Marah-marah ke Mie Gacoan Karena Ditegur Bawa Nasi dari Luar, Perempuan Ini Tuai Hujatan

MAKLUMAT — Seorang perempuan menjadi viral di media sosial setelah videonya yang sedang marah-marah ke Mie Gacoan karena dilarang membawa makanan dari luar. Aksi tersebut memicu beragam reaksi, termasuk komentar dari Prof Rhenald Kasali.

Guru Besar Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa keinginan untuk mengajukan komplain adalah wajar. Meski demikian, hal itu harus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai hal, terlebih ketika disampaikan melalui media sosial.

“Ini viral, walaupun receh bagi saya, tetapi menarik. Karena si emak-emak itu akhirnya banyak diomelin oleh para netizen, yang memberikan komentar-komentar malah negatif,” ujarnya, melansir akun TikTok pribadinya @rhenaldkasali pada Jumat (30/1/2026).

Sebelumnya, perempuan tersebut mengunggah video dengan latar belakang restoran Mie Gacoan. Ia menceritakan bahwa dirinya ditegur oleh karyawan restoran karena membawa nasi dari luar. Ia kemudian meminta dispensasi, mengaku tidak mengetahui aturan tersebut.

Petugas pun menjelaskan bahwa sudah ada tulisan larangan membawa makanan dari luar. Namun, perempuan itu marah dan menanggapi bahwa tulisan tersebut terlalu kecil, sehingga tidak masuk akal jika semua konsumen harus membacanya.

Dengan nada marah, ia menekankan sekali lagi bahwa tidak semua konsumen akan membaca aturan tersebut. Video tersebut lantas memancing hujatan dari netizen. Banyak yang memberikan komentar negatif kepada perempuan tersebut.

Baca Juga  Komisi E DPRD Jatim: Akses Media Sosial Anak Harus Diperketat, Literasi Jadi Solusi

Emosi di Ruang Digital

Dalam unggahannya, Prof Rhenald menasihati perempuan tersebut bahwa aturan umum di restoran memang melarang konsumen untuk membawa makanan dari luar. Hal ini berlaku umum, kecuali bagi ibu yang sedang membawa bayi.

Ia menekankan pentingnya melihat sudut pandang pelaku usaha, yang menghadapi banyak kesulitan karena mendirikan dan menjalankan usaha tidak mudah. Setiap aturan yang dibuat oleh pelaku usaha pun pasti memiliki tujuan tertentu.

“Sebelum mengeluh, ada baiknya kita berhenti sejenak dan melihat dari dua sisi. Di balik sebuah usaha, ada orang-orang yang bekerja keras menjaganya tetap hidup,” jelasnya.

Prof Rhenald juga mengingatkan semua pihak bahwa konten sederhana bisa menjadi viral dalam hitungan jam. Namun, yang sering terjadi adalah perhatian publik tidak lagi pada masalahnya, melainkan pada cara seseorang bereaksi. Emosi yang tumpah di ruang digital mudah berubah menjadi gelombang komentar negatif.

“Menyampaikan keberatan itu perlu, tetapi melakukannya dengan bijak jauh lebih penting daripada sekadar melampiaskan amarah. Ruang digital menuntut kedewasaan. Karena pada akhirnya, cara kita berbicara sering kali lebih diingat daripada apa yang kita persoalkan,” tandasnya.​