Kritik Prabowo Dicap Anak Abah, Kritik Argentina Dicap Fans Ronaldo: Ini Penjelasan Sosiolog

kritik

MAKLUMAT — Fenomena memberi label terhadap orang yang menyampaikan kritik semakin sering muncul di media sosial. Mengkritik Presiden Prabowo Subianto, misalnya, kerap dinilai sebagai keberpihakan kepada Anies Baswedan hingga pelakunya dicap “Anak Abah”.

Pola serupa juga muncul di dunia sepak bola. Kritik terhadap berbagai keputusan wasit yang dinilai menguntungkan Argentina di Piala Dunia 2026, tak jarang langsung diasosiasikan sebagai bukti bahwa seseorang adalah penggemar Cristiano Ronaldo.

Padahal, mengkritik satu pihak tidak serta-merta berarti mendukung pihak lainnya. Hal itu disampaikan oleh pakar sosiologi asal Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Moh Mudzakkir.

“Cara berpikir seperti itu memiliki kemiripan dengan logika Aristotelian pada Yunani kuno yang sebenarnya telah banyak dievaluasi,” kata Mudzakkir kepada wartawan Maklumat.id pada Sabtu (11/7/2026).

Mudzakkir mengatakan kecenderungan tersebut berkaitan dengan cara berpikir yang menyederhanakan realitas ke dalam dua pilihan. Ia menyebut pola itu kini dapat juga disebut sebagai oposisi biner, yakni cara melihat sesuatu hanya melalui dua kutub yang berlawanan tanpa memberi ruang pada kemungkinan lain.

Menurutnya, cara berpikir dialektis lebih mampu menjelaskan realitas karena tidak berhenti pada dua pilihan yang bertentangan. Ia mengatakan sebuah fenomena dapat memiliki unsur yang beragam dan tidak selalu dapat dimasukkan secara sederhana ke dalam satu kategori tertentu.

Baca Juga  Daya Tawar Ormas dalam Bursa Capres dan Cawapres 2024

Cara Berpikir Dipengaruhi Lingkungan

Mudzakkir menilai, kebiasaan berpikir semacam ini muncul karena pola tersebut memang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat bisa jadi telah terbiasa membaca situasi berdasarkan pengalaman yang berulang, sehingga seseorang yang mengkritik satu pihak sering dianggap berada di pihak lawannya.

Namun, Mudzakkir mengatakan cara berpikir seseorang juga dipengaruhi lingkungan sosial tempat individu berada. Menurutnya, pengetahuan seseorang tidak pernah berdiri sendiri karena selalu berkaitan dengan kondisi sosial yang membentuknya.

Seseorang dapat keluar dari pola pikir yang menyederhanakan persoalan ketika memperoleh akses terhadap pengetahuan dan sudut pandang yang berbeda. “Pilihan dan penilaian seseorang dapat berubah karena dipengaruhi situasi maupun pengalaman di lingkungannya,” ujarnya.

Ia menyebut kecenderungan memberi label kepada pengkritik, semakin sering muncul dalam dunia politik Indonesia hari ini. Padahal, seseorang dapat menolak suatu gagasan atau kebijakan tanpa harus ditempatkan secara otomatis pada kubu yang berlawanan.

Bahkan, seseorang dapat mengkritik seorang politisi yang sebelumnya pernah didukungnya. Perubahan pandangan semacam ini merupakan bagian yang wajar dalam dinamika kehidupan sosial.

Menurut Mudzakkir, perubahan cara pandang seseorang merupakan bagian dari proses sosial yang terus berlangsung. Lingkungan, pengalaman, dan pengetahuan yang diperoleh seseorang dapat memengaruhi cara individu memahami suatu persoalan. “Cara berpikir itu tidak lahir dari ruang kosong,” kata Mudzakkir.

Baca Juga  Bersih-bersih BUMN Dimulai, Celios: Erick Thohir Harus Diperiksa Pertama

Karena itu, ia menilai sebuah sikap tidak dapat selalu dibaca hanya berdasarkan posisi yang berlawanan. Seseorang bisa memiliki pandangan kritis terhadap satu pihak karena alasan tertentu, tanpa harus dikategorikan sebagai pendukung pihak lain.

Dalam konteks tersebut, Mudzakkir mengingatkan bahwa membaca realitas sosial membutuhkan kehati-hatian agar tidak terjebak pada penyederhanaan. “Tidak selalu hitam dan putih, salah dan benar,” pesannya.

Lensa Sosiologi Pengetahuan

Dalam sosiologi pengetahuan, cara pandang seseorang tidak berdiri sendiri. Ia terikat pada lingkungan tempat orang itu hidup, pengalaman yang ia lalui, hingga nilai yang berlaku di sekitarnya. “Karena itu wajar kalau satu isu bisa dibaca berbeda oleh orang yang berbeda,” jelas Mudzakkir.

Ia lalu menjelaskan bahwa terkadang ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu soal siapa yang punya kuasa menentukan mana kritik yang dianggap wajar dan mana yang langsung dicap sebagai keberpihakan.

Label semacam “Anak Abah” atau “fans Ronaldo” tidak muncul begitu saja dari udara. Label itu biasanya lahir dari kelompok yang merasa harus mempertahankan posisi tertentu, entah itu pendukung tokoh politik atau penggemar tim olahraga, lalu dipakai sebagai alat untuk mempersempit ruang diskusi.

Baca Juga  DPR Warning Keras: Akses Udara Militer AS Jangan Sentuh Kedaulatan RI

Efeknya, orang yang mengkritik jadi lebih memilih diam ketimbang berdebat, karena kritik yang ia sampaikan sudah lebih dulu ditempeli tuduhan berpihak. Di titik ini sosiologi pengetahuan berguna untuk menjelaskan kenapa orang berbeda pandangan serta membongkar siapa yang diuntungkan ketika sebuah label ditempelkan pada seseorang.

Mudzakkir mengingatkan, jika setiap kritik selalu dibaca sebagai dukungan pada pihak lawan, maka yang paling diuntungkan bisa jadi justru adalah pihak yang sedang dikritik. “Sebab ruang untuk mempertanyakan menjadi makin sempit,” pesannya.

 

*) Penulis: Lail Zahwa Efrilia Dwi Efendi