MAKLUMAT – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim perang Iran telah resmi berakhir. Bahkan, menurut Trump, kesepakatan damai akan segera ditandatangani di Eropa dalam waktu dekat.
Pernyataan itu muncul setelah adanya negosiasi langsung antara Trump dengan para pemimpin Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi. Menariknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut tidak dilibatkan dalam pembicaraan tersebut.
BREAKING:
🇺🇸🇮🇷🇮🇱 President Trump has declared an official end to the war with Iran, announcing that a peace agreement will soon be signed in Europe. The breakthrough follows direct negotiations between Trump and the leaders of Qatar, the UAE, and Saudi Arabia. Notably, Israeli… pic.twitter.com/rtgTgR8aSe
— Commentary Donald J. Trump Truth Social Posts On X (@TrumpTruthOnX) June 11, 2026
Melansir laporan Al Jazeera, Jumat (12/6/2026), Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya membatalkan rencana serangan dan pemboman terhadap Iran setelah adanya komunikasi yang diklaim telah disetujui oleh “tingkat tertinggi” pemerintahan Iran.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah menyetujui sebagian besar rancangan kesepakatan damai. Namun, Teheran menuding Amerika Serikat berulang kali mengubah posisi dalam proses negosiasi.
Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman keras. Washington disebut siap menyerang Iran “dengan sangat keras”, termasuk mengambil alih Pulau Kharg dan sejumlah infrastruktur minyak strategis milik Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS dan menyebut gencatan senjata menjadi “praktis tidak berarti”.
Media Iran melaporkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah meluncurkan serangan balasan terhadap pasukan AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Tidak hanya itu, militer Iran juga memerintahkan penutupan penuh Selat Hormuz bagi seluruh kapal. Kebijakan tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
Direktur Eksekutif Gulf International Forum Dania Thafer menilai rencana pengambilalihan Pulau Kharg akan menjadi ancaman besar bagi keamanan kawasan Teluk.
“Jika pemerintahan Trump benar-benar ingin mengambil Pulau Kharg, itu akan menjadi masalah besar bagi keamanan negara-negara Teluk,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Thafer menambahkan Iran cenderung melampiaskan tekanan kepada negara-negara Teluk dibanding menyerang langsung Israel atau Amerika Serikat.
Sementara itu, kantor berita IRNA melaporkan sebuah kapal nelayan Iran diserang di perairan Sirik. Satu nelayan dilaporkan terluka dalam insiden tersebut.
Menurut Gubernur Sirik Reza Shahidian, kapal nelayan itu tenggelam setelah diserang pihak yang disebut sebagai “musuh”. Korban berhasil diselamatkan kapal lain yang berada di sekitar lokasi.***











