Untag Surabaya Terjunkan 271 Mahasiswa, Sasar 73 RW untuk Pemberdayaan Masyarakat

MAKLUMAT – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menerjunkan 271 mahasiswa untuk melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027. Program yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 6 Desember 2026 tersebut menyasar 73 rukun warga (RW) di delapan kelurahan yang tersebar di empat kecamatan di Surabaya.

Keempat kecamatan tersebut meliputi Semampir, Bubutan, Gubeng, dan Sukolilo. Program ini mengusung tema “Membangun Ketahanan Masyarakat: Meningkatkan Kemandirian, Kesiapsiagaan, serta Adaptasi dengan Perubahan untuk Mewujudkan Kesejahteraan”.

Melalui program tersebut, mahasiswa lintas program studi akan menerapkan pengetahuan akademik, mengembangkan teknologi tepat guna, serta memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat.

Namun, tantangan utama program ini tidak hanya terletak pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berlanjut setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.

Ketua Pusat Pengabdian kepada Masyarakat Untag Surabaya, Eko April Ariyanto, mengatakan seluruh program telah dipersiapkan melalui koordinasi dengan mitra, dosen pembimbing lapangan, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Program pemberdayaan tersebut menghasilkan 36 teknologi tepat guna dan sekitar 30 desain pelatihan. Berbagai luaran itu diharapkan dapat memberikan solusi praktis sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat.

Baca Juga  BAZNAS Buka Pendaftaran Beasiswa Cendekia 2025, Sasar Mahasiswa Aktif dari 133 Kampus Mitra

Meski demikian, pemanfaatannya membutuhkan keterlibatan warga dalam pengoperasian, pemeliharaan, dan pengembangan agar manfaatnya tidak berhenti setelah program selesai.

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah pelatihan *Business Model Canvas* atau model bisnis kanvas bagi karang taruna di setiap RW.

Pelatihan ini bertujuan membekali pemuda dengan kemampuan mengidentifikasi peluang usaha, menentukan target pelanggan, merumuskan nilai produk atau jasa, hingga menyusun strategi pemasaran dan sumber pendapatan.

Dengan bekal tersebut, karang taruna diharapkan mampu mengembangkan usaha berdasarkan potensi lokal. Namun, penerapannya tetap membutuhkan pengelolaan usaha, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi secara berkelanjutan.

Ketua LPPM Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, menjelaskan program pemberdayaan masyarakat ini merupakan kelanjutan dari kegiatan periode sebelumnya yang mendapat respons positif dari masyarakat dan mitra kelurahan.

Dalam pelaksanaannya, Untag Surabaya juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembangkan Kampung Pancasila serta Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika.

Pengembangan Kampung Pancasila mencakup empat pilar, yakni kemasyarakatan, ekonomi, lingkungan, serta sosial budaya. Keempatnya menjadi landasan untuk memperkuat kehidupan sosial, mengembangkan potensi ekonomi, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Baca Juga  Fridayani Restya Purlinasari, Mahasiswi Umsida yang Raih Juara 1 Taekwondo Indonesia Expo Piala DPR RI

Sementara itu, Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, meminta mahasiswa menjalankan program sesuai perencanaan dengan tetap menyesuaikan diri terhadap kondisi di lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dengan mitra agar kegiatan yang dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat.

Harjo mengingatkan mahasiswa untuk menjaga sikap, etika, dan nama baik almamater selama menjalankan pengabdian. Setiap pelanggaran akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebagai bentuk komitmen, seluruh mahasiswa juga menandatangani pakta integritas sebelum melaksanakan kegiatan.

Keberlanjutan program selanjutnya menjadi tanggung jawab bersama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Perguruan tinggi berperan memberikan dukungan keilmuan dan pendampingan, pemerintah menghubungkan program dengan kebutuhan wilayah, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengelola hasil pemberdayaan.

Evaluasi pascaprogram juga diperlukan untuk mengukur keberhasilan kegiatan, mulai dari pemanfaatan teknologi tepat guna, penerapan keterampilan, perkembangan usaha karang taruna, hingga kemampuan warga mengelola kegiatan secara mandiri.

Melalui evaluasi tersebut, Untag Surabaya dan para mitra dapat mengidentifikasi kendala sekaligus menyiapkan pendampingan lanjutan.

Dengan demikian, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak sekadar diukur dari jumlah mahasiswa, kegiatan, maupun luaran yang dihasilkan. Lebih dari itu, manfaat program harus mampu mendorong kemandirian warga dan terus berkembang meski masa pengabdian mahasiswa telah berakhir.

Baca Juga  BEM PTMAI Aceh Barat Daya Silaturahmi ke PEMA Universitas Teuku Umar: Saling Mendukung Wujudkan Tujuan