MAKLUMAT — Dosen Teknologi Pangan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM), Prof Dr Ir Damat MP IPM, berharap penelitian terkait sains halal dapat terus berkembang, sekaligus menguatkan posisi umat Islam dalam ekosistem ilmu pengetahuan global.
Hal itu ia ungkapkan usai menghadiri konferensi internasional Thailand Halal Assembly (THA) 2025 yang digelar di Al Meroz Hotel Bangkok, Kamis (18/12/2025). Dalam forum itu, Damat didapuk sebagai judging committees (juri).
Menurut Damat, THA 2025 memberikan kesan yang sangat positif dan mencerahkan, yang menunjukkan bahwa pengembangan halal saat ini telah bergerak sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan, yakni menjadikan nilai-nilai keislaman bertemu secara harmonis dengan sains, teknologi, dan inovasi.
“Diskusi yang berlangsung mencerminkan upaya serius untuk menghadirkan halal tidak hanya sebagai kewajiban syariah, tetapi juga sebagai instrumen kemaslahatan umat dan kemajuan peradaban,” ujarnya kepada Maklumat.id, Jumat (19/12/2025).
Melalui forum tersebut, ia berharap sains halal dapat diperkuat sebagai bagian dari dakwah pencerahan yang mengintegrasikan iman dan ilmu pengetahuan.
“Kami berharap Thailand Halal Assembly menjadi ruang strategis untuk memperkuat halal science sebagai bagian dari dakwah pencerahan, yang mengintegrasikan iman dan ilmu pengetahuan,” harapnya.
“Forum ini diharapkan mampu mendorong lahirnya riset-riset halal yang unggul, aplikatif, dan berorientasi pada kemanfaatan, sekaligus memperkuat posisi umat Islam dalam ekosistem ilmu pengetahuan global, khususnya di bidang pangan, kesehatan, dan industri halal,” imbuh Damat.
Lebih lanjut, ke depan Damat menekankan langkah-langkah konkret yang harus dilakukan, termasuk di Indonesia dan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Mulai dari memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan halal berbasis nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, baik antarperguruan tinggi Muhammadiyah maupun dengan mitra internasional.
“Selain itu, perlu didorong penguatan kapasitas laboratorium halal, pengembangan sumber daya manusia halal yang berintegritas dan berkemajuan, serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mendukung sistem halal yang transparan, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa,” tandas pria yang juga menjabat Sekretaris Pelaksana Rektor Universitas Muhammadiyah Manado itu.
Sebelumnya, Pendiri The Halal Science Center Chulalongkorn University (HSC-CU), Bangkok, Thailand, Dr. Winai Dahlan, dalam paparannya menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur lembaga sains halal untuk memajukan penelitian halal hijau, sekaligus mendorong berkembangan industri dan ekosistem halal.
Melalui forum tersebut, Winai Dahlan mendorong berbagai universitas untuk mengembangkan infrastruktur sains halal dan menciptakan ekosistem halal yang berkelanjutan.
Halal, kata dia, bukan hanya berarti tanpa pork atau alkohol, tetapi terintegrasi dalam konsep green halal mencakup tiga aspek multidisiplin yang saling beririsan, yakni prinsip-prinsip halal, sains dan teknologi, serta pengelolaan lingkungan.
Sekadar diketahui, konferensi internasional THA 2025 tersebut diikuti oleh para ilmuwan, akademisi, maupun praktisi halal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Qatar, New Zealand, Jepang, Inggris, Arab Saudi, Filipina, Oman, Turkiye, Australia, hingga Swiss.












