Praktik Nyata Filantropi, SD Muhammadiyah 24 Surabaya Semarakkan Ramadan Berkarakter Humanis

SD Muhammadiyah 24 Surabaya melakukan bakti sosial dan membagi-bagikan takjil serta sejumlah paket sembako. (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya menggencarkan syiar dakwah berbasis humanitas melalui bakti sosial dan pembagian takjil di Bulan Ramadan 1447 H, Kamis (12/3/2026). Hal itu disebut sebagai praktik nyata implementasi kemanusiaan yang berlandaskan nilai islam.

Sebanyak 300 paket sembako dan 800 paket takjil disebar di berbagai titik, mulai dari panti asuhan, lingkungan masyarakat, ojek online (ojol), beberapa siswa, serta kaum duafa. Kegiatan ini menunjukan bahwa melalui pendidikan dapat mengajarkan sekaligus menerapkan makna gerakan filantropi, yang sekaligus menjadi salah satu ciri khas dalam gerakan sosial di Muhammadiyah.

Mengingat banyak AUM (Amal Usaha Muhammadiyah)  yang tersebar di berbagai bidang. Oleh karena itu, dalam menguatkan karakter humanitasnya juga mengajak puluhan siswa berkunjung ke panti asuhan dan terjun ke lapangan untuk berbagi takjil ke warga.

Kepala SD Muhammadiyah 24 Surabaya, Norma Setyaningrum MPd, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan tidak sekedar sebagai agenda formalitas dalam Bulan Ramadan, melainkan bagian dari rangkaian Darul Arqam Berkarakter bertajuk “Ramadan Berkarakter: Tebar Kebaikan untuk Meraih Ridha Allah Swt”.

Ia menyebut, kunjungan di panti asuhan tidak hanya sembako yang dibagikan, tetapi juga mengajak para siswa membawa barang yang masih yang layak pakai untuk diberikan ke panti asuhan. Tujuannya jelas, mengajarkan kepada siswa tentang nilai kesederhanaan dan rasa cukup terhadap kondisi atas apa yang dimiliki. Selain itu, panti asuhan juga dipilih lantaran lingkungannya yang relevan dengan usia Sekolah Dasar (SD).

Baca Juga  PP Muhammadiyah Silaturrahim dengan Para Kader di Jajaran Kabinet Merah Putih

“Kunjungan kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang berlokasi di panti jompo, kali ini ditempatkan di panti asuhan supaya belajar nilai sosial dari teman sebaya,” ujar Norma.

“Ini menunjukan pendidikan  dalam sekolah berbasis religius tidak sekedar mengenal dan membaca saja, melainkan gagasan yang berkembang dalam tindakan  dilandasi nilai semangat kemanusiaan dengan menjunjung nilai moralitas sebagai upaya mengatasi unsur diskriminasi serta kesenjagan sosial, sehingga terbentuknya generasi karakter islami yang berkemajuan,” tandasnya.