Soroti Fenomena Fatherless dan Father Hunger, Begini Kata Pakar Umsida

Soroti Fenomena Fatherless dan Father Hunger, Begini Kata Pakar Umsida

MAKLUMAT — Pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog, menyoroti fenomena fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah yang menjadi perhatian cukup serius di Indonesia.

Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog
Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog

Ia mengungkapkan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka fatherless yang cukup tinggi di dunia. Menurutnya, fatherless sendiri tidak selalu berarti ketiadaan sosok ayah secara fisik, tetapi juga bisa terjadi ketika memiliki sosok ayah namun tidak berperan dalam pengasuhan anak (father hunger).

“Kondisi fatherless artinya pengasuhan yang ada di rumah berjalan tidak seimbang. Karena normalnya, keluarga terdiri dari bapak, ibu, dan anak,” ujar Zaki dalam keterangan yang diterima Maklumat.id, Sabtu (29/11/2025).

“Di Indonesia banyak keluarga yang bapaknya ada, tapi tidak terlibat dalam pengasuhan. Secara fisik hadir, namun secara emosional tidak,” sambungnya.

Ketika sosok ayahnya tidak ada, lanjut Zaki, akan membuat proses dalam keluarga menjadi kurang seimbang dan ada dampak psikologis yang negatif.

Penyebab Fatherless dan Father Hunger

Zaki menilai, kondisi tersebut sering kali berakar dari budaya patriarki yang menganggap peran ayah hanya sebatas pencari nafkah, sementara pengasuhan anak menjadi tanggung jawab ibu.

“Bapak tidak terlatih (tidak aware) untuk terlibat dalam pengasuhan karena secara budaya memang tidak diajarkan demikian,” jelasnya.

Selain faktor budaya, fenomena fatherless juga disebabkan oleh perceraian, kematian, atau pekerjaan ayah yang membuatnya harus tinggal jauh dari keluarga.

Baca Juga  Peran Civil Society dalam Pilkada Kota Malang: LHKP dan KPU Ajak Generasi Muda Jaga Integritas Demokrasi

Lebih jauh, Zaki mengungkap bahwa banyak pria yang siap menjadi suami, namun tidak siap menjadi ayah. “Ketidaksiapan itu sering kali berakar dari pengalaman masa kecil. Jika dulu tidak memiliki contoh ayah yang baik, seseorang bisa bingung bagaimana menjadi ayah yang seharusnya,” tambahnya.

Dampak Psikologis bagi Anak

Menurut Zaki, ketiadaan figur ayah dalam pengasuhan membawa dampak psikologis yang signifikan. Berdasarkan kajian psikologis yang dilakukannya, anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless berisiko mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, kepercayaan diri yang rendah, serta permasalahan sosial.

“Banyak penelitian menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam meregulasi emosi didapat dari kedekatan dengan ayah. Ketika itu tidak ada, maka anak akan kesulitan mengekspresikan emosi secara aman,” jelasnya.

Dampak ini, lanjutnya, tidak hanya dirasakan pada masa kanak-kanak, tetapi juga terbawa hingga dewasa.

Zaki menegaskan bahwa peran ayah berfungsi sebagai pengajar “how to survive” di luar rumah, mengajarkan tanggung jawab, empati, dan kemampuan menghadapi dunia luar dengan tangguh.

Ketika peran tersebut hilang, maka anak akan mengalami hambatan dalam membangun kemandirian dan ketahanan diri.

Bagi anak laki-laki, kata Zaki, fatherless dapat menghambat pembentukan identitas diri sebagai laki-laki dewasa yang bertanggung jawab dan penyayang karena tidak memiliki panutan. Sedangkan bagi anak perempuan, ketiadaan ayah kerap memunculkan trust issue atau kesulitan mempercayai orang lain. Hal tersebut terjadi karena anak perempuan memiliki pengalaman ditinggalkan ayahnya.

Baca Juga  Bakal Diluncurkan 14 Juli di 100 Titik Awal, Sekolah Rakyat Akan Dimulai dengan Cek Kesehatan

“Anak perempuan yang sudah dewasa bisa saja terjebak mencari sosok penyayang di tempat yang salah karena tidak tahu seperti apa relasi yang sehat,” kata alumnus Universitas Airlangga (Unair) itu.

Selain itu, anak dengan latar belakang fatherless juga cenderung mengalami masalah dalam adaptasi sosial. Mereka bisa kesulitan membangun relasi sehat dan memiliki rasa takut kehilangan yang tinggi.

“Perasaan ditinggalkan bisa membuat anak menjadi terlalu bergantung pada figur otoritas seperti guru atau atasan, karena takut tidak diterima lagi,” tambah Zaki.

Membangun Kesadaran bagi Ayah dan Calon Ayah

Sebagai upaya pencegahan, Zaki menekankan pentingnya edukasi bagi para calon ayah tentang makna peran ayah dalam pengasuhan.

“Perlu diberikan edukasi bagaimana menjalankan peran sebagai ayah yang baik, bukan hanya pencari nafkah, tapi juga teladan dan sumber belajar bagi anak,” tandasnya.

Bagi keluarga yang sudah terbentuk, peran ibu juga sangat penting dalam membantu ayah terlibat aktif. Komunikasi terbuka antara suami dan istri dibutuhkan agar pengasuhan anak bisa berjalan seimbang.

“Ibu perlu membangun komunikasi yang terbuka dan mendekatkan anak dengan ayahnya agar tercipta sinergi,” jelasnya.

Sementara bagi keluarga yang sudah bercerai, ia menyarankan agar kedua orang tua tetap berkomitmen dalam pengasuhan bersama. “Meski sudah berpisah, tetap upayakan komunikasi dan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak,” tegas Zaki.

Namun jika ayah benar-benar tidak bisa hadir, anak tetap perlu mendapatkan figur laki-laki dewasa lain yang bisa dijadikan panutan, seperti paman, kakek, atau guru.

Baca Juga  Menimbang-nimbang Manfaat dan Tantangan Redenominasi Rupiah Menurut Pakar

Fenomena fatherless menjadi pengingat bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan hanya urusan kehadiran fisik, tetapi juga tentang kehadiran emosional dan spiritual yang membentuk karakter anak di masa depan.

“Anak-anak tetap perlu belajar tanggung jawab, empati, dan ketahanan diri dari sosok laki-laki dewasa. Figur itu bisa datang dari siapa pun yang dekat dan peduli,” pungkas Zaki.

*) Penulis: Romadhona S / Ubay NA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *