MAKLUMAT — Ketika Maroko melangkah hingga semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar, banyak pihak menyebutnya sebagai kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola modern. Tim berjuluk Atlas Lions itu menyingkirkan sejumlah kekuatan besar Eropa dan menjadi negara Afrika pertama yang berhasil mencapai empat besar Piala Dunia.
Namun, jika melihat sejarah lebih jauh, pencapaian tersebut sebenarnya bukanlah keajaiban yang muncul secara tiba-tiba. Semifinal 2022 merupakan puncak dari perjalanan panjang sepak bola Maroko yang telah dibangun selama puluhan tahun. Bahkan jauh sebelum dunia mengenal kisah heroik mereka di Qatar, Maroko sudah lebih dahulu menorehkan sejarah sebagai negara Muslim pertama yang berhasil lolos ke babak 16 besar Piala Dunia pada edisi 1986 di Meksiko.
Prestasi itu sering terlupakan karena terjadi hampir empat dekade lalu. Padahal pada saat itu, Maroko berhasil mematahkan berbagai stereotip tentang kemampuan negara-negara Muslim dan Afrika dalam sepak bola dunia. Mereka menjadi juara grup yang dihuni Inggris, Polandia, dan Portugal, sebuah pencapaian yang luar biasa pada zamannya.
Artinya, keberhasilan Maroko pada 2022 sejatinya bukan sebuah anomali. Ia merupakan kelanjutan dari proses panjang sepak bola yang telah dibangun tim berjuluk Singa Atlas itu.
Menjadi Kekuatan yang Dihormati
Perbedaan terbesar antara Maroko di Piala Dunia 2022 dan Maroko di Piala Dunia 2026 terletak pada status mereka di mata dunia.
Empat tahun lalu, Singa Atlas datang ke Qatar sebagai tim yang tidak terlalu diperhitungkan. Mereka berada di bawah bayang-bayang Belgia, Kroasia, Spanyol, Portugal, Prancis, Argentina, Brasil, dan berbagai negara besar lainnya. Namun justru karena tidak dibebani ekspektasi tinggi, mereka mampu bermain lepas dan menghasilkan salah satu kisah paling bersejarah dalam Piala Dunia.
Kini situasinya berbeda. Maroko tidak lagi dianggap sebagai tim kejutan. Mereka datang sebagai salah satu kekuatan utama Afrika yang dihormati. Lawan-lawan mereka tidak akan lagi memandang sebelah mata. Status ini tentu menghadirkan tantangan tersendiri karena mempertahankan prestasi sering kali lebih sulit daripada meraihnya.
Namun justru di sinilah letak menariknya perjalanan Maroko menuju Piala Dunia 2026. Mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa keberhasilan di Qatar bukanlah keberuntungan sesaat, melainkan hasil dari sistem pembinaan yang matang dan perkembangan sepak bola nasional yang berkelanjutan.
Dominasi yang Berlanjut
Salah satu indikator paling jelas mengenai kekuatan Maroko adalah performa mereka sepanjang kualifikasi Piala Dunia, hingga dominasi di Piala Afrika 2025—meski menuai polemik saat final melawan Senegal.
Al-Magribi tampil sangat dominan dan menunjukkan perbedaan kualitas yang cukup mencolok dibanding sebagian besar lawan-lawannya di Afrika. Mereka tidak hanya menang, tetapi juga memperlihatkan organisasi permainan yang rapi, pertahanan yang disiplin, dan efektivitas dalam menyerang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Maroko juga konsisten berada di jajaran elite sepak bola Afrika. Meskipun sempat mengalami kekecewaan dalam beberapa turnamen kontinental dan menghadapi sejumlah persoalan internal yang menghambat langkah menuju gelar juara, posisi mereka sebagai salah satu kekuatan utama Afrika nyaris tidak tergoyahkan.
Bahkan banyak pengamat menilai bahwa saat ini Maroko memiliki kedalaman skuad yang lebih baik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Generasi di Usia Puncak Performa
Kekuatan utama Maroko terletak pada kualitas individu para pemainnya dan kolektivitas permainan mereka.
Di sektor pertahanan terdapat Achraf Hakimi, salah satu bek sayap terbaik dunia yang menjadi tulang punggung PSG di Liga Prancis maupun Liga Champions, serta tim nasional. Kecepatan, kemampuan menyerang, dan pengalaman bermain di level tertinggi menjadikannya salah satu pemain paling berpengaruh dalam skuad.
Di bawah mistar, Yassine Bounou tetap menjadi sosok yang memberikan rasa aman. Penampilannya pada Piala Dunia 2022 membuktikan bahwa ia mampu tampil luar biasa ketika tim membutuhkannya.
Di lini tengah, Sofyan Amrabat masih menjadi motor permainan yang memberikan keseimbangan antara agresivitas dan disiplin taktik. Sementara di lini depan, hadir nama-nama seperti Brahim Díaz yang membawa kreativitas dan kualitas teknis tinggi.
Yang membuat Maroko semakin berbahaya adalah kenyataan bahwa sebagian besar pemain inti mereka merupakan figur penting di klub masing-masing. Mereka bukan pemain pelengkap, melainkan pemain utama yang terbiasa tampil dalam pertandingan berintensitas tinggi di kompetisi Eropa.
Konsistensi inilah yang membedakan Maroko dari banyak negara lain. Mereka tidak bergantung pada satu atau dua bintang semata, melainkan memiliki struktur tim yang solid dari belakang hingga depan.
Wajah Positif Dunia Islam
Di luar persoalan prestasi, perjalanan Maroko memiliki makna yang lebih luas bagi dunia Islam. Ketika mereka mencapai semifinal pada 2022, banyak penggemar sepak bola Muslim di berbagai negara merasakan kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun yang membuat Maroko begitu dihormati bukan hanya kemenangan mereka. Dunia juga menyaksikan bagaimana para pemain menghormati orang tua mereka, memeluk ibu mereka setelah pertandingan, menunjukkan rasa syukur, dan tetap rendah hati di tengah sorotan global.
Momen-momen tersebut menjadi simbol bahwa identitas keislaman dapat berjalan seiring dengan profesionalisme, sportivitas, dan prestasi internasional.
Dakwah dalam konteks olahraga tidak selalu berbentuk ceramah atau slogan. Terkadang ia hadir melalui keteladanan. Ketika para pemain menunjukkan akhlak yang baik, kerja keras, disiplin, dan penghormatan kepada keluarga, mereka sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata.
Maroko berhasil menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat tampil kompetitif di panggung global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang diyakininya.
Mimpi yang Masih Berlanjut?
Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Maroko. Dunia kini menunggu jawaban: apakah semifinal 2022 merupakan puncak yang sulit diulang, atau justru awal lahirnya kekuatan baru sepak bola dunia?
Jika melihat kualitas pemain, pengalaman internasional, kedalaman skuad, dan konsistensi performa dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada alasan untuk meragukan kemampuan Maroko bersaing dengan tim-tim terbaik dunia.
Mungkin mereka tidak masuk kelompok favorit utama layaknya Argentina, Prancis, atau Spanyol. Namun potensi untuk kembali mengguncang prediksi dan melangkah jauh di Piala Dunia 2026, maka Maroko berada di barisan terdepan.
Dari Meksiko 1986 hingga Qatar 2022, sejarah telah menunjukkan bahwa Maroko selalu mampu membuka jalan baru bagi dunia Islam dalam sepak bola. Kini, di Amerika Utara pada 2026, Atlas Lions memiliki kesempatan untuk menulis babak berikutnya. Dan jika mereka kembali melangkah jauh, dunia tidak lagi akan menyebutnya sebagai kejutan. Dunia akan menyebutnya sebagai bukti bahwa Maroko telah menjelma menjadi salah satu kekuatan sepak bola yang sesungguhnya.
Mimpi Maroko untuk kembali mengulang capaian manis di Piala Dunia juga bukan hal yang mustahil. Pasalnya sebagian besar skuad mereka pada edisi 2022 justru kian matang dan masih dipanggil memperkuat Timnas untuk Piala Dunia 2026.
Tak cuma itu, Timnas senior Maroko agaknya juga terinspirasi oleh capaian juniornya di Timnas U-20 yang mampu menjadi Juara Piala Dunia U-20 edisi 2025 di Chili, usai menumbangkan tim unggulan utama Argentina dengan skor 2-0. Inspirasi tersebut tentu juga akan memicu semangat skuad senior untuk tampil all out di Piala Dunia 2026.
Skuad Maroko di Piala Dunia 2026
Menjelang Piala Dunia 2026, kabar mengejutkan datang, di mana pelatih Timnas Maroko yang membawa Al-Magribi mencapai semifinal Piala Dunia 2022, Walid Regragui, justru mengundurkan diri.
Federasi langsung menunjuk Mohamed Ouahbi sebagai pelatih kepala baru pada 5 Maret 2026. Ouahbi juga telah mengumumkan daftar resmi 26 pemain yang dibawah Singa Atlas untuk mengarungi Piala Dunia 2026.
Yang juga cukup mengejutkan, tidak ada nama pemain senior seperti gelandang eks Chelsea Hakim Ziyech ataupun eks penyerang Sevilla Youssef En-Nesyri, yang pada edisi 2022 menjadi andalan Timnas Maroko.
Di Piala Dunia 2026 nanti, Maroko tergabung di Grup C bersama juara dunia lima kali Brasil, Skotlandia, dan Haiti. Selama di Piala Dunia 2026, Achraf Hakimi dkk akan bermarkan di The Pingry School yang berlokasi di Basking Ridge, New Jersey, Amerika Serikat.
Penjaga Gawang:
- Yassine Bounou (Al-Hilal/Arab Saudi)
- Munir Mohamedi (RS Berkane/Maroko)
- Reda Tagnaouti (FUS Rabat/Maroko)
Belakang:
- Achraf Hakimi (PSG/Prancis)
- Noussair Mazraoui (Manchester United/Inggris)
- Nayef Aguerd (Marseille/Prancis)
- Chadi Riad (Crystal Palace/Inggris)
- Zakaria El Ouahdi (KRC Genk/Belgia)
- Anass Salah-Eddine (PSC Eindhoven/Belanda)
- Issa Diop (Fulham/Inggris)
- Youssef Belammari (Al-Ahly/Mesir)
- Redouane Halhal (KV Mechelen/Belgia)
Tengah:
- Sofyan Amrabat (Real Betis/Spanyol)
- Azzedine Ounahi (Girona/Spanyol)
- Bilal El Khannouss (VfB Stuttgart/Jerman)
- Ismael Saibari (PSV Eindhoven/Belanda)
- Ayoub Bouaddi (LOSC Lille/Prancis)
- Neil El Aynaoui (AS Roma/Italia)
- Samir El Mourabit (RC Strasbourg/Prancis)
Depan:
- Brahim Díaz (Real Madrid/Spanyol)
- Soufiane Rahimi (Al-Ain/UEA)
- Ayoub El Kaabi (Olympiacos/Yunani)
- Abde Ezzalzouli (Real Betis/Spanyol)
- Chamseddine Talbi (Sunderland/Inggris)
- Yassine Gessime (RC Strasbourg/Prancis)
- Ayoub Amaimouni (Eintracht Frankfurt/Jerman)
Pelatih: Mohamed Ouahbi (Maroko)












