MAKLUMAT– Kabar gembira bagi umat Muslim yang berencana menjalankan ibadah di Tanah Suci pada tahun 2026. Pakar astronomi memprediksi Ramadan 1447 Hijriah akan berlangsung di tengah musim dingin, yang berdampak pada durasi puasa yang jauh lebih nyaman dan singkat.
Pakar astronomi kenamaan Arab Saudi, Abdullah Al-Mosned memproyeksikan durasi puasa harian di berbagai wilayah kerajaan hanya berkisar antara 12 hingga 13 jam. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan jika kita bandingkan dengan Ramadan beberapa tahun terakhir yang kerap berbenturan dengan puncak musim panas.
Cuaca Sejuk Dukung Stamina Jamaah
Perubahan siklus musim ini membawa angin segar bagi jamaah. Selain durasi waktu menahan lapar dan dahaga yang lebih pendek, suhu udara yang sejuk menjadi faktor kunci yang menjaga stamina fisik umat Muslim.
Kondisi ini tidak hanya memudahkan mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, tetapi juga meningkatkan kekhusyukan saat melaksanakan ibadah malam, seperti salat Tarawih, tanpa gangguan cuaca ekstrem.
Tetap Menunggu Hasil Rukyat
Meski perhitungan astronomi sudah memberikan gambaran terang, pemerintah Arab Saudi tetap memegang teguh tradisi syariat. Penetapan resmi 1 Ramadan 1447 H tetap mengacu pada hasil pengamatan hilal (rukyat) yang dijadwalkan pada Februari 2026.
Senada dengan Al-Mosned, Asosiasi Astronomi Jeddah melaporkan bahwa Februari 2026 akan menjadi bulan yang sibuk bagi para pengamat langit. Namun, Ketua Asosiasi Astronomi Jeddah, Majid Abu Zahrah mengingatkan bahwa cahaya bulan purnama yang sangat terang di awal Februari mungkin akan sedikit memengaruhi pengamatan benda langit yang lebih redup.
”Fase purnama terjadi saat bulan berada pada sudut elongasi sekitar 180 derajat dari Matahari. Hal ini murni fenomena geometris dan tidak terpengaruh oleh penamaan tradisional seperti ‘Bulan Salju’,” jelas Abu Zahrah.
Fenomena Langit di Balik Ramadan
Selain soal puasa, fenomena astronomi menarik juga akan menghiasi langit Arab Saudi. Pada awal Februari, akan terjadi peristiwa okultasi, yaitu momen saat bulan menutupi bintang Regulus (Qalb Al-Asad), bintang paling terang di rasi Leo.
Meskipun di Arab Saudi fenomena ini hanya akan terlihat sebagai konjungsi, pemandangan langit ini menambah semarak menyambut datangnya bulan suci yang diprediksi akan menjadi salah satu Ramadan paling sejuk dalam satu dekade terakhir.
Tips Kesehatan Puasa Musim Dingin
Meskipun durasi puasa lebih pendek dan cuaca tidak panas, udara dingin memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait kelembapan tubuh. Berikut tipsnya:
Lawan Dehidrasi “Senyap”
Di musim dingin, kita jarang merasa haus. Namun, udara kering di Arab Saudi tetap menyerap cairan tubuh. Pastikan minum 2-3 liter air antara waktu berbuka hingga sahur meski tidak merasa haus.
Perbanyak Makanan Penghangat Tubuh
Saat sahur, pilih makanan atau minuman yang memberikan efek hangat secara alami seperti jahe, kayu manis, atau sup kaldu hangat untuk menjaga suhu inti tubuh tetap stabil di siang hari.
Gunakan Pelembap Kulit
Udara musim dingin di Saudi bisa membuat kulit kering dan pecah-pecah. Gunakan lip balm dan pelembap kulit (lotion) agar kulit tidak perih saat terkena angin dingin atau saat berwudu.
Atur Strategi Berpakaian
Suhu bisa turun drastis saat malam hari (Tarawih) atau dini hari (Sahur). Gunakan pakaian berlapis agar Anda bisa menyesuaikan diri dengan suhu ruangan masjid yang ber-AC dan suhu luar ruangan yang dingin.
Tetap Konsumsi Vitamin D & Lemak Sehat
Karena paparan matahari mungkin tidak sekuat musim panas, konsumsi lemak sehat (seperti zaitun atau kacang-kacangan) dan asupan vitamin untuk menjaga imunitas dari flu musiman.***













