MAKLUMAT — Dalam dua hari terakhir, Surabaya menghadapi sejumlah peristiwa yang memicu perbincangan luas di media sosial. Rangkaian kejadian pada 17–18 Juni 2026 itu menimbulkan keluhan warga karena dinilai mengganggu keamanan dan kenyamanan di sejumlah titik kota.
Pada Selasa (17/6/2026) dini hari, iring-iringan konvoi yang melibatkan oknum dari salah satu perguruan pencak silat melintas di sejumlah ruas jalan Surabaya.
Awalnya kegiatan berlangsung tertib. Namun, sejumlah unggahan di media sosial menunjukkan adanya perusakan fasilitas milik warga dan dugaan pengeroyokan di kawasan Jalan Kalijudan.
Peristiwa tersebut memicu keresahan warga yang berada di sekitar lokasi. “Ya Allah itu depan rumahku pas Ibu ku sampai pingsan…” tulis akun @risna_kasno05.
Informasi yang beredar menyebutkan, konvoi tersebut berlangsung bertepatan dengan malam satu Suro atau 1 Muharram yang dianggap sebagai momen penting bagi sebagian anggota perguruan. Meski demikian, sejumlah warganet mengingatkan bahwa pengurus cabang sebelumnya telah menyampaikan larangan melakukan konvoi di jalan raya.
“Sudah ada pemberitahuan ketua umum perguruan cabang Surabaya melarang konvoi, kok kebacut banget sampe ora di ajeni poro sepuh e…” komentar dari akun @cakgeps69.
Sehari kemudian, Rabu (18/6/2026) dini hari, aktivitas massa kembali terlihat di sejumlah ruas jalan Surabaya. Kali ini, berkaitan dengan peringatan hari lahir Persebaya Surabaya yang jatuh pada 18 Juni.
Berdasarkan informasi yang beredar, konvoi mulai berlangsung sejak Selasa pukul 20.00 WIB dan mencapai puncaknya saat memasuki pergantian hari.
Sejumlah dokumentasi memperlihatkan suasana perayaan yang berlangsung meriah. Namun, di tengah perayaan itu muncul berbagai keluhan dari masyarakat. Warga menyoroti kemacetan lalu lintas dan tindakan sejumlah oknum yang dinilai mengabaikan pengguna jalan lainnya.
“Opo iki kok dadi koyok ngene, macet rek, ojok nyusahno wong pengguna dalan liyane…” ujar akun @prativilla.
Sebelum perayaan berlangsung, akun resmi Persebaya, @officialpersebaya, pada 16 Juni 2026 telah mengimbau para pendukung untuk merayakan hari jadi klub dari rumah masing-masing. Imbauan itu disampaikan dengan mempertimbangkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ketika perayaan di jalan kerap berpotensi memunculkan gangguan ketertiban maupun tindak kriminalitas.
Meski demikian, sejumlah unggahan di media sosial menunjukkan masih adanya oknum yang mengatasnamakan simbol tertentu dan melakukan tindakan yang dinilai arogan di jalanan. Warga menyoroti pelanggaran lalu lintas, penggunaan jalan yang tidak sesuai aturan, hingga aktivitas yang mengganggu ketertiban umum.
“Jika hal ini tidak ada tindakan evaluasi dari pihak kepolisian untuk menindaklanjuti dengan aturan yang tegas, maka Kota Surabaya akan dihantui oleh ketakutan arogansi kelompok yang tidak bertanggung jawab,” harap Rahman, salah satu warga Surabaya.
*) Penulis: Yogaraksa Ananta














