MAKLUMAT – Peta politik Eropa berguncang hebat. Perdana Menteri terpilih Hongaria, Péter Magyar menegaskan komitmennya untuk menangkap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, jika berani menginjakkan kaki di wilayah Hongaria.
Langkah berani ini menandai berakhirnya era kemesraan antara Budapest dan Tel Aviv yang sebelumnya terjalin erat di bawah kendali Viktor Orbán.
Magyar menyatakan bahwa kepatuhan terhadap Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) adalah kewajiban hukum yang tidak bisa ditawar.
“Jika suatu negara adalah anggota ICC dan buronan tersebut masuk ke wilayah kita, maka dia harus ditahan. Setiap kepala pemerintahan memahami aturan main ini,” tegas Magyar sebagaimana dikutip dari Politico, Selasa (21/4/2026).
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Israel. Selama ini, Hongaria di bawah Orbán berperan sebagai “perisai” Israel di Uni Eropa dengan rutin memveto berbagai usulan sanksi. Namun, Magyar kini berbalik arah dan berencana membatalkan proses penarikan diri Hongaria dari ICC yang sempat diinisiasi oleh rezim sebelumnya.
Netanyahu sendiri kini berstatus buronan internasional setelah ICC merilis surat perintah penangkapan pada November 2024 atas dugaan kejahatan perang di Gaza. Dengan sikap terbaru Hongaria, daftar negara Eropa yang siap memborgol Netanyahu semakin panjang, menyisakan hanya segelintir negara seperti Prancis dan Italia yang masih ragu karena alasan imunitas diplomatik.
Perubahan haluan politik Hongaria dari konservatif-nasionalis ke arah yang lebih pro-institusi internasional di bawah Péter Magyar mengubah total keseimbangan kekuatan di Uni Eropa terkait isu Palestina-Israel.
Kehilangan sekutu strategis seperti Hongaria berarti Israel kehilangan hak veto “otomatis” di Brussel. Hal ini mempercepat isolasi diplomatik Israel di panggung global, di mana hukum internasional kini mulai bergerak melampaui retorika politik di atas kertas.














