MAKLUMAT — Iran memperingatkan AS dan negara kawasan bahwa serangan ke Pulau Kharg akan dibalas dengan penghancuran fasilitas energi negara asal agresi.
Peringatan tersebut disampaikan juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, sebagai respons atas ancaman Amerika Serikat terhadap terminal ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg.
Dalam pernyataannya pada Senin (16/3/2026), Shekarchi menanggapi komentar sejumlah pejabat dan komandan militer Amerika yang sebelumnya berbicara mengenai kemungkinan serangan terhadap Pulau Kharg.
Ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat melakukan agresi terhadap fasilitas minyak di Pulau Kharg, Iran akan memberikan respons yang tegas dan kuat.
“Jika Amerika melakukan agresi atau serangan apa pun terhadap Pulau Kharg dan terminal minyaknya, tanggapan Iran akan tegas dan kuat,” ujar Shekarchi seperti Press TV.
Menurutnya, dalam kondisi tersebut seluruh fasilitas minyak dan gas negara yang menjadi lokasi peluncuran serangan terhadap Pulau Kharg akan menjadi target Angkatan Bersenjata Iran.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak memiliki batasan dalam membela kepentingan nasionalnya.
“Negara mana pun yang menjadi sumber agresi terhadap Pulau Kharg harus tahu bahwa mereka akan kehilangan fasilitas minyak dan gasnya,” kata Shekarchi.
Pulau Kharg Terminal Ekspor Minyak Utama Iran
Pulau Kharg merupakan pulau kecil berbatu yang terletak sekitar 15 mil laut dari pantai Iran dan menjadi terminal ekspor minyak paling strategis bagi negara tersebut.
Sekitar 90 hingga 95 persen ekspor minyak mentah Iran melewati fasilitas di Pulau Kharg. Tahun lalu, sekitar 1,7 juta barel minyak per hari dikirim melalui terminal energi ini.
Karena perannya yang vital, Pulau Kharg sering disebut sebagai jantung ekspor minyak Iran dan menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik energi di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Jumat lalu mengklaim telah menyerang sejumlah target militer Iran di Pulau Kharg.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengatakan pihaknya telah “menghancurkan” target militer di Pulau Kharg, namun memilih untuk tidak menyerang infrastruktur minyak.
Trump menyebut keputusan tersebut diambil karena “alasan kesopanan”.
Namun ia juga memperingatkan bahwa keputusan itu dapat berubah jika Iran atau pihak lain mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Iran Ultimatum Negara yang Fasilitasi Serangan
Pejabat Iran menyatakan bahwa meskipun fasilitas militer dan bandara di Pulau Kharg mengalami kerusakan, tidak ada korban jiwa dan aktivitas ekspor minyak Iran tetap berjalan normal.
Peringatan Shekarchi muncul setelah sejumlah pejabat Iran menuding wilayah negara lain digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan bahwa serangan Amerika terhadap Pulau Kharg diluncurkan dari dua lokasi di Uni Emirat Arab, yakni Ras Al-Khaimah dan wilayah dekat Dubai.
Ia memperingatkan bahwa penggunaan wilayah padat penduduk untuk melancarkan serangan terhadap Iran merupakan langkah yang sangat berbahaya dan dapat memperluas konflik di kawasan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan bahwa kepentingan Amerika di Uni Emirat Arab, termasuk pelabuhan, dermaga, dan fasilitas militer, kini dianggap sebagai target yang sah.
IRGC bahkan mengimbau warga sipil untuk menghindari lokasi-lokasi tersebut menyusul meningkatnya ketegangan setelah serangan Amerika terhadap wilayah Iran.
Pulau Kharg merupakan terminal ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah negara tersebut. Setiap gangguan terhadap fasilitas ini berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.***











