmah Mojosari, Nur Faridah SPdI, mengapresiasi tim dosen dan mahasiswa yang telah mendampingi sekolah selama pelaksanaan program.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru tentang pembelajaran digital sekaligus membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif sejak dini,” tuturnya.

Apresiasi juga disampaikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mojosari, Maksum Efendy Firdaus. Menurutnya, kolaborasi Umsida dan Unusida menjadi contoh sinergi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah Muhammadiyah.

“Kami menyambut baik kerja sama ini. Kolaborasi antara Umsida dan Unusida menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat bersinergi untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat,” kata dia.

Baca Juga  LHKP PWM Jatim Gelar Pelatihan Influencer Dakwah Digital Muhammadiyah, Simak Cara Daftarnya

Melalui program ini, coding diperkenalkan bukan sekadar sebagai keterampilan teknologi, tetapi juga sebagai sarana melatih cara berpikir runtut, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta keberanian menghasilkan karya digital sejak dini.***

*) Penulis: Alfianita