MAKLUMAT – Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada November 2027 di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Deli Serdang, perhatian publik kembali tertuju pada pembangunan berbagai fasilitas berskala besar. Auditorium berkapasitas sekitar 7.500 orang, Walidah Sport Hall berkapasitas 2.500 kursi, hingga UMSU Tower 17 lantai menjadi bagian dari persiapan menyambut forum permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah.
Bagi saya, pembangunan gedung-gedung megah dan mewah tersebut bukanlah fenomena baru. Justru itulah tradisi Muhammadiyah yang terus dipertahankan dari satu Muktamar ke Muktamar berikutnya. Persyarikatan Muhammadiyah tidak sekadar mencari lokasi yang representatif, tetapi menjadikan Muktamar sebagai momentum membangun aset strategis yang manfaatnya dirasakan puluhan bahkan ratusan tahun setelah acara selesai.
Yang menarik, gedung-gedung itu bukan dibangun untuk digunakan selama tiga atau lima hari penyelenggaraan Muktamar saja. Setelah ribuan peserta kembali ke daerah masing-masing, bangunan tersebut berubah menjadi pusat aktivitas kampus dan masyarakat. Di sinilah letak kecerdasan Muhammadiyah dalam mengelola setiap investasi.
Tradisi yang Terus Berulang
Tradisi ini semakin terlihat dalam tiga penyelenggaraan Muktamar terakhir. Pada Muktamar ke-46 di Yogyakarta tahun 2010, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membangun Sportorium UMY, gedung multifungsi berkapasitas sekitar 5.000 orang. Hingga kini Sportorium menjadi tempat wisuda, pertandingan olahraga, seminar nasional, konferensi internasional, hingga berbagai kegiatan masyarakat.
Lima tahun kemudian, saat Muktamar ke-47 tahun 2015 di Makassar, Universitas Muhammadiyah Makassar menghadirkan Balai Sidang Muktamar yang terintegrasi dengan Menara Iqra setinggi 18 lantai. Menara tersebut kini menjadi ikon kampus sekaligus pusat administrasi dan aktivitas akademik.
Tradisi itu berlanjut pada Muktamar ke-48 di Surakarta tahun 2022. Universitas Muhammadiyah Surakarta membangun Edutorium KH Ahmad Dahlan dengan nilai investasi sekitar Rp386 miliar. Gedung berkapasitas hingga 10.000 orang itu kini menjadi salah satu convention hall terbesar di Jawa Tengah yang setiap tahun digunakan untuk wisuda, pameran, konser, seminar internasional, hingga disewakan kepada masyarakat umum.
Kini giliran UMSU yang sedang membangun landmark baru berupa auditorium utama, Walidah Sport Hall, dan UMSU Tower sebagai wajah baru Muhammadiyah di Sumatera Utara menjelang Muktamar ke-49.
Bukan Sekadar Gedung Mewah dan Megah
Banyak orang mungkin melihat gedung-gedung itu sebagai simbol kemewahan dan kemegahan. Namun saya justru melihatnya sebagai simbol keberanian Persyarikatan Muhammadiyah berinvestasi.
Muhammadiyah tidak menghabiskan anggaran besar hanya untuk menyewa gedung selama beberapa hari. Namun Muhammadiyah memilih membangun fasilitas sendiri di atas aset amal usahanya, sehingga manfaat ekonominya terus berputar.
Setelah Muktamar selesai, gedung-gedung tersebut menjadi ruang pembelajaran, pusat penelitian, tempat wisuda, arena olahraga, lokasi pameran, konser, pertemuan nasional hingga internasional, bahkan disewakan kepada masyarakat. Pendapatan dari pemanfaatan gedung itu kemudian kembali memperkuat keuangan perguruan tinggi dan mendukung keberlanjutan dakwah Persyarikatan Muhammadiyah.
Inilah konsep investasi jangka panjang yang jarang dimiliki organisasi kemasyarakatan (ormas) lain.
Muktamar dari Masa ke Masa
Perjalanan Muktamar Muhammadiyah juga menunjukkan bagaimana organisasi ini terus berkembang mengikuti zaman.
Forum tertinggi Muhammadiyah pertama kali digelar pada 1912 di Yogyakarta dengan nama Algemene Vergadering atau rapat umum. Selama periode 1912–1925, hampir seluruh forum berlangsung di Yogyakarta sebagai pusat gerakan Muhammadiyah.
Mulai 1926, forum mulai bergilir ke berbagai kota seperti Surabaya, Pekalongan, Surakarta, Bukittinggi, Makassar, Semarang, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Medan hingga Palembang.
Pada masa revolusi kemerdekaan, Muhammadiyah bahkan tetap menjaga keberlangsungan organisasi melalui Muktamar Darurat pada 1944 dan 1946.
Sejak 1950, istilah resmi berubah menjadi Muktamar dan rutin diselenggarakan setiap lima tahun yang digelar bergantian di sejumlah daerah di dalam dan di Pulau Jawa.
Dari sinilah saya melihat pola tersebut bukan hanya soal pemerataan lokasi, tetapi juga menjadi strategi memperluas pusat-pusat pertumbuhan amal usaha Muhammadiyah di berbagai daerah.
Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Venue
Bagi saya, inilah pembeda Muhammadiyah dengan banyak organisasi lain. Muktamar tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial yang selesai dalam hitungan hari, tetapi sebagai momentum mempercepat pembangunan peradaban.
Setiap penyelenggaraan Muktamar selalu meninggalkan warisan berupa infrastruktur yang terus dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Sportorium UMY, Balai Sidang dan Menara Iqra Unismuh Makassar, Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, hingga kompleks baru UMSU bukanlah monumen kosong. Seluruhnya hidup, produktif, dan terus menghasilkan manfaat bagi pendidikan, dakwah, penelitian, ekonomi, serta pelayanan masyarakat.
Karena itu, saya memandang gedung-gedung megah Muhammadiyah bukan simbol kemewahan. Gedung-gedung tersebut adalah simbol cara berpikir jauh ke depan. Setiap Muktamar tidak hanya melahirkan keputusan organisasi, tetapi juga meninggalkan aset produktif yang memperkuat kemandirian ekonomi Persyarikatan Muhammadiyah yang memang sudah memiliki aset senilai ratusan triliun rupiah. Itulah warisan sesungguhnya dari sebuah Muktamar Muhammadiyah.
*) Redaktur Senior Maklumat.id, Producer & Host Maklumat Podcast, Anggota Persatuan Wartawan Indonesia/ PWI Jatim; Divisi Humas Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PW Muhammadiyah Jatim.














