MAKLUMAT — Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini berbeda dengan keputusan Turki yang menetapkan awal puasa pada 19 Februari 2026.
Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama terkait konsistensi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah.
Menanggapi polemik itu, pakar falak muda Muhammadiyah, Najmuddin Saifullah, memberikan penjelasan dalam Lensamu Podcast di Muhammadiyah Channel, Ahad (1/2).
Najmuddin menegaskan bahwa KHGT merupakan ijtihad yang dinilai paling relevan bagi Muhammadiyah saat ini karena mengintegrasikan dalil syar’i, kaidah fikih, dan astronomi modern secara bersamaan.
“KHGT ini adalah ijtihad Muhammadiyah yang terbaik saat ini karena memanfaatkan pengetahuan sains dengan landasan dalil Al-Qur’an dan hadis yang kuat,” ujarnya.
Dasar Syar’i, Fikih, dan Sains
Secara keagamaan, KHGT antara lain merujuk pada QS at-Taubah ayat 36 tentang jumlah bulan yang dua belas, disertai frasa dzālika ad-dīnul qayyim yang dimaknai sebagai tuntutan adanya kepastian waktu ibadah.
Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: “Ash-shaumu yauma tashūmūn, wal-fithru yauma tufthirūn,” yang menegaskan bahwa puasa dan hari raya idealnya dijalani bersama oleh umat.
Menurut Najmuddin, hadis tersebut mengisyaratkan pentingnya keserempakan umat Islam secara global, bukan terbatas pada satu negara atau wilayah tertentu.
Dari sisi fikih, KHGT menggunakan prinsip ittihād al-mathāli’, yakni memandang bumi sebagai satu matlak global. Dengan pendekatan itu, umat Islam diupayakan memulai Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha secara serempak.
Sementara dari sisi sains, KHGT memanfaatkan hisab astronomi modern untuk menghitung posisi matahari dan bulan secara presisi, mulai dari tinggi hilal, elongasi, hingga waktu konjungsi (ijtima).
Najmuddin menegaskan pendekatan ini sejalan dengan Al-Qur’an yang menyebut matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
Hilal Lokal dan Pertimbangan Global
Menjawab keberatan sebagian pihak karena posisi hilal di Indonesia saat itu masih berada di bawah ufuk, Najmuddin menjelaskan bahwa kondisi tersebut bersifat lokal.
Secara global, ijtima telah terjadi. Di sejumlah wilayah lain, mulai Timur Tengah hingga Amerika, posisi hilal sudah positif dan memungkinkan terlihat.
Dalam KHGT, kondisi global tersebut tidak dibatalkan oleh situasi lokal. Najmuddin menjelaskan konsep transfer parameter, yakni jika kriteria terpenuhi di satu wilayah dalam satu matlak global, maka hasilnya berlaku untuk wilayah lain. Konsep ini, menurutnya, mirip dengan praktik rukyat nasional ketika hasil pengamatan di satu daerah diberlakukan untuk daerah lain.
Adapun perbedaan penetapan 1 Ramadan 1447 H antara Muhammadiyah dan Turki, kata Najmuddin, bukan karena penyimpangan dari kesepakatan Istanbul 2016, melainkan akibat perbedaan penafsiran teknis terhadap Parameter Kalender Global Kedua (PKG2).
Titik krusialnya berada di Semenanjung Alaska, wilayah kecil yang secara geografis termasuk Benua Amerika. Muhammadiyah memasukkan wilayah tersebut sebagai bagian sah dari benua itu. Di sejumlah titik Alaska, kriteria tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat telah terpenuhi pada 17 Februari 2026. Karena itu, 1 Ramadan ditetapkan pada 18 Februari 2026.
Sebaliknya, Turki tidak memasukkan wilayah tersebut dengan pertimbangan administratif dan jumlah penduduk yang minim.
Menariknya, lembaga fikih Amerika Utara, Fikih Council of North America (FCNA), juga menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026, sejalan dengan keputusan Muhammadiyah.
Terbuka untuk Dialog
Najmuddin menilai Muhammadiyah justru berupaya konsisten dengan dokumen Istanbul 2016 yang menyebut “Benua Amerika” tanpa pengecualian wilayah kecil. Ia juga mengungkap adanya perbedaan praktik di pihak Turki dalam penggunaan metode geosentris dan toposentris.
“Kadang Turki memakai geosentris, kadang toposentris. Ini yang terus kami dialogkan,” katanya.
Menurut Najmuddin, temuan tersebut telah dikomunikasikan kepada pihak terkait dan masih terus didiskusikan. Sejak awal, KHGT dipahami sebagai sistem yang belum final dan terus disempurnakan.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan KHGT sebagai hasil ijtihad, namun kalender tersebut bukan milik satu organisasi. KHGT, kata dia, lahir dari proses panjang di tingkat internasional dan tetap terbuka untuk evaluasi bersama.
Ajakan Menjaga Sikap
Berdasarkan seluruh parameter KHGT, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026, dengan tarawih pertama pada malam 17 Februari 2026.
Najmuddin mengajak warga Muhammadiyah dan umat Islam secara umum untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing tanpa saling menyalahkan.
“Kalau sudah yakin benar, jalankan saja ibadahnya. Tidak perlu menghujat yang berbeda,” tegasnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa KHGT merupakan ijtihad kolektif yang telah dikaji dalam waktu panjang dan ditujukan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat Islam dunia.***











