MAKLUMAT — Psikolog klinis Mufliha Fahmi, yang akrab disapa Lya Fahmi menanggapi pertanyaan seorang wartawan yang menyinggung kemungkinan meningkatnya jumlah warga yang datang ke psikolog karena tekanan hidup sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).
“Aku bilang aku nggak khawatir. Kalau orang masih bisa merasakan stres, itu artinya dia masih sehat. Yang aku khawatirkan adalah kalau orang nggak lagi merasakan stresnya,” katanya melalui akun Instagram @lyafahmi pada Jumat (20/2/2026).
Lya menjelaskan, kemampuan merasakan stres justru menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki respons emosional yang wajar terhadap situasi yang tidak semestinya.
Ia menilai kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika masyarakat berhenti bereaksi. Dalam pandangannya, keadaan itu bisa mengarah pada fase learned the helplessness, ketika orang merasa tidak lagi memiliki kendali atas hidupnya dan memilih menyerah.
“Pada tahap itu, orang-orang berhenti berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka memilih cari selamat sendiri-sendiri, padahal sebagai bangsa kita maunya selamat bareng-bareng,” ujarnya.
Ia kemudian mempertanyakan apakah situasi saat ini sudah mengarah pada fase tersebut. Menurutnya, belum genap dua bulan memasuki 2026, publik telah dihadapkan pada berbagai peristiwa yang memicu kemarahan.
Namun, ia melihat respons masyarakat cenderung datar. Dalam hal ini, ia menyinggung kembalinya Ahmad Sahroni sebagai Wakil Ketua III DPR yang dinilainya memperburuk keadaan.
“Tapi dengan kembalinya Sahroni menjabat wakil ketua III DPR, negara kita ternyata masih bisa lebih terperosok sampai ke level yang nggak bisa aku bayangkan. Lalu, apa yang kita lakukan? GAK ADA!” jelasnya.
Lya menilai sikap diam tersebut membuat ketidakadilan seolah-olah tampak normal. Ia membandingkannya dengan fenomena learned the helplessness yang dalam kajian psikologi menggambarkan kondisi ketika individu merasa tidak berdaya setelah berulang kali menghadapi situasi negatif.
Ia bahkan menyebut kondisi sekarang bisa lebih mengkhawatirkan. “Seolah-olah ketidakadilan yang dipertontonkan dengan telanjang itu sesuatu yang normal saja. Maka, apakah ini masa-masa learned the helplessness itu?” ujarnya.
Ia juga menyoroti data kasus bunuh diri di sebuah kabupaten yang menurutnya meningkat tajam. Hingga Februari 2026, angka kejadian sudah mencapai empat kasus, sementara sepanjang 2025 tercatat tujuh kasus. Ia menilai lonjakan tersebut patut menjadi perhatian serius, bukan hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga provinsi dan nasional.
“Apakah para anggota dewan yang terhormat itu peduli pada hal ini? Oke, ini hanya pertanyaan retorika. Kita semua, bahkan diri mereka sendiri, tahu pasti jawabannya,” katanya.













