
Kitab suci Al-Quran tidak hanya diperdengarkan di masjid, di musala, atau di rumah-rumah, tetapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ. Lafal-lafalnya ditulis indah dalam lukisan kaligrafi. Begitu halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga kerap dijadikan bahan khutbah dan ceramah para ustaz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halaqah-halaqah. Juga sering dikutip oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai.
Sisi Gelap Keberagamaan
Namun, marilah kita tengok sisi gelap dalam kehidupan bangsa yang religius ini. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan yang sudah disinggung di atas, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai agama yang seolah menjadi benda-benda asing yang tak dikenal oleh umatnya sendiri.
Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur kesepian dan rendah diri. Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin agung Muhammad SAW dan para shahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan. Disiplin yang dididikkan agama seperti adzan pada waktunya, salat pada waktunya, haji pada waktunya, dan seterusnya. tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan mereka sebagai umat Islam.














