Alex Krainer Bongkar Agenda AS: Hegemoni Runtuh, Dunia Dipaksa Ikuti Permainan Baru

Alex Krainer mengkritik runtuhnya hegemoni Amerika Serikat dan tatanan dunia baru

MAKLUMAT — Dunia tengah berada di fase yang sekaligus menarik dan berbahaya. Hegemoni global Amerika Serikat yang selama puluhan tahun membentuk tatanan dunia dinilai mulai runtuh. Amerika kini bergerak semakin tidak terprediksi, tidak lagi mampu mengandalkan perdagangan bebas, kalah bersaing dengan China, dan sebagai gantinya kian mengedepankan pendekatan militer.

Pandangan itu disampaikan analis geopolitik dan pasar global Alex Krainer dalam wawancaranya dengan akademisi hubungan internasional Prof. Glenn Diesen. Alex Krainer adalah penulis buku, Grand Deception: The Truth About Bill Browder, Magnitsky Act and Anti-Russia Sanctions (2017)

Krainer menilai melemahnya aliansi lama, memburuknya hubungan ekonomi global yang kian eksploitatif, serta meningkatnya eskalasi konflik geopolitik menunjukkan perubahan arah besar dalam kebijakan Amerika Serikat.

“Perang melawan Rusia, potensi konflik dengan China dan Iran, hingga wacana penguasaan Greenland mencerminkan strategi agresif yang tidak lazim,” kata Krainer dikutip dari akun Youtube @Glenn Diesen.

Di saat yang sama, hukum internasional dinilai kehilangan wibawa, sementara Amerika justru menuju krisis fiskal serius dan ancaman runtuhnya dominasi dolar AS.

Alih-alih memperbaiki disiplin ekonomi, Washington justru menaikkan anggaran militernya ke tingkat yang sangat tinggi. Hal ini, menurut Krainer, menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah gejolak global saat ini semata-mata dipicu faktor ekonomi, atau justru digerakkan oleh agenda strategis yang jauh lebih besar.

Baca Juga  Transkrip Lengkap Pidato Donald Trump Usai Pesawat AS Menjatuhkan Bom ke Fasilitas Nuklir Iran

Pergeseran Antar-Era

Krainer menilai dunia tidak sedang menghadapi krisis biasa. Ia menyebut saat ini sebagai pergeseran lintas era, bahkan lintas peradaban. Banyak aliansi global dibangun untuk kepentingan jangka panjang, melampaui sekadar persoalan minyak atau keuntungan ekonomi sesaat.

Karena itu, sejumlah peristiwa global tampak sulit dipahami jika dibaca dengan logika geopolitik lama. Salah satu contoh yang disorot Krainer adalah Venezuela.

Venezuela dan Dugaan Kesepakatan Tersembunyi

Menurut Krainer, intervensi Amerika Serikat di Venezuela memiliki rasio risiko dan keuntungan yang sangat tidak seimbang. Dugaan penculikan Presiden Nicolás Maduro, misalnya, dinilai tidak rasional jika tujuan utamanya adalah pergantian rezim.

Ia bahkan mencurigai adanya kesepakatan di balik layar, termasuk kemungkinan komunikasi langsung antara Donald Trump dan Maduro. Faktanya, hingga kini tidak ada perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan Venezuela selain absennya Maduro dari panggung publik.

“Beberapa mantan profesional intelijen meyakini Maduro sebenarnya berada dalam semacam tahanan perlindungan,” ujar Krainer.

Ancaman Sesungguhnya: Infrastruktur Globalis

Krainer kemudian mengalihkan perhatian pada Strategi Keamanan Nasional Amerika Serikat yang menyinggung pembongkaran “infrastruktur kekuatan lawan”. Menurutnya, ancaman utama bagi Amerika bukan Rusia atau China, melainkan jaringan globalis yang beroperasi melalui organisasi internasional dengan kekebalan hukum.

Baca Juga  Trump Serang Paus Leo XIV, Ketegangan AS–Vatikan Makin Terbuka

Salah satu contoh yang disorot adalah Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS). Meski bekerja sama erat dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, OAS berada di luar yurisdiksi hukum nasional. Dengan status kekebalan tersebut, organisasi ini menggandeng ratusan LSM dan korporasi besar untuk mendorong Agenda 2030, Great Reset, digitalisasi pemerintahan, mata uang digital bank sentral, hingga sistem pengawasan massal.

Venezuela menjadi negara yang unik karena keluar dari OAS. Inilah yang, menurut Krainer, membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh kekuatan globalis, bukan oleh pemerintahan Trump.

Globalisme versus Negara Berdaulat

Krainer melihat konflik global saat ini sebagai benturan dua sistem besar. Pertama, sistem globalis berbasis aturan yang dijalankan melalui organisasi internasional kebal hukum. Kedua, sistem negara berdaulat yang ingin kembali pada kedaulatan nasional dan tatanan dunia multipolar.

Dalam kerangka ini, langkah-langkah Presiden Trump yang kerap dinilai kacau—mulai dari isu NATO, Greenland, hingga Timur Tengah—sebenarnya membentuk pola yang konsisten, yakni upaya membongkar tatanan global pasca-Perang Dunia II.

Eropa, NATO, dan Iran

Krainer menilai Trump memandang oligarki Eropa sebagai pihak yang selama ini menguras Amerika Serikat. Penegasan kembali Doktrin Monroe, menurutnya, bukan bertujuan memperluas dominasi, melainkan menyingkirkan kepentingan kolonial Eropa dari belahan bumi Amerika.

Baca Juga  Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres Kecam Serangan AS ke Iran: “Eskalasi Berbahaya yang Ancam Perdamaian Dunia”

Sementara itu, China dipandang berbeda. Negara tersebut dinilai lebih berorientasi bisnis dan pembangunan infrastruktur, sehingga integrasi multipolar dengan China dan Rusia justru dianggap lebih masuk akal bagi kepentingan jangka panjang Amerika.

Terkait Iran, Krainer menilai perang terbuka akan lebih banyak merugikan Amerika Serikat. Ia melihat pendekatan Trump cenderung bersifat “perang teatrikal”—banyak ancaman, minim eskalasi nyata—untuk meredakan tekanan politik domestik tanpa terjerumus konflik besar.

Kesimpulan

Di balik pernyataan publik yang kerap kontroversial, Krainer melihat arah kebijakan Amerika Serikat yang relatif konsisten. Menurutnya, Washington tengah berupaya keluar dari peran sebagai imperium global dan kembali menjadi republik berdaulat dalam tatanan dunia multipolar.

Apakah strategi tersebut akan berhasil atau justru gagal, masih harus dibuktikan waktu. Namun satu hal dinilai pasti: dunia tidak sedang menghadapi krisis biasa, melainkan pembongkaran tatanan global yang telah berdiri lebih dari setengah abad.***