MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib, menandaskan komitmen Persyarikatan yang berdiri sejak tahun 1912 itu dalam upaya mencerahkan dan membangun kesadaran, serta gerakan pemberdayaan.
Hal itu ia sampaikan ketika membuka langsung acara Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) ke-23, yang diselenggarakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah di BBPPMPV Seni Budaya DI Yogyakarta, pada Rabu (21/1/2026).
Dalam kesempatan itu, Irwan Akib menyebut bahwa SEKAM merupakan bagian dari pendidikan pencerahan. Menurutnya, pendidikan dalam perspektif Muhammadiyah adalah upaya pencerahan untuk membangun kesadaran ketuhanan yang menghidupkan, mencerdaskan, dan membebaskan.
Maka, lanjutnya, SEKAM diharapkan dapat menjadi bagian integratif dengan semangat pendidikan itu. Ia berharap agar ke depan para peserta alumni SEKAM tersebut menjadi bagian penting dalam gerakan pemberdayaan di kelompok-kelompok marjinal, seperti petani, nelayan, buruh, serta masyarakat miskin kota.
Para kader pemberdaya yang telah mengikuti SEKAM, kata Irwan, akan diterjunkan untuk mendampingi masyarakat. Ia menekankan bahwa pemberdayaan dalam perspektif Muhammadiyah tidak hanya sekadar datang, memberi sesuatu, lalu pergi.
Para pemberdaya atau pendamping masyarakat, melalui pelatihan SEKAM tersebut, diharapkan memiliki semangat yang perubahan radikal di kelompok masyarakat, terutama pada sisi tradisi, budaya atau kebiasaan boros yang maladaptif.
“Bahkan kalau kita amati, hal mendasar seperti kebiasaan harus diubah. Misalnya saja kelompok nelayan yang tidak memiliki literasi keuangan. Setelah melaut, dapat uang lalu habis,” kata Irwan.
Lebih lanjut, Irwan menilai bahwa pendekatan terhadap setiap kelompok masyarakat berbeda-beda. Sebab itu, dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa membangun komunikasi dengan mereka. “Keahlian ini bisa didapatkan melalui pelatihan SEKAM ini,” tandasnya.
Di sisi lain, Ketua MPM PP Muhammadiyah, M Nurul Yamin, meminta agar para peserta SEKAM dapat menjadi motor pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan, kata dia, bertujuan untuk mendorong dari dalam masyarakat sehingga mereka berdaya.
“Itulah (pemberdayaan) mengangkat, mengungkit potensi masyarakat,” tegas pria yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.
Tak cuma itu, Yamin menyebut bahwa pemberdayaan juga harus memiliki daya tarik, sehingga bisa membuka wawasan masyarakat yang selama ini terkungkung perilaku maladaptif, dan pengetahuan yang selama ini tidak terbuka.
Meski begitu, ia juga mengingatkan bahwa gerakan pemberdayaan bukanlah hal yang mudah, sebab fakta di lapangan kerap kali lebih kompleks dari yang diperkirakan. Maka, lanjutnya, berbagai pendekatan akan dikenalkan melalui pelatihan SEKAM.













